Pergantian Menteri, Ngaruh Nggak Sih?

"Menteri kita ganti nih."

1. Yaudah, ganti tinggal ganti.

2. Iya. Nggak ngaruh lah buat kita yang masih di bawah. Ngaruhnya tuh buat pejabat yang udah diatas.

Itu jawaban dari sebagian teman sejawat saya ketika saya melempar pernyataan kalau Menteri kami baru. 

Memangnya sebegitu nggak ngaruhnya pergantian Menteri untuk pegawai internal?

Saya sendiri masih bertanya-tanya tentang itu. Untuk saya pribadi, pergantian Menteri adalah harapan. Harapan untuk instansi menjadi lebih baik, memanfaatkan anggaran dengan sebaik-baiknya dan berharap bahwa Menteri yang baru tidak korup seperti yang terjadi pada Menteri-Menteri sebelumnya.

Pergantian menteri memang nggak ada efek apapun, kecuali memang kepada pegawai yang mengurusi keprotokolan, yang secara langsung bekerja kepada Menteri, mengatur segala keperluan dan jadwal kedinasan Menteri. Mereka-mereka ini harus tahu kebiasaan, sifat dan sikap para Menteri. Selain pegawai itu? Yaudah kerja aja tokh tukin nggak turun.

Apa mereka lupa, siapa yang sudah memperjuangkan tukin hingga sebesar sekarang? Menteri juga turut andil kan untuk mensejahterakan para pegawainya? Melalui kebijakan yang dibuat, aturan-aturan yang mengikat supaya pegawai taat, disiplin, dan prestasi kementerian menjadi meroket.

Pergantian Menteri, efek yang paling dirasakan mungkin untuk kalangan diluar instansi. Kebijakan yang diambil Menteri harus seadil-adilnya untuk kepentingan rakyat. Apalagi sektor energi dan sumber daya mineral adalah sektor yang strategis yang membutuhkan perhatian lebih. Perminyakan, pertambangan, kelistrikan, energi baru terbarukan, hingga vulkanologi, menjadi bidang dibawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari puncak tertinggi Indonesia, sampai titik terbawah Indonesia, diurus oleh Menteri ESDM.

Pemanfaatan sumber daya untuk kepentingan rakyat, dibentuklah megaproyek 35.000 megawatt, proyek LNG blok Masela yang akhirnya diputuskan untuk onshore, dan sekian proyek energi baru terbarukan yang menjadi lahan basah dan diperebutkan banyak orang orang.

ESDM masih butuh orang hebat, orang yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing. Seperti mbah Rono, yang selalu berhasil menenangkan gunung yang sedang batuk-batuk. Ya minimal memberikan penjelasan secara gamblang kepada publik bagaimana gunung ini bisa sakit. Hingga tulisan ini ditulis, saya masih ngefans sama beliau.


Sudirman Said. Sampai hari ini saya masih belum move on dari kepemimpinan beliau. Keberanian beliau dalam memberantas mafia migas, mafia tambang perlu diapresiasi, program indonesia terang dengan mengirim para patriot energi ke daerah terluar Indonesia perlu mendapat tepuk tangan yang meriah. Kepemimpinan beliau hampir tidak ada minus dan dari ini saya bertanya-tanya "pak jokowi nyesel nggak ya udah reshuffle pak SS?" 

Selain orang hebat yang berkompeten, Indonesia -ESDM khususnya- sangat membutuhkan orang yang mempunyai integritas tinggi, yang tak tergiur dengan pundi-pundi meskipun lahan yang dipijaknya sangat basah.


Mungkin, untuk sebagian pegawai yang tidak "merasa" dekat dengan Menteri, pergantian Menteri tidak ada arti apa-apa untuk mereka. Untuk saya pribadi, yang pernah merasakan seorang Menteri bisa se-low profile ini, sungguh menjadi moment kehilangan yang luar biasa. Kejadian itu sekitar awal tahun, di kantor pusat ada dua lobby, atas dan bawah. Ketika itu kami terlanjur parkir mobil di lobby atas, di waktu yang bersamaan pak Menteri datang, dan beliau lebih memilih turun melalui lobby bawah daripada harus mengusir kami dari lobby atas. "Kalo menteri yang dulu, bisa aja kita diusir, diomel-omelin sama pengawalnya pak Menteri" begitu kata senior saya.



Hari ini, Menteri Candra diberhentikan dengan hormat setelah menjabat kurang lebih 20 hari. Menteri paling singkat dalam sejarah, yang bahkan gebrakannya belum kelihatan. Beliau low profile, tetap mau diajak selfie dengan pegawai sekelas batu bata. Hampir sama dengan pak Sudirman Said yang juga ramah dengan pegawai kelas kopaja. Ya begitulah, masalah kewarganegaraan menyandungnya dan membawanya ke posisi NONJOB. Padahal beliau ini ahli offshore, dimana ESDM membutuhkan orang yang ahli dalam bidang ini. Masela masih membutuhkan Bapak.

Anyway, terima kasih pak Candra, mungkin gebrakanmu memang belum kami rasakan, terlepas dari masalah kewarganegaraan Bapak, kami yakin ada Garuda di dada bapak. Lanjutkan perjuangan dimanapun bapak berada nantinya, pesan Pak SS "jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini".


Semoga saja kedepannya, siapapun yang menjabat Menteri selanjutnya bisa membawa ESDM dalam mewujudkan visinya yaitu "Terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi serta peningkatan nilai tambah energi dan mineral yang berwawasan lingkungan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat."



Terus, setidakpenting itukah pergantian menteri? Oh jelas tidak, kecuali menteri ini berhasil menaikkan tukin pegawai menjadi 100%. Kan, memang begitu kenyataannya.?

0 comments:

Post a Comment