Gaduh (Ribut-Ribut Pilkada sampai Afi Nihaya)

Back to write. Setelah lama berdiam dari dunia blog, dan terlalu banyak urusan dunia nyata yang butuh perhatian lebih, membuat saya ingin mengungkapkan beberapa hal yang selama ini hanya ada dalam pikiran.

Beberapa waktu lalu, negara ini ribut-ribut tentang pilkada, yang berujung dengan banyak aksi-aksi dari kaum sebelah. Pilkada DKI kali ini gaduh sekali. Teramat gaduh, hingga tak sedikit headline berita yang menimbulkan panas di dada. Tidak pernah sebelumnya saya semarah ini hanya karena membaca headline berita.

Penistaan Agama. Saya nggak paham, apa sih yang disebut dengan penistaan agama? kalimat saya ini pasti akan menimbulkan peperangan jika misal saya lempar ke facebook. Yang saya tahu Bapak Ah*k tidak menistakan agama. Beliau hanya salah mengucap. Saya pun menyesalkan, seharusnya bapak itu tidak berkata demikian. Bukan kapasitas beliau untuk membicarakan perihal yang bukan agamanya. Tapi tidak seharusnya bapak itu mendapat hukuman seperti ini. Penjara 2 tahun. Setelah apa yang beliau lakukan terhadap Jakarta?

Its not fair.

Beliau sudah kerja keras mati-matian untuk Jakarta. Lalu, ini balasan warga Jakarta untuk pejuangnya? 

Peribahasa Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga, nyata adanya. :(

Saya tidak yakin, penerus beliau akan lebih baik dari beliau. Boleh taruhan.


Pilkada sudah berlalu hampir 2 bulan, kubu sebelah sudah menang, dan yang lebih menyedihkan, kaum-kaum itu masih saja menyebut "pendukung penista agama" Astaghfirullah. Beliau sudah di penjara pun, kata-kata penistaan agama masih saja disebut? Negara ini sudah sakit!

Stop ribut-ribut pilkada, muncul anak daerah asal Banyuwangi bernama Afi. Afi dan kebhinekaannya. Banyak yang mendukung, banyak pula yang mencaci karena kebhinekaannya dikaitkan dengan Bapak itu.

Dari awal tulisannya viral, saya tidak terlalu respect dengan Afi-Afi ini. Hingga muncul pemberitaan bahwa dek Afi ini melakukan plagiarisme. Kemudian, baru-baru ini saya membaca tulisan permohonan maaf dek Afi melalui facebook

Saya sedikit terusik dengan kalimat "orang ramai-ramai menulis tentang saya, padahal kenal saja tidak". Saya, kami yang menulis tentang kamu, Afi memang secara personal kita tidak saling mengenal, tapi tidakkah kamu tau, melalui tulisan kamu itu orang akan "kenal" dengan kamu. Dengan tulisan kami, para blogger, para penulis, atau yang hobby menulis akan saling mengenal melalui tulisan kami masing-masing.

Mungkin dek Afi tidak sadar beberapa tulisan tentang dia adalah bentuk perhatian kami, -para blogger- untuk dek Afi. Supaya dek Afi mengerti dunia linguistik, dan paham mengenai dunia tulis-menulis. Seperti tulisan mbaknya ini di platform kompasiana

Jadi dek Afi, kamu harus siap dengan konsekuensi menjadi penulis. Karena tidak semua orang setuju atau sependapat dengan apa yang kita tulis. Dek Afi bisa menulis harus bisa menerima berbagai reaksi dari pembaca.

Kemudian saya membaca beberapa blog yang mengulas tentang plagiarisme yang dilakukan Afi, hampir semua tulisan Afi meng-copas. Dari Belas Kasih Agama Kita, sampai yang mengutip dari buku chicken soup. Mungkin memang Afi sudah sering menulis dari dulu, tapi yang jadi aneh buat saya, ketika itu tulisan dimuat di suatu platform kenapa tidak mencantumkan author? Jika memang itu tulisan pribadi, seharusnya ketika tulisan diupload dengan akun lain bisa ditambahkan vitur copyright (©). Cmiiw.

Dalam permohonan maaf Afi, Afi masih sempat bertanya "sebegitu besarkah kesalahan saya?" mungkin jika dari awal Afi jujur dan mengakui bahwa itu bukan murni tulisan Afi, akan sedikit ada pengampunan dari para pembaca.

Oh iya, dari tulisan Afi yang berjudul Warisan, saya mau berpendapat sedikit. Agama itu bukan warisan. Pun, warga negara. Agama itu pilihan, pun warga negara. Buat apa ada orang pindah agama ketika akan menikah dengan pasangan yang beda agama? Buat apa berbondong-bondong orang menjadi mualaf? Karena kepercayaan. Karena kita belajar. Karena kita berfikir, mencari tahu agama mana yang menurut kita benar. 

Kita dilahirkan tanpa agama, orang tua memilihkan agama untuk kita, seiring kita tumbuh dewasa, kita belajar apakah Yesus benar-benar Tuhan atau Allah, Tuhan yang Maha Esa?

Warga negara, banyak orang yang pindah kewarganegaraan, Afi. Kalo memang warisan, Anggun tidak mungkin menjadi WN Perancis kan?

Jadi banyak membaca ya Afi, jadi penulis itu juga harus jadi penbaca. Penulis yang baik adalah penulis yang banyak membaca. Tanpa membaca kita tidak akan bisa menulis.

Semangat Afi! Waktu saya seusia kamu, saya hanya mampu menulis di binder, tanpa berani mempublikasikan. 






cmiww

0 comments:

Post a Comment