Sehari Mengamati Gunung Dempo

Seminggu yang lalu, dapat dinas yang jadi dinas favorit. Ke gunung! Yeay! Setelah Gunung Kelud tahun lalu, kali ini pindah ke pulau Sumatera. Its ma first time menginjakkan kaki ke pulau seberang. 


Pos Pengamatan Gunung Dempo

Pertama kali landing di bandara Bengkulu, ternyata Sumatera sama aja kayak jawa. Daerah bandara susah sinyal untuk XL, kalo Bengkulu kota lumayan sih dapet 3G. Heeee.

Karena tujuan utama kami ke Gunung Dempo, maka kami langsung cari travel untuk menuju kesana. Perjalanan Bengkulu-Pagaralam (lokasi Gunung Dempo) sekitar 6-7 jam, diselingi sholat Jumat dan makan siang. Kalo ngeblong gitu bisa perjalanan cuma 4 jam. Jalanan Bengkulu-Pagaralam lumayan "horor". Berkelok-kelok, naik turun (kalo yang mabokan, jan lupa minum antimo bisa muntah tar), melewati hutan yang sepi. Mungkin kalo hari udah gelap ngga ada orang yang berani lewat sana. Dan kalo pun ada yang berani lewat, masih untung sampe tujuan utuh *eh. Maksudnya itu jalan sepi banget dan masih bentuk hutan (((bentuk))). Ya, hutan belantara gitu, ngga tahu deh masih ada hewan buas apa engga disana, kayaknya ada sih. Dan waktu perjalanan itu cuma beberapa kali aja papasan ma orang. Selebihnya, cuma kami aja yang lewat. Sesekali kami juga menemukan monyet dipinggir jalan.

Di tengah perjalanan, kami menyempatkan untuk istirahat sebentar sambil makan siang, waktu di warung, rekan kerja saya pamit ijin toilet, lah si bapak yang punya jawabnya galak, "ITU DISEBELAH SANA!". Gua, yang notabene orang jawa asli, takut yak. Perasaan kita ngomongnya juga pelan kaga bentak-bentak :((((

Ternyata khasnya orang sana memang begitu, logat berbicara mereka memang agak tinggi daripada di jawa maupun sunda, padahal ya mereka ngomong biasa. Yah gemana, terbiasa dengan orang yang halus, kemudian ke tempat yang notabene baru pertama kali ke Sumatra ya agak kaget, perlu waktu untuk gue bisa "biasa aja" dengan logat Sumatrans yang galak. Hmmm....

Selama di perjalanan, beberapa kali kami melewati perkampungan. Perkampungan ini tergolong tradisional, rumah-rumah mereka masih rumah panggung, dan dipinggir-pinggir jalan banyak anjing-anjing berkeliaran dengan bebas. Mayoritas mereka bekerja di kebun, terbukti dengan adanya cengkeh yang sedang di jemur di pelataran rumah. 

Sampai di Pagaralam, kami disambut dengan sopir yang agak galak, sok tahu tapi cemen. Ah rasanya mau balik pulang aja waktu itu. Mana si Egi (pengamat Gunung Dempo) juga ikutan sewot. Waduh gegara gue nih, kan waktu itu gue yang jadi jalan komunikasi antara tim dan pengamat disana. 

Kejadian (hampir) berantem ini disebabkan karena si sopir yang sok tahu jalan, dan si pengamat yang kehilangan jejak kami, si sopir disuruh tunggu malah sewot katanya udah nunggu lama. Hadeh. Pus pus.

Akhirnya sekitar pukul 4 sore kami sampai di Pos PGA Gunung Dempo dengan hati masih agak takut. wk! Sebenarnya, gue sempet punya ekspektasi pos Gunung Dempo bakal (kurang lebih) sama dengan pos Kelud yang terletak di paling atas pemukiman warga, sehingga bakal dengan mudah melihat view gunungnya. Ternyata, kenyataannya jauh dari perkiraan. Pos Gunung Dempo terletak di tengah pemukiman warga, dan seberang jalan menuju pos ada pabrik teh. Ya, kawasan sekitar Gunung Dempo adalah perkebunan teh dan kopi robusta. 

Kami memutuskan untuk menginap di pos, selain karena rame-rame, nginep di pos itu seru. Pernah pengalaman nginep di pos Kelud dengan segala kehororannya, bikin gue ketagihan untuk nginep lagi di Pos PGA. Hal yang menjadi favorit kalau menginap di Pos adalah cerita-ceritanya dengan para pengamat. Gimana sewaktu gunung lagi batuk. Atau kegiatan apa aja yang dilakukan oleh Pengamat selagi gunungnya adem ayem, dsb.

Pengamat Gunung, mungkin sebagian orang menganggap profesi tersebut nggak keren. Tapi dimata gue, para pengamat adalah orang-orang super keren luar biasa. Bayangin, jagain gunung yang nggak tahu kapan bakal sakit, kapan bakal tenang, hidup jauh dari keluarga, dan bagaimana memanfaatkan waktu selagi gunung nggak ada pergerakan. Belum lagi kalo gunung lagi protes, bisa 7/24 jam para pengamat ini nggak tidur, dan kalo pas gunungnya diem? Gimana kehidupan di pos yang cuma dihuni 3 orang bisa terasa nyaman bak di rumah. 

