Kok Mawah-Mawah Terus?

source : http://health-tidings.com/

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa postingan di ig (@)lambe_turah yang mengupload beberapa video orang marah-marah dan membawa-bawa profesinya. Respon gua? Tepok jidat.

Januari baru habis 9 hari loh kok udah marah-marah aja? Kok udah membuat noda di awal tahun baru aja? Apa ndak lebih baik hidup damai ayem tentrem ijo royo royo gitu?

Mungkin rang-orang ini kurang piknik. Eh bener loh ternyata kurang piknik bisa membuat seseorang jadi uring-uringan berat. Contohnya? Saya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, gue sendiri juga termasuk dalam golongan orang yang membuat noda super besar di awal tahun baru ini. Iya, saya juga ndak jauh beda dengan buibuk pengacara dan pakbapak DPR itu. Saya juga marah-marah karena sebab yang mungkin jika saya kemarin jadi berangkat piknik, hal itu tidak terjadi. 

Yah, mungkin garis hidupnya memang dibuat demikian. Jika saya mungkin ndak marah-marah orang ndak akan tahu karakter saya. Pasti ada yang bisa diambil dari setiap kejadian meskipun itu kejadian yang negatif.

Misalnya, pelajaran bahwa masalah tidak akan selesai dengan marah-marah. Efek pertemanan menjadi ndak baik. Lebih bisa mengkontrol emosi.

Tapi, orang ndak akan marah tanpa sebab tokh?
Kalo gue kemarin, gue marah karena si lawan bicara gue ngomong kayak nggak punya dosa. Dan seolah-olah dia orang yang paling perfect, punya kawan yang baik, dan bisa mengurus dirinya sendiri. Mungkin dia lupa kalo dia mati nggak bisa jalan ke liang lahat sendiri.

Padahal mbaknya ini jelas-jelas salah. Tukang bohong, dan nggak mengamalkan ANEKA semasa prajab. Duhhh.... #RIPIntegritas

Apa salahnya sih mengakui kesalahan? Manusia bukan makhluk yang serba benar kok, manusia bukan makhluk yang tanpa cela.

Nggak ada salahnya introspeksi diri sendiri. Saya pun mengakui kalo kemarin saya marah hebat karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan secara baik-baik, dan saya nggak menampik agar saya tidak terlihat seperti orang yang emosional. Dan saya juga punya niat untuk meminta maaf. Setidaknya sudah ada niat baik. Nggak diterima ya dosa ditanggung yang nggak maafin lah.


Menahan emosi memang susah sekali, terlebih jika lawan bicara kita berbelit-belit padahal kita tahu kenyataan yang sebenarnya. Setiap orang memang ndak sama tapi soal kejujuran tiap orang punya kewajiban yang sama kan?

Sudahlah, jangan mawah-mawah lagi, jangan nodai hari dengan mawah-mawah selain bikin hidup nggak tenang kamu jadi kehilangan kawan. Atau mungkin hanya sedikit butuh piknik? Ayuklah...

0 comments:

Post a Comment