Selasar Madinah

"Boleh duduk disini?" pinta seseorang lelaki, nampak masih muda dan enerjik, tak lupa kacamata hitam menutupi matanya, sebagai penghalau sinar teriknya matahari Makkah siang itu.

Jam menunjukkan pukul 4 sore, namun panasnya masih seperti matahari hanya sejengkal dari kepala, kaca bus pun tak mempan menghalau sinarnya.

"boleh silahkan.." kataku mempersilahkan laki-laki ini duduk di sebelah.

Sepanjang perjalanan city tour ini kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya, mutawwif menyampaikan bahwa di sebelah kanan dari arah datangnya bus adalah Gua Hira, Gua Hira adalah suatu tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

"Jangan minta kesana ya bapak-bapak ibu-ibu... capai nanti. Itu tinggi sekali guanya.." kata Ustad Hudy, pembimbing umrah kami kali ini.

"Dengerin tuh.. Jangan kesana kalo nggak fit banget." sebelahku tiba-tiba nyeletuk.

Oh, sebelahku ada orangnya ternyata.

"Emang ustad udah pernah kesana?"tanyaku penasaran.

"Jangan panggil ustad, saya bukan ustad."

"Yaudah mas aja deh.. Udah pernah kesana tah? Emang itu tinggi banget? Tapi itu kayaknya banyak yang kesana. Banyak putih-putih itu..." tanyaku panjang lebar.

"Udah... sampai atas gempor. Lutut sampai nggak kerasa."

"Subhanallah.. Dulu pas Nabi Muhammad gimana ya...? Bisa sampai kesana..? Subhanallah..."

Entah setelah itu kami membicarakan apa, yang jelas diantara kami berdua tidak membiarkan waktu terlewat sia-sia begitu saja, sampai akhirnya...

"Mas udah nikah tah?"tanyaku penasaran.

"Menurut adek? Eh adek apa mbak ini saya manggilnya?"

"Apa aja deh..."

"Saya lulus 2014 dek, terus 2015 kesini.. mana sempatlah kepikiran nikah. Nikah itu bukan hanya ijab qobulnya aja, tapi kehidupan pasca itu, gimana urus rumah tangga belum nanti istri hamil, melahirkan, ngurus anak.. duh.... masih panjang.." katanya curcol.

"Hoooo.... kirain..."

"Kenapa memangnya.?"tanyanya penasaran.

"Nggak. Mau tau aja, kalo udah nikah itu istrinya disini atau di Indonesia. Gitu."Jelasku.

"Belum... belum nikah.."

"Bapak-Bapak Ibu-Ibu ini bisnya mau puter balik dulu, bapak ibu sabar dulu ya.."kata kak Hudy dengan nada serak serak khasnya.

"Eh gangnya kan sebelah sana, kenapa tadi ga turun seberang sana aja coba, kan bisa nyebrang terus jalan kaki."Kataku cerewet.

"Yaaah kan udah bayar sayang dong udah dibayar, keluar duit masih suruh jalan pula. Hahahaha...."katanya. Menyebalkan sekali orang ini, pikirku.

"Yaa kan hemat waktu. Waktu itu nggak bisa balik lagi, sementara duit bisa dicari."kataku masih ngeyel.

"Emang kamu nggak capek jalan kaki.."

"Aku mah dah biasa jalan kaki. Hmmmm..."

"Yaudah besok tak ajak jalan-jalan di Madinah ya.."

"Bener? Awas ya kalo sampai gempor. Tanggung jawab lho..!"

"Saya tanggung jawab kok.." jawabnya santai.

Yessss ada yang janji jalan-jalan di Madinah nanti.. Artinya nggak akan gabvt disana nanti. Orang ini... Asyik juga.. Tapi aku nggak tau siapa dia. Sekian banyak pertanyaan dan rasa penasaran akan siapakah gerangan laki-laki yang meminta sebelah tempat dudukku ketika di bus.?

