Lupa Bersyukur

"Ting ting ting....."


Terdengar suara mangkok dipukul dengan sendok. Aku yang sedang sibuk memainkan handphone pun menengadah. Sejenak melihat bapak-bapak paruh baya menarik gerobak bakso yang dagangannya nyaris utuh. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 14.30.

Aku hanya menatapnya. Memperhatikan beliau yang tampak enjoy menarik gerobak alih-alih mendorongnya. Beliau menyapaku, "Bakso neng...?" Aku menggeleng, sambil lirih ku bilang tidak. Dada terasa panas dan sesak. 

Bukan apa-apa, aku sedang puasa. Tapi kalau sedang tidak puasa pun saya sering mengabaikan mereka.

Beberapa meter, seorang bapak sol sepatu melintas. Dengan pakaian lusuh beliau menggendong kotak tempat sol sepatu dipundaknya. Nampak tak berat namun terlihat beliau kecapaian. Ditengah teriknya matahari yang beberapa hari ini bersinar agak tak seperti biasanya, beliau yang tak lagi muda ini masih semangat untuk menjajakan jasanya. Beliau-beliau inilah para pejuang kerasnya Jakarta yang sebenarnya, mengadu nasib berharap sukses seperti orang lain.

Mungkin takdir berkata lain. Mereka masih harus berjuang untuk mengisi perut anak istri mereka.

---

Sementara saya, duduk manis dibawah pohon menunggu seporsi tahu gejrot sambil scroll-scroll instagram. Saya yang kadang mengeluh jika harus tidur larut malam. Saya yang masih bisa menikmati tidur di kamar hotel bintang lima gratis. Saya yang kalau bepergian jarang kehujanan.

Saya yang masih sering mengeluh dengan rezeki yang sudah di depan mata. Tanpa saya minta, tanpa saya sebutkan. Tuhan memberikan dengan cuma-cuma, yang kadang saya lupa untuk bersyukur.


Selepas sampai rumah. Saya menitikkan airmata. Dada terasa sesak, mengingat pemandangan siang tadi. Orang kadang lupa untuk sekedar berterima kasih. Berterima kasih kepada yang Maha Memberi. Orang kadang terlalu melihat keatas, lupa untuk melihat kebawah.

Menurut kita, yang notabene manusia biasa, hidup memang tak adil, ada orang yang berjuang mati-matian untuk sesuap nasi hari ini, ada yang tajir melintir hasil kerja orang tua atau menikah dengan pengusaha super kaya. 


Akhirnya hari ini saya habiskan dengan bersyukur sebanyak-banyaknya karena saya bekerja tak perlu berpanas-panas ria, pulang kerja ada rumah yang cukup nyaman. Terlebih, ada seseorang yang dengan setia mendengarkan keluh kesah saya.

Mungkin orang-orang di jalanan tadi adalah pengingat kita untuk tetap bersyukur atas apa yang sudah kita capai, meskipun godaan cemburu begitu besar kepada mereka yang memiliki lebih tak dapat dipungkiri.


Namun banyak cara untuk bersyukur, Tuhan memberikan banyak hal yang bisa kita syukuri dengan berlebih. 



0 comments:

Post a Comment