Yang Sesaat Justru Yang Kuat

Gue memulai tahun 2016 dengan sedikit terseok-seok masalah hati. Memang salah gue, berani memilih orang yang berbeda keyakinan. Bagaimanapun, punya hubungan dengan orang beda agama itu hanya menunda sakit hati, dan Tuhan menakdirkan gue untuk sakit hati di awal. Iya, hubungan gue sama si beda agama ini kandas dalam hitungan bulan.

Gue putus akhir 2015, kami memutuskan untuk menyudahinya karena setiap kami menyinggung perbedaan agama pasti berakhir dengan berantem yang masing-masing saling meminta untuk berpindah keyakinan. Ya menurut ngana? Keimanan gue nggak bisa dijadikan taruhan. Itu mutlak.


2016,  Patah hati memang tentang menerima, menerima keadaan bahwa apa yang kita inginkan tak melulu harus jadi kenyataan. Gue belajar move on dengan melakukan berbagai hal. Termasuk blog ini. Gue mengganti nama domain sendiri. Gue mulai aktif menulis di blog lagi setelah dari 2010 blog ini cuma jadi bayangan.


Berawal dari kepengin cepet move on, gue belajar nyetir. Tujuan utama gue belajar nyetir adalah menyaingi si-beda-agama bahwa tanpa elo juga gue bisa segalanya. Selain itu, biar suatu saat orang kantor butuh orang buat bawa mobil, gue bisa bawa. Tapi siapa sangka, itu merupakan awal patah hati gue selanjutnya.


Tulisan ini, bukan tentang hubungan beda agama, karena bagaimanapun, hubungan beda agama adalah hubungan paling sulit. Tulisan ini tentang setelah itu, tentang orang yang bahkan sampai saat ini berhasil bikin gue nggak bisa move on.


Jadi, orang yang ngajarin gue nyetir itu, orang yang luar biasa. Luar biasa ganjen dan "kemana-mana". Sayangnya sebelum gue tahu seluk beluk track record dia, dia lebih dulu membuat gue jatuh cinta. Dia orang yang "gue banget". Sifatnya, ramenya, cerewetnya, dan ngeyelnya itu "aku banget". Bayangin, gimana perasaan ketika kalian menemukan orang yang ketika kamu berinteraksi seolah kamu sedang berkaca? Bahagia. Mungkin begitu.

Gue kenal dia secara langsung. Bukan ala-ala anak sekarang yang kenal lewat chat terus ketemu, terus kenyataan jauh dari ekspektasi terus udahan, terus galau. Bukan, kami bukan yang seperti itu. Itulah mengapa pertemuan gue sama dia ini gue anggap istimewa.


Di awal-awal ketemu, awal-awal belajar mobil itu, kami ngobrol banyak. Tentang pemerintah, tentang kampus, sampai hal-hal yang nggak penting kami rieweh-in, dan sampailah kami pada masalah hati. Gimana masa lalu dia, masa lalu gue, kami saling terbuka. Gimana dia yang dari sekolah udah punya banyak fans, dan gue yang baru kandas dari hubungan beda agama. Dari obrolan-obrolan itu, gue tahu dia udah punya pacar. Sehabis jadwal belajar nyetir yang memang cuma 2 hari itu, gue sempet nggak mau berharap sama dia, karena gue tahu dia udah punya pacar. Iya, ini salah gue sendiri dari awal, tahu dia udah ada yang punya.


Tapi, seiring berjalannya waktu, dia terus mengusik gue. Mungkin dia merasakan hal serupa, bahwa gue adalah kaca buat dia. Mungkin. Tiap hari telefon sampai lewat tengah malam. Tiap hari chat sekedar menanyakan aktifitas. Atau sesimple pamit ketika ada kegiatan yang memakan waktu banyak. Kadang juga membicarakan masa kecil, hal konyol yang dia lakukan bersama teman-temannya. Membuat gue ketawa terbahak tiap malam atas cerita tingkah konyolnya.


Saat itu, gue merasa gue "ada" dan dianggap. Satu bulan seperti itu, gue masih bertahan pada pilihan gue untuk tidak berharap. Sayang yang sebatas sayang. Sampai pada akhirnya dia memberitahuku dia putus. 


Gue merasa lega, akhirnya dia sudah tak menjadi milik siapa-siapa kecuali orang tuanya. Gue semacam berani untuk berharap lebih. Dibilang sayang, ya sayang. Bahkan sejak awal ketemu, hanya mengingat wajahnya aja udah cukup bikin senyam senyum sendiri. 


Tapi, dia putus itu justru titik baliknya. Entah karena dia patah hati baru putus atau entah apa, dia justru pelan-pelan ngelepas gue. Sehari dua hari LINE nggak dibaca. Telefon nggak diangkat. Seolah-olah dia lupa tentang apa yang pernah kami lakukan. 


Dia pergi begitu saja tanpa alasan.


Pikiran nakal gue waktu itu, "kalo akhirnya begini, mendingan kamu nggak usah putus aja." Sempat ada berharap bahwa dia akan memberikan surprise karena itu bulan ulang tahun gue. Gue menenangkan diri dengan harapan itu. Tapi ternyata, di hari gue ulang tahun, nggak ada ucapan. Jangankan surprise, chat aja nggak ada. 


Kesalahan gue waktu itu, gue nggak manage emosi gue. Marahlah gue. Mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Menanyakan maksud dia selama ini dengan emosi meledak-ledak.


Disitu pun, dia tak memberi alasan apa dan kenapa. Alibinya hanya "Gue ngetes elo, gimana kalo gue sibuk."


Sibuk nggak semingguan juga kan?


Sebulan setelah kejadian marah-marah itu, gue ketemu dengan dia, dengan sedikit harapan hubungan kami membaik. Iya, saat ketemu itu membaik. Obrolan kami masih nyambung dan seasyik pertemuan-pertemuan sebelumnya. 


Kami keliling Jogja waktu itu, dari kota sampai Parangtritis. Tapi, setelah hari itu selesai, dan aku harus kembali ke Jakarta, ternyata ekspektasiku -yang berharap hubungan kami akan lebih baik- hanyalah sebatas ekspektasi. Tak ada chat, bahkan telefon. Tak ada kabar dan tak ada "hay" lagi. Itulah mengapa jalanan Jogja begitu perih buatku. Mungkin jika kenyataan sesuai dengan ekspektasi, gue akan menganggap sepanjang jalanan Jogja adalah romantis. Seperti kata orang-orang.


Akhirnya sepanjang 2016 sampai dengan bulan ini, gue habiskan dengan berusaha mengikhlaskan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan dan penolakan tanpa alasan. Tidak ada yang membuat patah hati selain cinta yang di tolak, dan kenyataannya jatuh cinta memang sepaket dengan patah hati.






Untuk Dia, terima kasih untuk kenangan di Jogja yang bahkan hingga saat ini gue nggak bisa lupa. Terima kasih untuk kedekatan kita yang hanya sesaat tapi berhasil membuat gue patah hati sepanjang 2016. Terkadang yang dekat hanya sesaat justru yang mencintai paling kuat.






rgds,

meta.





*tulisan ini untuk giveaway Romeogadungan.





2 comments:

  1. people write better when they're sad.

    Cepet sembuh ya. keep writing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes. i think so :')))

      terima kasih teh :)

      Delete