Umroh kedua, sampai tawaf Wada, tidak ada komunikasi lagi dengan laki-laki misterius sebelah tempat duduk. Namun kehadirannya membuatku nyaman. Entahlah ada perasaan hangat ketika menatapnya dari kejauhan.. Semacam pengagum rahasia.

Saat tawaf kusempatkan untuk berdoa semoga perjalanan ke Madinah bisa berdekatan lagi seperti sebelumnya. Sehingga ku bisa mengenalnya lebih lanjut.

Namun, sekuat apapun kita berdoa, jika Allah menakdirkan untuk tidak, maka apapun keinginan kita tidak akan dikabulkan.

Perjalanan Madinah kala itu aku bersebelahan dengan ibu-ibu yang rajin sekali Tawaf.

Awalnya aku tidak duduk dengannya, namun dengan Safira, karena Safira masih balita dan ibunya duduk di depan, maka aku minta ibunya duduk dengan Safira dan aku ke depan. Rasanya sediiih banget ketika aku ada kawan duduk. Artinya nggak ada kesempatan untuk kenal dengan lelaki si bangku sebelah itu.

Perjalanan Makkah-Madinah menempuh waktu kurang lebih 7 jam. Semua Jemaah tertidur kala itu, termasuk aku. Sampai menjelang waktu magrib, kami semua turun untuk singgah shalat magrib qada dengan isya.

Tidurku memang istimewa, semiring apapun kepalaku aku tetap lelapnya tidur. Sampai akhirnya dia mengenaliku dan nyeletuk:

"Nyenyak banget bobonya, sampai miring-miring gitu. Hampir aja saya ambil fotonya."candanya sambil terbahak.

"Jahaaattt... ko ambil itu foto ha?" teriakku. 

"Hampiirrr... HAHAHAHAHA"

Aku cuma bisa bersungut-sungut.

Setelah selesai shalat magrib, semua kembali ke bus dan makan malam. Selama makan ibuk-ibuk sebelahku menghilang. Sampai aku kira dia hilang. Ternyata beliau ada bersama saudara-saudaranya.

Sempat terbersit harapan akan ada kesempatan bersama dengan Si bangku sebelah, namun lagi-lagi Tuhan berkata tidak. Ibuk-ibuk itu kembali ketika bus mulai berjalan.

"Loh buk tadi kemana?"Kataku basa-basi.

"Di depan. Tapi itu tempat duduknya ustad."

"Nggak papa. Biar nanti ustadnya disini sama saya."masih berusaha.

"Nggak lah disini aja." 

"Yaudah". Yaudah dengan nada kecewa.

Dari sini aku banyak belajar, seberapa kuat kita punya keinginan, seberapa besar kita berusaha untuk mendapatkan sesuatu tanpa didasari oleh tawakall, pasrah kepada Allah, tidak akan terjadi.

Setelah itu aku pasrah saja. Jika memang belum waktunya pasti tidak, jika memang sudah waktunya bagaimana rencana Allah pasti dipertemukan.


Benar saja.


Kuotaku menjelang sekarat waktu itu. Gara-gara si India. Aku penasaran dengan kebiasaan orang-orang India. Jadilah aku menghabiskan kuota 2GB untuk cari tahu seperti apa orang India ini. 

Aku sempat bertanya dengan tour leaderku saat itu gimana caranya nambah kuota.

Ternyata syarat untuk memperoleh kartu sim di Saudi cukup rumit, harus ada visa dan pasport, dan harganya juga relatif mahal.

Kemudian entah dari kerang sebelah mana, Si bangku sebelah ini muncul. Serasa dewa, dengan innocence celingak-celinguk mencari bangku di restoran hotel, ku sapa si dewa yang muncul tiba-tiba ini.

"Baru turun?"sapa ku.

"Iya. Adek udah makan?"tanyanya sambil duduk di meja sebelah.

"Mas, kuotaku mau habis, cara biar bisa nambah kuota gimana ya? Mahal gakpapa deh.."kataku memelas.

"Susah disini kalo mau beli kuota, mesti pakek visa. Udah tetring aja pake punya saya."

"Emang situ kuota banyak kah?"

"Tenang.. banyak bonusnya kok..."

