Harga Sebuah Karya

Screenshot diatas, pernah gue upload di path dengan caption "minimal semangkok bakso" dan beberapa kawan bereaksi. Ada yang menertawakan, ada yang setuju, ada yang mungkin menjudge gue sebagai orang yang selalu minta imbalan.

Postingan di path itu, berawal dari requestan seorang kawan lama. Iya, request untuk dibuatkan handlettering berupa nama dia. Setiap ada yang minta, selalu gue tanyain "berani berapa?"

Konten pertanyaan itu hanya bercanda, ya walau pada akhirnya gue buatin meskipun tanpa honor. Heeeeee.

Padahal jauh dalam hati gue, gue nggak minta imbalan apa-apa. Karena gue ya hanya amateur handletter. Handlettering sebagai hobby dan pelampiasan perasaan gue. Bukan dijadikan sebagai profesi.

Kasian dong yang udah pada sekolah DKV atau yang udah kursus handletter mahal-mahal.

---

Gue sering banget dimintain buat bikinin handlettering, mulai dari kawan dekat banget, sampai kawan yang ketemu paling cuma senyum dan nganggukin kepala, atau ngangkat alis. Dari obrolan tanya-tanya itu berakhir dengan kata "gratis kan?"

Gue bingung. Beneran. Antara mengiyakan, tapi beli spidolnya kan pake duit. Mau bilang bayar, kok kayaknya gue misqin amat ya sampe begitu doang minta bayaran, kayak udah bagus aja karyanya.

Tapi, meskipun amatiran gue kan berkarya, dan setiap karya itu perlu dihargai, apa salahnya mentraktir semangkok bakso? Apa salahnya beliin segelas jus alpukat. Sama-sama seneng kan.? Sana dapet karya gue, gue dapet seneng ditraktir makan. Berapa sih harga semangkok bakso? 10ribu? 15 ribu?

Bandingin sama spidol sama kertas yang gue pake. 1 pcs aja harganya 20ribu. Walaupun amatiran, kalo dimintain tolong temen sendiri gue juga bakalannya ngusahain yang terbaik dong. Nggak sembarangan. Jadi kadang dalam 1 request-an ada 2 sampai 3 lembar kertas yang terbuang hanya karena gue nggak puas sama hasilnya. Gitu masih mau gratis.?

Jadi yang punya mental misqin itu siapa?

Apa-apa minta gratis. Pipis di terminal aja bayar bos. Masa kami-kami yang udah berkarya dan berproduksi masih dibayar dengan ucapan terima kasih? Think again dong. 

---

Profesi Handlettering

Gue emang gila berkarya. Maksudnya gue nggak bisa hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Minimal ada satu karya yang bisa gue hasilkan. Entah menulis, atau menggambar atau bermusik ya walaupun suara gue bagus kalo nyanyi di kamar mandi. Tapi mental gue bukan mental yang menjadikan itu sebagai profesi. 

Di era enterpreneur sekarang ini, banyak teman-teman yang udah pada bikin brandnya sendiri. Gue? Enterpreneurship gue masih dalam level mencoba dan nggak lagi-lagi. Mental gue enggak disana. Mental gue mental budak korporat dengan gaji stabil. Bukan yang dengan gaji melimpah ruah dan kadang nggak ada pemasukan sama sekali.

Gue aja sedih banget kalo denger ada usaha temen yang sepi. Kadang sampe nangis. Gimana kalo gue jadi pengusahanya? Bisa jadi pasien rutin spesialis psikiatri dong gue?

Handlettering yang sering gue upload di IG adalah sebagian kecil dari hobby dan pelampiasan perasaan. Tapi kalo ada yang suka dan tertarik dengan karya gue, gue nggak menolak untuk dimintai tolong. Tapi ya dengan perasaan. Gue nggak butuh dibayar mahal. Gue enggak butuh uang dari handlettering, kalo mau bayar mahal ya silahkan hubungi yang sudah ahli dan yang sekolah di bidang itu. Gue nggak akan mengambil lapak mereka. Toh dari jadi budak rakyat gue bisa beli baju-baju di Uniqlo. Hahahaha.

Yang penting saling seneng aja. Kamu dapat apa yang kamu butuh, gue dapet kenyang bakso. Apalagi sih yang lebih nyenengin selain bisa membuat kawan sendiri bahagia??



Jan lupa main-main ke IG aku ya. Usernamenya metaapristya. :) 

2 comments: