Spagetti Bolognese

"Mau makan apa? Kau bilang lapar kan tadi?" tanyanya sambil menyodorkan daftar menu sebuah cafe di Yogya. Sambil senyum dia kembali bertanya,"spagettinya enak, kalo kamu mau coba." Dia ini, entahlah dari awal ketemu hanya senyum-senyum saja sambil memperhatikan setiap gerak gerik gue.

"Yaudah deh boleh. Sama ice cappuccino."kata gue kemudian.

Dia mencatat pesanan gue, membolak balik buku menu, dan mencatat pesanannya sendiri.

Tak berapa lama, sepiring spagetti datang, dengan saus bolognese dan taburan keju diatasnya. Tampak menggoda.

Dia mengambil sendok dan mengambil sedikit saus bolognese diatas spagetti untuk mencicipi. 

"Enak nih. Kau harus habiskan ini." katanya dengan semangat.

Aku mencicipi spagetti sedikit sebelum mencampurnya. Kebiasaan gue, selalu mencicipi makanan sebelum dicampur dengan sambal atau apapun itu.

Benar katanya, spagettinya enak, sausnya tak terlalu asam, pun pastanya pas. Tidak undercook atau overcook. Well done.


Gerimis mulai turun malam itu. Menimbulkan para pengguna jalan berkendara lebih cepat agar terhindar dari hujan. Beberapa dari mereka tampak memasuki cafe. Mungkin berteduh mungkin memang sengaja menghabiskan malam berdua dengan kekasih.

Dan dia dihadapan gue. Dengan senyuman yang sama sejak kami pertama kali bertemu. Dengan perantara 3 tangkai bunga mawar, senyum itu tak pernah memudar sejak gue menangkap sosoknya dalam kegelapan malam.

Dia bercerita bagaimana kisahnya sebelum dia bersama gue malam ini. Tentang masa lalunya, keluarganya, teman-temannya, dan rencana-rencana masa depannya hingga tentang orang yang bahkan namanya masih sering kami sebut.

Dia hanya teman biasa. Teman yang baru gue temui hari itu. Teman yang gue kenal belum ada 2 minggu.

"Gue akan nungguin elo, sampai elo bener-bener lupa sama dia, Ta."

"Gimana kalo selama elo nunggu, elo nemuin orang lain yang lebih baik dari gue?"

"Gue bukan seperti itu. Gue nunggu elo, ya gue akan nungguin elo."

"Gue nggak yakin."

"Lo cuma trauma, dan itu berlebihan Ta. Sampai-sampai lo nggak bisa lihat orang yang bener-bener sayang sama lo."

"Itu yang gue takutkan."

Gue menatapnya, menatap matanya. Suatu hal yang jarang gue lakukan terhadap orang yang baru gue kenal. Dan dia menatap gue balik. Tapi gue nggak bisa menangkap apapun. Gue nggak bisa menyimpulkan apa yang sedang dia pikirkan.

Banyak yang nggak gue tahu tentang dia. Dan yang gue tahu, dia adalah teman dekat seseorang yang sedang berusaha gue lupain. Seseorang yang gue takutkan akan melakukan hal yang sama dengan orang yang sedang gue lupakan.

Gue mengaduk spagetti yang memang sudah tercampur rata, sambil mendengarkan ceritanya dan nasehatnya. Pikiran gue entah sampai kemana. 

Ada harapan, dia akan nyembuhin gue, ngebantu gue melupakan masa lalu gue yang kampret itu. Dan yang pasti harapan bahwa dia akan tetap bersama gue gimanapun keadaan gue adalah harapan gue yang paling besar. 

"Lo cuma perlu waktu, Ta. Sampai lo sadar apa yang lo lakukan adalah menyiksa diri lo sendiri."

Gue tersenyum. Senyum getir. Menyadari bahwa omongannya benar dan kenyataan bahwa gue nggak bisa melupakan laki-laki brengsek kawan baik dia.

"Gue akan tungguin lo, sampe lo bener-bener sembuh." lanjutnya sambil menepuk bahu gue. Mungkin maksudnya menguatkan dan meyakinkan gue.

Dia melirik jam di tangannya. Hampir tengah malam. Kami harus punya waktu isirahat cukup setelah seharian mengitari kota Yogyakarta, dan ada banyak rencana yang sudah kami susun untuk esok hari. Ini semua demi menuruti keinginan gue yang tak pernah traveling ke Jogja selama gue tinggal disana beberapa tahun lalu. 

"Yuk. Kita harus istirahat, kan besok mau jalan-jalan lagi. Habisin dulu itu spagettinya." katanya dengan logat khas daerah asalnya.

Gue buru-buru menelan sisa spagetti yang enak itu. Sambil menyuapkan sisa-sisa spagetti itu, gue menatapnya, dan pandangan kami bertemu. Tatapannya ke gue mengisyaratkan banyak hal. Hal-hal yang gue belum tahu.

Ada semacam sendok dan garpu yang mengaduk perut gue, yang menimbulkan perasaan hangat dan nyaman.

Seperti spagetti yang tercampur, menimbulkan rasa asam, pedas, asin kejunya yang memanjakan lidah, yang gue nikmati bersamanya malam itu, di sebuah cafe di Kota Berhati Nyaman.





0 comments:

Post a Comment