"Alhamdulillaaahh...." kataku dengan mata berbinar.

"Oh iya, kemarin ada yang janji loh sama ku mau ajak jalan-jalan di Madinah.." kataku menagih janji.

"Hooo iya kah?"tanyanya. Nampaknya lupa.

"Hhmmmm lupa iya?"

"Yaudah deh yuk.. Mas tunggu di bawah ya."


Sejak setelah itu, selama 2 malam, kami menyusuri jalanan Madinah.. Mengelilingi sekitar Masjid Nabawi.. Yang masih tampak ramai meskipun malam mulai menjelang.

Malam kedua kami saling mengenal, bangku sebelah ini mengajakku makan malam. Selain karena jatah dari hotel pasti udah ludes, kebiasaan aku kalau habis ashar pasti baru pulang ke hotel habis isya, dan pastilah makan malam hotel habis.

"Kita ke Albaik ya.."ajaknya.

"Apa itu albaik?"

"Nanti juga tahu."

Jalanan kali ini lumayan agak panjang dan jauh.. Entah orang ini mau menculikku kemana. Aku iya iya aja.

Kemudian kami memasuki sebuah macam square gitu, mall tapi nggak terlalu ramai.

Albaik. Ayam macam K*C, namun dengan bumbu khas timur tengah yang disuntikkan ke jantung daging ayam. (sejak kapan daging ada jantungnya?)

Albaik ramai malam itu. Jadi kami memilih untuk take away.

"Tempatnya penuh banget. Kita cari bangku di luar aja ya...?"katanya.

"Mau dimana?"tanyaku bingung.

"Tadi di depan square lihat ada bangku nggak?"

"Lupa." kataku polos.

"Yaudah cari dulu deh yuk."

Setelah berjalan kesana kemari ketemulah rerumputan yang lumayan nggak bersih di sebelah gerombolan orang India makan dengan sembarangan.

"Disini aja gimana?"

"Yaudah gapapa."

"Maaf ya.. mungkin aku orang paling sembarangan yang ngajakin kamu makan di tepian jalan kek gini.,"kata si bangku sebelah merasa bersalah.

"Hahahaha santai aja."

Malam itu ditemani lalu lalang mobil dan obrolan orang India yang nggak tau juga ngomongin apa.. Kami menghabiskan setengah ekor ayam albaik.

Enak. Enak ayamnya dan yang nemaninya.


Yang paling penting. Gratisnya. 

Hahahaha...


Hari terakhir di Madinah, perjalanan ke Jeddah memerlukan waktu 7 jam. Tak ada harapan akan sebangku dengan si bangku sebelah. Semua sudah ku pasrahkan kepada Tuhan. Kalo memang Tuhan mengijinkan, inilah saat-saat terkahir aku mengenal dia. Mengenal sosok lelaki baik yang luar biasa untukku.

Sosok luar biasa yang kini ada pada tempat tersendiri dalam hatiku.

Bukan sebagai pasangan, namun sebagai teman baik, yang aku kenal di buminya Allah.

Sebagai sosok yang mengajariku banyak hal.

Mengenai keterlibatan Tuhan dalam setiap keputusan dan keinginan kita.

Mengenai rezeki yang perlu kita jemput.

Mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan.

Kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Namun kami ditakdirkan untuk saling mengenal satu sama lain.

Dia dikirim Tuhan untuk mengingatkanku akan adanya Tuhan.. Akan kebaikan Allah.. Tentang perlunya aku tahu tidak hanya Al-qur'an dan Hadist, tapi juga Ijtihad.



Terima kasih bangku sebelah. Jikalau kamu tak meminta tempat duduk di sebelahku. Mungkin aku tak mengenalmu.

Namun bagimu, jikalau aku tak kehabisan kuota, kita tidak mungkin saling mengenal.

You deserve better than me. But you, always in here 💙


Terima kasih atas waktunya selama aku di Madinah. Jalan-jalan menyenangkan di selasar Madinah,, Semua tersimpan rapih disini 💙



Madinah menjelang subuh








With Love,
Meta.

0 comments:

Post a Comment