Masih Kuat Sama Jarak?

"nih pesananmu." kataku sambil menaruh green tea latte pesanan Ranu. Aku duduk disampingnya sambil menikmati segelas caramel machiatto ukuran grande. "thanks, ta. lo pesan apa?"tanyanya kemudian seraya menyeruput minumannya.

"machiatto lah. lo kayak baru kenal gue kemarin aja."lanjutku.

Ranu diam saja. Dia terlihat bingung. Berkali-kali dia mengecek jam di tangannya.

"kuat ya lo, ama jarak yang segini jauh?" kataku membuka percakapan dengan Ranu yang daritadi gelisah. "Jarak menjadi masalah ketika lo meragukan kepercayaan ta." katanya sambil menatap mataku lekat-lekat kemudian mengelus kepalaku.

aku diam, menyalakan rokok. kami memilih tempat duduk di ujung ruangan smoking area starbucks stasiun gambir, karena selain hobby kami merokok, ruangan dibawah juga sudah penuh oleh pengunjung yang entah menunggu kereta atau sekedar menuggu kerabat.

Aku dan ranu. berteman sejak kami duduk di bangku smp. semua tingkah polahnya aku sudah kenal. kebaikan dan keburukannya sudah bukan menjadi pr lagi, melainkan sudah hafal di luar kepala. aku menyayanginya. aku menyayangi pria yang mengenakan jam daniel wellington pemberianku di hari ulang tahunnya tahun lalu. jam yang kubeli dengan tabunganku sendiri.

"bentar ya ta." ranu pamit keluar starbuck, kulihat dia menghampiri petugas stasiun, memandang layar lcd dan melihat jam lagi. dia tampak gelisah. berkali-kali juga ia mengecek layar ponselnya, namun tak lama ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

tak berapa lama, ranu kembali ke tempat duduknya. "lo kapan berenti rokok sih ta." sambil meraih rokokku. ku pikir akan dibuang, ternyata dihisapnya juga.

"lo yang ngajarin gue rokok, lo duluan kapan mau berenti."

ranu tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. ranu memang selalu begitu.

"jadi, udah mulai terbiasa sekarang?"

"dibiasain lah ta. toh masih bisa telfon, atau facetime. chat juga kan tiap hari."

"nggak pengen ketemu gitu."

ranu tak menjawab. dia menghabiskan rokoknya -yang sebelumnya rokokku- sebelum membuangnya di asbak yang sudah tersedia di meja cafe.

"gimana pendapatmu tentang jarak?"lanjut ranu.

"gue hampir nggak percaya jarak bisa mempertahankan sebuah hubungan, nu. tapi gue percaya lo bisa mematahkan kepercayaan gue. apa sih yang lo tunggu.? tinggal selesein skripsi, terus nikah. itu kan nggak lama. selesai kan?"

"seandainya semudah yang lo bilang, ta."

"kenapa jadi lo yang nggak yakin? buktiin kalo kepercayaan, bisa mematahkan jarak ratusan kilometer." kataku sambil memegang tangannya erat. meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

beginilah aku dan ranu, saling menguatkan dan saling meyakinkan. dia selalu telefon tiap malam, selalu ada ketika aku butuhkan. 

aku menyeruput kembali machiatto pesananku, di waktu yang sama terdengar pengumuman dari stasiun besar di Jakarta ini. ranu buru-buru menghabiskan green teanya dan memasukkan kembali rokok sebelum dia sempat menghisapnya.


ranu mengalihkan pandangan, tampak mencari-cari sesuatu.

dari kejauhan, ku lihat sesosok perempuan dengan perawakan nyaris sempurna, tinggi, langsing, dengan rambut tergerai indah, rapi, tak menampakkan sisi berantakan, meskipun baru saja menempuh perjalanan 12 jam.

"hai... lama menuggu? maaf ya agak nggak sesuai jadwal dikit." sambut perempuan itu sambil memeluk dan mencium Ranu.

"Hai.. kabar baik Ta?" Perempuan ini langsung menyambutku dengan pelukan dan mendaratkan pipinya di pipiku begitu melihatku.

"Baik, Sya.. Kamu? Bahagia bener keknya?" jawabku.

Perempuan bernama marsya ini hanya tersenyum.

"yuk.." Ajak Ranu sambil menyambar koper marsya. Marsya mengikuti ranu dengan menggandeng tangannya.


Aku sedikit memberikan jarak diantara keduanya. Terlihat asyik mengobrol dan tertawa bersama, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.



"Seandainya semua berjalan sesuai apa yang gue mau.. Tapi persahabatan kita lebih berharga dari sekedar apa yang gue inginkan, Nu.."


Dengan sedikit berlari kususul mereka yang mulai menjauh..


"Gue tau, lo bahagia sama marsya."

0 comments:

Post a Comment