Tidak Semua Orang Mampu Menerima

Beberapa kejadian di awal tahun ini sedikit mengusik saya untuk menulis tentang ini. Kejadian yang benar-benar baru buat saya. Kejadian yang bahkan tidak terlintas dalam benak saya sebelumnya.

Tahun ini, 2017, awal tahun yang tidak jauh beda dari tahun sebelumnya -tinggal di rumah-makan-mainan handphone-tidur- yeah hanya tanggal 1 Januari, masih ada tanggal-tanggal yang lain untuk menaruhkan harapan untuk meraih nasib yang lebih baik.

Pertengahan Januari 2017, keributan pertama datang. Keributan yang seharusnya bisa diantisipasi dengan komunikasi. Disampaikan maksud dan keinginan masing-masing. Keributan ini terjadi diantara kawan, sekelompok orang yang berbeda keinginan dan karakter. Akhir dari keributan ini adalah dengan hubungan pertemanan yang sudah almarhum. Mati.

Akhir Januari 2017, saya masih berfikir semua akan lebih baik. Berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi sekali lagi Tuhan sedang memberikan cobaan yang tidak apa-apanya dibandingkan orang lain. Menangis semalaman cukup membuat saya lebih kuat hari ini. Membuat saya lebih fresh untuk menatap masa depan saya sendiri. Menangis adalah tentang ungkapan perasaan, melegakan beban meskipun kenyataan sudah tidak bisa diubah sesuai dengan apa yang saya mau. Lagi-lagi Tuhan sedang menginginkan saya "sendiri". Hubungan yang sedang berjalan, tak lebih lama dari umur jagung harus pupus oleh masalah yang lagi-lagi tentang komunikasi. Komunikasi dan intensitas bertemu yang jarang karena jarak ratusan kilo membuat saya lagi-lagi harus ikhlas. Harus menelan ludah "Ya Allah kenapa begini lagi".

Dari beberapa perkara yang bertubi-tubi di awal tahun ini membuat saya belajar. Belajar banyak hal. Tentang pertemanan, tentang hubungan dengan lawan jenis, dan tentang pentingnya komunikasi. Semua hal bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik, dan dari kejadian-kejadian ini saya baru paham kenapa ada materi Musyawarah untuk Mufakat dalam pelajaran PPKn. Namun satu hal yang bisa saya simpulkan adalah bahwa, tidak semua orang bisa menerima. Terlebih, menerima kekurangan dan sifat buruk kita.

Bukan berarti kekurangan dan sifat buruk harus dipelihara namun setidaknya ada yang mengingatkan dan diri sendiri instrospeksi untuk selanjutnya dapat berubah. Seseorang yang baik bisa menerima hingga diri kita bisa berubah menjadi lebih baik. 

Bukan yang justru meninggalkan.


Yeah, bagaimanapun, tidak semua orang mampu menerima.

0 comments:

Post a Comment