A Moment to Remember: 7 Days In Baitullah

Salah satu bucket list saya yang nggak tertulis di blog ini di setiap akhir atau awal tahun adalah mengunjungi Baitullah.

Sejak tahun lalu, sebenernya udah ada keinginan untuk umroh, dana pun ada tapi mungkin yang dikatakan orang-orang mengenai "panggilan" itu benar adanya.

Akhirnya, panggilan itu sampai kepada hati saya di tahun ini.

Dua ribu tujuh belas.

Alhamdulillah Hirobbil'alamiin..

So, let me tell you about my bucket list :) 

Pernah denger tentang kasusnya Fi*st Trav*l?

Yak! Salah satu peristiwa yang cukup membuat orang-orang mampu di Indonesia berfikir 1000x lipat untuk menentukan travel mana yang cocok dan amanah.

Tak terkecuali saya, anak muda yang engga tahu apa-apa, punya keinginan untuk berangkat ke Baitullah ketika kasus *T sedang hangat-hangatnya. Takut, pasti. Khawatir, iya. Apalagi ditambah dengan cerita bahwa calon mertua kawan sekamar (dulunya) juga merupakan korban *T. Sekian puluh juta raib.

Takut dong pasti jelas. Mana kita punya uang carinya pake berdarah-darah kan... Heeee...

Kemudian bermodal google, saya searching nama-nama travel kemudian cari yang sekiranya dekat dengan tempat tinggal dan kantor.

Masuk sekitar 5 travel yang ada di daerah Bintaro dan Ciputat.

Karena masih ragu, saya mencari daftar travel yang terdaftar di Kemenag.

Saya baca itu attacment .pdf satu-satu.

Ternyata banyak sekali ya travelnya. Namun saya menfokuskan pencarian ke nama 5 travel yang udah saya kantongi itu.

*ribet yeuh*

Setelah scroll-scroll itu daftar panjang, saya mengerucut ke Arfa Tour yang ada di Bintaro sektor 7. Kawasan elit euy. Wkwk.

Setelah itu datang tanya-tanya bla bla bla, okelah cocok pake Arfa aja. Mbak dan Masnya juga ramah. Dataku belum lengkap aja ditanyain mulu suruh buruan.. Wkwk.

Tapi ongkos nggak ditagih-tagih mulu kok alhamdulillah..wkwkwk.  gak kayak ibuk kontrakan yang gajian aja belom udah ditagihin mulu. BHAY!!

Aku daftar sekitar bulan juli, setelah itu ngurus paspor, vaksin, dan apalagi yaaaa yang diperluin?? Kayaknya itu aja. Batas pengumpulan dokumen sekitar awal oktober karena saya ambil pemberangkatan tanggal 8 November yang sedianya tanggal 13 November.

Gapapalah. Gak ada agenda pun dari kantor.

Dokumen yang diperluin apa aja sih?

Sok cek aja ke web-nya Arfa iya, 

http://arfahajiumroh.com/

Yang paling penting, passportnya 3 nama. 


***

Persiapan yang serba mendadak.

Pemberangkatan tanggal 8 ini ternyata membuat saya sedikit terburu-buru. Banyaknya kegiatan kantor plus tugas-tugas kuliah membuat saya sedikit kewalahan membagi waktu. Ujian saya keteteran, dinas-dinas nggak maksimal, persiapan pemberangkatan aja cuma paling 30% aja karena saking padatnya kegiatan.

+ sakit.

Iya, sehari sebelum berangkat saya ke dokter THT karena telinga sempet berdengung sejak landing dari Banyuwangi. Sempet dilarang untuk terbang sama dokter cuma ya gimana dok saya udah terlanjur harus pergi.

Akhirnya obat ditambahin hingga nominal hampir 1juta.

OMG. PADAHAL ITU KAN BUAT SANGU.

Its okelah daripada akunya kenapa-kenapa.

Let's go to due date.

Bapak yang sedianya mau nganterin sampai bandara pun harus batal karena belio juga kesehatannya sedang menurun, akhirnya berangkat hanya ditemani adik. :) :) :)

Padahal yang lainnya yang nganterin sak ndayak dan saya cuma sama adek.

Ndakpapa. 

Saya terbang menggunakan pesawat Saudi Airlines. Perjalanan menuju King Abdul Aziz Airport menempuh perjalanan sekitar 9 jam, dengan perbedaan waktu Saudi dengan Indonesia kurang lebih 4 jam. Indonesia lebih cepat tentu saja.


Kami landing di Jeddah sekitar jam 2.30 pagi waktu Saudi, checking paspor lumayan agak lama karena orang-orang imigrasinya ini super selawww. Jadi ada beberapa counter yang petugasnya nggak ada, petugasnya lagi curhaat. Jadi kita-kita ini harus punya kesabaran yang luber-luber.

Setelah check paspor selesai, kami disuruh menunggu entah apa sampai sekitar jam 6. Selama menunggu itu kami dikasih makan. Baik. Setengah 6. Makan berat. Baik.

Setelah itu berangkat ke Makkah kita, sekitar jam 8 kami sampai hotel. Disuruh makan. Lagi. 

Pokoknya di Makkah itu isinya makan aja dah pokoknya, selain beribadah tentu saja. Wkwkwk.

Mecca o'clock. The Holy Kaaba is near.

Setelah makan kami melakukan ibadah umroh.

For the first time i see the Kaaba. I am crying. Literally crying. I can see the Kaaba with my own eyes. I can see the Holy Kaaba, i can touch it with my own hand where it is only in my previous imagination. I still cannot believe that i can see it directly. 

Alhamdulillah.

