Ikut KI Lagi

Berbagi tidak harus berupa materi. Bisa saja ilmu pengetahuan dan pengalaman. Setelah berhasil melewati Kelas Inspirasi Purworejo, saya tertarik untuk bergabung dengan Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY) #5. Kenapa? Selain ingin kembali ke Jogja, saya tertantang karena isu yang menyebar susah untuk lolos KIY. Maka pemikiran awam saya, yang lolos KIY adalah orang-orang terpilih dan sudah tentu orang-orang yang hebat.

Setelah dinyatakan lolos sebagai relawan pengajar di KIY, exited jelas dong. Namun karena kesibukan di kantor membuat saya tidak bisa menyiapkan bahan ajar yang menarik seperti yang saya lakukan sewaktu ikut KIP #1. Waktu itu saya membuat puzzle yang nantinya anak-anak susun bersama-sama. Puzzle itu berisi mengenai Hemat Energi, slogan yang selalu dibawa oleh tempat saya bekerja.


Kelas inspirasi kali ini saya disatukan dengan teman-teman yang berprofesi sebagai camera person, lawyer, social worker, dosen, dan illustrator. Kami berada di Kelompok 22, SD Pringtali Girimulyo Kulon Progo. Kelas Inspirasi Yogyakarta kali ini mengambil tema "bermimpi tanpa batas" dan mengambil Sekolah yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun berada di daerah perbatasan tidak menjadi halangan untuk memiliki mimpi setinggi langit.


Jumlah relawan kali ini lebih sedikit dari KI yang pernah saya ikuti sebelumnya karena banyak yang mengundurkan diri. Banyak banget. Oleh karenanya tim jadi lebih bekerja keras dari sebelumnya, masuk lebih banyak kelas dari yang seharusnya.


Kedepannya untuk Kelas Inspirasi, agar memastikan relawan yang lolos adalah relawan yang pasti bisa hadir saat Hari Inspirasi. Karena kalo udah lolos dan nggak bisa ikut hari inspirasi selain menyusahkan untuk relawan lain, kasian yang sungguh-sungguh ingin ikut KI namun nggak lolos. Mungkin dibikin pinalti aja kedepannya, jika lolos namun mundur dari hari inspirasi relawan tersebut membayar sekian ratus ribu, dan uang denda tersebut digunakan untuk donasi kepada sekolah sekolah yang membutuhkan bantuan buku atau apapun untuk kegiatan sosial.


Kembali ke cerita saya, heeeeee.....

Walaupun dengan  keterbatasan, saya berangkat di Hari Inspirasi dengan harapan semoga anak-anak tetap terinspirasi dengan apa yang saya sampaikan di kelas.

Saat Hari Inspirasi, saya masuk hampir di semua kelas kecuali kelas 1. Dari keseluruhan kelas yang saya ajar, masing-masing kelas memiliki karakter yang berbeda. Kelas paling gaduh ada di kelas 3, kelas yang paling saya suka di kelas 4, meskipun ada kejadian yang diluar kendali.


Ada anak yang nangis.


Iya.


Nangis karena di bully oleh kawan-kawannya karena anak ini pernah menonton dan menyimpan video porno. Ok. Sedih, miris, salah saya waktu itu tidak langsung mengalihkann perhatian mereka ke hal lain yang menyenangkan. 


Tapi point saya bukan pada kesalahan saya.


Coba ditelisik lagi. Anak kelas 4 menonton dan menyimpan video porno. Ini adalah hal baru buat saya. Dengan anak yang masih belia seperti dia, harus teracuni hal negatif sejak usia mereka bahkan disebut remaja aja belom pantes. Lalu gimana gedenya?


Beginikah generasi sekarang?


Yang waktu saya seusia mereka orang-orang yang seusia saya sekarang selalu bilang "masa depan bangsa ada di pundak kalian."


Kalo masa depan bangsa berada di pundak anak-anak yang sudah menyimpan video porno, mau jadi apa bangsa ini?


Ini adalah PR, untuk ibu-ibu dan calon ibu yang adalah garda paling depan dalam pendidikan seorang anak. Bagaimana pola pikir anak, mengenalkan teknologi kepada anak sesuai dengan usianya, karena bagaimanapun perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Zaman berubah, kita harus membentuk generasi milenial menjadi generasi yang dapat dipercaya bahwa masa depan bangsa ada di pundak kalian.


Karena Kelas Inspirasi saya tahu bahwa banyak yang ingin jadi dokter, polisi, tentara, dan segelintir profesi keren lainnya. Namun tak sedikit yang mempunyai mimpi untuk jadi pemain sepak bola, pembalap, supir truk. Ini unik karena mereka mengambil profesi orang yang sering mereka saksikan. Entah dari televisi atau kebayakan masyarakat di daerah mereka memiliki profesi sebagai supir. Ini waktu yang tepat untuk KI menyampaikan inspirasi kepada anak-anak bahwa ada banyak profesi keren di luar sana yang anak-anak belum tahu. Semoga dengan adanya Kelas Inspirasi menjadikan anak-anak diperbatasan menjadi tahu jika dari hobby gambar bisa menjadi illustrator, dari yang hobby rekam merekam bisa jadi camera person, yang ringan tangan bisa jadi social worker, atau tertarik menjadi pengacara, belajar yang rajin agar bisa membela orang yang tak bersalah.



---

Kelas Inspirasi membuka mata saya, bahwa menjadi tenaga pendidik tidaklah mudah. Mengatur puluhan anak dengan mengatur puluhan ribu dokumen tidaklah sebanding. Melalui Kelas Inspirasi saya paham bahwa profesi guru layak disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.





Tim dan Guru SD Pringtali Kulon Progo


Tim 22 bersama hari refleksi


Jangan Lupakan Ayam Bakar Dada


Blusukan Dab!


:')


Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Pesawat di Udara, Jangan Lupa Diraih Tapi.


Ini ngapain?



Sampai jumpa di Kelas Inspirasi berikutnya.

0 comments:

Post a Comment