Jogja, Dulu dan Kini


Tinggal di Kota Yogyakarta adalah suatu ketidaksengajaan bagi saya. Kehendak Tuhanlah yang membawa saya menetap di Yogyakarta selama 3,5 tahun.

Selama 3,5 tahun, Yogya benar-benar membuat saya jatuh cinta. Kepada keramahan warganya, kepada suasananya, kepada adat istiadat, dan kepada setiap sudut kotanya.

Yogya mengajarkan saya arti syukur dan ikhlas. 6 tahun yang lalu, ego seorang anak lulusan SMA ngehe menginginkan Ibukota menjadi tujuannya menuntut ilmu. Namun, takdir Tuhan memaksanya bertahan di Kota Pelajar, Yogyakarta.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." [Q.S. Al-Baqarah 2: 216]

Petikan ayat diatas sungguhlah sahih. Saya mengalami dan Yogya adalah bagian dari proses saya mengerti arti ikhlas.

Sepanjang 3,5 tahun saya menimba ilmu di Yogya, ternyata tak cukup untuk mengeksplorasi seluruh tempat yang menarik di Yogya. Dan seiring berkembangnya jaman, kini Yogya mulai berbenah.

Dari kawasan malioboro yang dulu kanan-kirinya penuh kendaraan bermotor, kini fokus sebagai area pedestrian.

Malioboro kini
(source: bintang.com)
Dilengkapi dengan bangku-bangku cantik, semoga malioboro kini dapat menarik minat pengunjung, dan mereka tetap menjaga malioboro tetap cantik.

0 kilometer yang kini cantk juga, padahal dulu, samping kiri kanan jalan penuh dengan parkiran motor..
Isunya, sepanjang jalan malioboro akan steril dari kendaraan bermotor, artinya kawasan ini akan menjadi pusat pedestrian. Semoga saja tidak hanya menjadi wacana.

0 kilometer Yogyakarta
(source: brilio.net)
Yogya kini banyak tempat wisata, padahal ketika saya menetap di Jogja tempat wisata hanyalah Parangtritis, pantai di kawasan Gunung Kidul, dan Kaliurang.  Bahkan, Hutan Pinus Imogiri tak se-hits saat ini.

Hutan Pinus Imogiri Tahun 2013
(sumber: dokumen pribadi)

Jogja dengan segala adat budayanya, upacara pernikahan GKR Bendara menyambut tahun pertama saya menetap di Jogja dengan kirab dan meriahnya adat Keraton Jogja. Angkringan gratisan sepanjang Malioboro juga kami (para mahasiswa) menambah semangat kami menyaksikan upacara adat ini.

Kirab Pernikahan GKR Bendara
(source: Viva)
Selain pernikahan GKR Bendara, kesempatan untuk hadir di tengah-tengah peringatan HUT Kabupaten Sleman turut membuat saya kagum dengan semangat para warga Sleman untuk tetap bertahan dalam formasi meskipun hujan mengguyur.

Tetap semangat !
Jogja adalah kota sejarah. Banyak kejadian bersejarah yang terekam dalam bingkai-bingkai foto dan replika dalam museum Jogja Kembali. Selain adat istiadat yang kental, pengetahuan sejarah juga akan menambah wawasan dan menambah rasa kecintaanmu terhadap kota Yogyakarta.

koleksi Museum Jogja Kembali
(source: tempat.co.id)


Keindahan candi-candi yang masih berdiri kokoh pun menambah suasana bersejarah kota Jogja, dan berburu sunset adalah kegiatan yang sangat dinantikan di Candi Ratu Boko.

Tempat favorit berburu sunset
(source: dokumen pribadi)

Tak hanya tempat tertentu yang dapat digunakan untuk mencari spot foto, di tepian jembatan sayidan, hingga bantaran kali code yang kini jadi kampung warna-warni pun dapat dijadikan sasaran bidikan para pecinta fotografi.


Jembatan Sayidan
(source: mapio.net)
Kampung Warna-Warni di Bantaran Kali Code
(smetami.ba)

Terakhir, icon kota Jogja, Tugu Pal Putih. Belum ke Jogja kalau belum foto di Tugu Pal Putih, katanya. Tugu Pal Putih, dulu tak secantik sekarang. Sisi-sisinya hanya dilapisi paving tanpa pembatas antara jalanan di sekelilingnya. 

Sekarang, di sekitar Tugu Pal Putih terdapat taman mini yang menambah keanggunan Tugu serta memberikan batas antara Tugu dengan jalan dan pembatas antara pengunjung Tugu supaya tidak langsung menyentuh Tugu. 

Saat ini pun, perawatan Tugu menjadi dipersering supaya kecantikan Tugu Pal Putih tetap terjaga.

Tugu Pal Putih
(source: GNFI.id)


Jogja dulu, jogja sekarang tidak jauh berbeda, tetap mempesona, tetap dirindukan bagi mereka yang merasakan kedamaian akan kota dan suasananya.

Urusan perut pun semua orang akan dimanjakannnya, mulai dari makanan khas -gudeg-, makanan pinggir jalan -angkringan-, hingga makanan western akan memanjakan lidah para pemburu kuliner.

cafe tiga ceret
(source: qraved.net)

Harga makanan yang cukup memanjakan dompet pun semakin membahagiakan mereka, kaum-kaum backpacker dan kaum-kaum perantauan.


Masih banyak sudut kota Jogja yang perlu dikunjungi, dinikmati, serta dilestarikan. Bertahun-tahun lamanya, mengorek setiap sudut jogja tak akan ada kata puas. Hingga hari ini, Jogja masih menjadi kota yang saya rindukan, karena separuh hati saya masih tertinggal di Jantung Kotanya, Yogyakarta.



Meskipun tak lama menempati kotanya, Jogja mengajari saya berbagai hal, hingga saya merasa Menjadi Jogja Menjadi Indonesia.







with love,
meta.

0 comments:

Post a Comment