Sebenarnya umroh ini ibadah yang cape banget, serius, berkali-kali rasanya mau nyerah, berkali-kali rasanya mau nangis karena saking capenya, saking engga kuatnya. Tapi semua itu rasanya sirna begitu melihat sekeliling. Banyak orang-orang tua yang dengan semangatnya mereka lari-lari kecil ketika sya'i. 

"dan stamina mu cuma segini Ta?" dalam hati begitu. "nggak malu sama nenek-nenek disamping?"

Seketika kekuatan yang tadinya melemah langsung ter-charge full.

I can do this!

Dan perjuangan berakhir dengan counterpain di sekujur tubuh ketika mau tidur.

Berdasarkan inilah saya merekomendasikan siapapun yang telah mampu, untuk segera menyisihkan pundi-pundinya untuk berangkat ke Baitullah, jangan tunggu tua, karena ini capai sekali. 

4 hari di Makkah benar-benar 4 hari yang luar biasa. Nggak akan terlupakan seumur hidup.  4 hari rasanya masih kurang, inginku menambah hari disana. Meninggalkan Makkah adalah perpisahan paling sedih menurut saya. Rasanya masih ingin disana lama-lama. Nggak pernah saya merasakan ibadah yang setenang dan sedamai di Makkah. 

***
Another experience in Makkah

Out of topic, 

Ada pengalaman menarik selama di Makkah. Jadi, saya itu makan bareng sama orang India. And do you know, mereka itu makan menggunakan piring penjara (saya menyebutnya begitu), karena ada trauma tersendiri dengan piring penjara itu. Bukan karena saya pernah di penjara, bukan. Itu karena Brigade Energy (ceritanya menyusul yaaa..).

Saya pikir kita bakalan makan dengan piring penjara tadi, saya udah ketakutan setengah mati dan kalo makannya pake itu saya nggak akan makan di hotel.

Namun alhamdulillah makanan Indonesia masih selayaknya makanan Indonesia. Dengan piring cantik dan makanannya Indonesia banget, dan piring penjara itu hanya untuk Indians saja.

Kemudian makanlah saya gabung dengan Indians ini. Masha Allah ya, cara makan mereka. Luar biasa. Berantakan. Dan membuat mual. Tangan 5 masuk piring semua, tulang sapi (atau kambing?) berantakan di meja, kuah sayur tumpah-tumpah. Subhanallah.. 

Dengan kejadian itu membuat saya bersyukur sejuta kali telah dilahirkan di Indonesia, khususnya Jawa yang menjunjung tinggi unggah ungguh dan tata krama yang kental. Bayangkan, cuma mau ngasih nasi ke tetangga, kalo ngomongnya salah aja aku diomelin sama bapak dan suruh latihan dulu.

"hayo gimana ngomongnya..?"

"bude, niki maringi daharan..?"

"NGAWUR!! NGATURI BUKAN MARINGI. coba ulangi."

..... baik. 

***
3 days in Medina.

21⁰ suhu di Madinah pagi hari menjelang winter, cukup bikin kulit kering pecah-pecah dan bibir pecah-pecah pula. Karena persiapan yang serba mendadak jadinya lipbalm ketinggalan :(.

Di Madinah, dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi, tempat dimakamkannnya Nabi Islam Muhammad SAW, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua Agama Islam setelah Makkah. Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan Hijrah dari Makkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibukota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langsung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali. Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang. Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain. Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah Al-Quran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang nampak perbedaannya dengan surah Makkiyah. Seperti kota Makkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah. (source: Wikipedia)


Me in front of Nabawi Mosque.
Khasnya Masjid Nabawi adalah payung-payung yang ada di halamannya, yang terbuka setelah subuh dan menutup setelah ashar. Melihat payung ini terbuka adalah moment yang luar biasa.

the umbrella

Di Madinah.. disinilah pertama kali makan Albaik!! Nggak tau albaik? Go ask uncle Google :).
albaik

Tiga hari di Madinah, menjadi penanda bahwa perjalanan ini harus usai. Harus kembali ke tanah air untuk menumpuk pundi-pundi dan harapan supaya suatu hari nanti bisa ke Baitullah lagi.

Di hari pulang, saya benar-benar menangis. Banyak hal, diantaranya rasa nggak percaya bahwa saya bisa sampai ke Rumah Allah, rasa ingin lebih lama disana, rasa haru, bahagia, sedih yang nggak bisa diungkapkan dan menghasilkan air mata sepanjang perjalanan ke Bandara.

Doa sepanjang jalan, semoga dimudahkan untuk kembali lagi, dengan keluarga kecil saya, dan/atau keluarga besar saya. Semoga....




Dan semoga perjalanan ini menjadi tolok ukur kami untuk menjadikan kami sesorang yang lebih baik dari sebelumnya, lebih khusyu' sholatnya, lebih rajin ngajinya, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih sabar, lebih ikhlas, dan hablumminannas kami menjadi lebih baik. Inshaa Allah :)






the last..
Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada Arfa Tours, Pak Slamet, Kak Hudy dan team yang telah membimbing kami, memudahkan urusan kami, membantu kami sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci, dan setelah sampai kembali ke Indonesia. Beribu-ribu terima kasih saya ucapkan semoga Arfa tour, pak Slamet, kak Hudy dan Team, senantiasa amanah, barokah, diberikan selalu kemudahan dalam setiap urusan, diberikan kesehatan dan sukses dunia akhirat. Semoga kita dipertemukan kembali di lain kesempatan. Semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berlimpah ruah kepada kita semua. God Bless You all  :)))))).










With love,
Meta.

0 comments:

Post a Comment