Melawan Kerasnya Kehidupan

Jakarta, selain menyandang predikat Ibukota Negara Republik Indonesia, juga sebagai kota terkeras yang pernah gua tempati, atau bahkan mungkin kota terkeras yang bakal menjadi tempat tinggal gua sampai tua nanti.

Kerasnya ibukota tak hanya sebatas kerasnya fisik. Bertaruh waktu agar sampai kantor tempat waktu, atau berdesak-desakan di KRL Commuter Line atau metromini, yang tak jarang kekerasan fisik pun seksual menampar para pekerja perempuan.

Gua pernah salah satunya.

Betapa Jakarta tidak untuk orang yang lemah, nyata adanya.

Kenapa nggak cerita, kenapa nggak bilang? Karena orang yang mendapat pelecehan seksual, mereka cenderung takut dan malu. Orang yang mendengar cerita kita pasti akan bereaksi dengan menyalahkan. Iya atau iya? Kenapa nggak lo giniin, kenapa nggak lo anuin..? Orang yang ketakutan, mana bisa mikir sampe situ, mb?

Beberapa hari ini, berita dimana-mana menceritakan tentang seorang perempuan yang digerayangi oleh penumpang pria di CL. Yang gua rasakan? Kasian. Mbaknya udah trauma, masih dihakimi oleh sejagat penghuni dunia maya, yang bahkan kebanyakan mereka yang menghakimi adalah.... perempuan juga.

Perempuan itu lebih jahat ke sesama perempuan.

It's true. 

Di dunia per-KRL-an pun, gerbong khusus wanita adalah gerbong terhoror dari seluruh rangkaian kereta yang ada.

Dear mbak-mbak di luaran sana, bisakah kalian menaruh simpati lebih kepada yang bejenis kelamin sama dengan kalian?

They need your support instead of judgment.

Sama halnya yang gue alami. Gue pernah ada masalah yang cukup membuat gue depresi dan hampir gila. Pernah gue ceritain disini.

Masalah itu serius bagi gua, tapi sepertinya nggak buat temen-temen gue. Jadi mereka menganggap itu sebagai jokes yang layak untuk ditertawakan.

Dan teman itu, perempuan.

Perempuan lebih jahat ke perempuan ✓

Gue nggak tau apa yang ada di pikiran mereka, tidakkah mereka seharusnya mensupport gue untuk bisa bertahan lebih kuat lagi, alih-alih mencemooh.

Siapa yang mengira bahwa orang yang dikiranya baik justru berbalik arah?
Siapa yang mengira bahwa orang yang gue pikir bisa sayang sama gue tulus, bahkan berniat untuk membunuh gue?
Siapa yang bakal tahu, bahwa nyawa gue hampir aja ilang dalam hitungan sepersekian detik?

Nggak ada yang bakal tahu. Sekalipun gue.

Siapa yang mau hidup dengan seperti itu. No one. Including me.

Kalo gue bisa minta, gua bakal minta hidup seperti kalian wahai orang-orang yang sempurna.

Atau mungkin, gue yang notabene orang desa, yang nggak tau gimana menghadapi kerasnya Jakarta? Atau mungkin guenya aja yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan Jakarta? Atau guenya aja yang terlalu lemah dengan kerasnya kehidupan di Jakarta? Sehingga jokes-jokes yang melibatkan hati dan psikologis merupakan jokes yang wajar?

.
.
.
.
.
Menurut kalian?

0 comments:

Post a Comment