Para pengamat ini, gue mengapresiasi mereka dengan sangat. Bekerja langsung kepada masyarakat. Siapa nggak seneng bisa bermanfaat untuk orang lain? Yah, meskipun bagi orang-orang pusat kadang pengamat dipandang sebelah mata, tapi, nggak di mata gue. Gue yang orang arsip, kerja gue nggak langsung ke masyarakat, dan cenderung kerjaan yang mengejar jabatan. Pokoknya, para pengamat keren gitu aja deh. Nggak tahu udah kata apa lagi yang bisa disematkan untuk profesi ini.

---

Setiba di pos, kami memasak. Yeah, tradisi para orang arsip kalo kunjungan ke pos, pasti masak sendiri. Kami belanja di pasar Pagaralam, atau apalah gue nggak paham. Kami belanja mendekati magrib, tapi masih banyak pedagang yang menggelar dagangannya.


cooking cooking everytime

Setelah masak dan makan malam, dilanjutin cerita-cerita lagi, dan istirahat karena esok harus kerja merapikan arsip. Yha.

Sekitar pukul 7 malam, gua sempet duduk di teras belakang pos dan menemukan pemandangan ini.


untung nggak ada werewolf
Karena kamera yang nggak mumpuni, cuma bisa take gambar kek gitu doang. Kalo aja kamera kayak mata ya, serius pemandangan waktu itu buagus banget. Cahaya bulan, dan awan-awan di sekitarnya, plus cahaya lampu dibawah, dan beberapa bintang di langit, ditambah hawa yang dingin kayak perlakuanmu ke aku, rasanya jadi pengen cepet-cepet punya pacar terus ajak dia kesini. Halah. Oke gue lebay.

---
Pagaralam Day 2.
Hari kedua, dimulai dengan jalan-jalan pagii... Karena malamnya gue tidur terlalu larut, gue sempet ketinggalan sunrise.


sunrise dari pos. mayan lah.

Kami jalan-jalan sampe atas, sampe dekat kebun teh, mungkin sekitar 2 km ada lah kami jalannya. Tapi nggak kerasa udah jauh aja jalannya. 


gunungnya tinggi, jadi cuma bisa foto dari sini (ps. abaikan rambut yang nyempiil.wkwk)
fokus ke gunungnya aja gaes. gaes mo kemana gaes?
Bulan dan gunung. abaikan sarung -______-"
Setelah jalan-jalan dan makan pisang goreng di pinggir jalan, kami balik ke pos untuk.... masak. eh, kerja deng. Oh iya, selama kami jalan-jalan, ternyata kami banyak menemukan orang jawa disana. Hmm.. keturunan jawa sih lebih tepatnya, dan kata pak pengamat juga daerah sana warganya memang campuran jawa, jadi bisa bahasa jawa.

Setelah perut kenyang, kami kerja. 


anggap aja kerja ('-')9
Menurut arsip yang tersimpan, gunung Dempo pernah meletus besar sebelum adanya kehidupan, setelah itu gunung hanya sampai berstatus waspada, seperti tahun lalu, tapi nggak lama gunung kembali aktif normal.

Gunung setinggi 3.173 mdpl ini gunung yang aman untuk didaki. Untuk menuju ke puncak dibutuhkan waktu 7-8 jam. Gunung yang berlokasi di Kota Pagaralam ini ditempuh 7 jam dari Kota Palembang. 

Kelar kerja, dan apa yang kami sampaikan dirasa cukup, kami makaaan (lagi) kali ini, nggak masak-masak lagi. Yakali ah di pos masak sendiri terus. Kami mamam di luar dong sekali kali kan punya duit.
potok dulu sebelum mamam 👌🏼
Ketika bepergian, problem gue adalah makan. Gue termasuk orang yang makannya susah, dan harus pilih-pilih. Dengan gue yang alergi udang, dan seafood cuma bisa makan ikannya aja, gue selalu menjadi trouble maker tim. Hahaha. Tapi perjalanan kali ini makanannya so far oke. Gue nggak menemukan masalah yang berarti. Tastenya juga cukup bisa diterima di lidah gue. Entah karena sudah banyak orang jawa di Sumatera, makanan-makanannya justru enaaak banget di mulut gue. Jadi pen ke Sumatra lagi *eh.

Kelar makan kami picnique ke kebun teeh. Ya kan my trip my sppd kitu katanya kan. wkwkwk 

Awkward moment waktu picnique ini adalaaah jengjengjeng salto waktu naik ATV. Sumfee baru kali ini naik ATV bisa salto se ATVnya -______-

Selain kebuh teh, sebenarnya Pagaralam banyak tempat wisata, ada curug dan Gunung Demponya sendiri. Kami mau menuju ke jalur pendakian Dempo setelah dari kebun teh tadi tapi jadi dipaksa harus balik karena hujan yang cukup deras. 


naque gawls

Sesaat sebelum njungkir

umbrela booooyyyy
 Kalo hati bahagia itu memang waktu jadi terasa berjalan cepet banget yah. Tau-tau hari berikutnya udah harus balik ke Bengkulu. At least di pos cuma 2 malam 1 hari. Tapi segitu aja udah bikin paha memar. Ampe tulisan ini di upload, memarnya masih ada. Hahahaha asem tuh PGA atu. Wkwkwk.

Tulisan ini udah kepanjangan kayaknya yah, terakhiran gue mau ucapin terima kasih kepada PGA Gunung Dempo, Pak Mulyadi dan Kak Egi udah menyambut kami setim dengan baik kek keluarga sendiri. Maaf juga di awal jumpa sempet ada insiden nggak enak. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga karena kita satu keluarga KESDM kan ya kan ya? Heee~

Sampai jumpa di lain kesempataaan..


Terakhiran~~
new family member

take a selfieee~






with love,
meta.

0 comments:

Post a Comment