Jangan Takut Sama Badut

Kemarin sewaktu dinas ke Sumatera, kami menyempatkan waktu untuk berlibur. Ke kebun teh, ke Benteng Marlborough, dan ke Pantai Panjang Bengkulu. Yah walaupun liburannya cuma curi-curi waktu di sela-sela kerja, kami lumayan menikmati liburan yang singkat ini.

Destinasi terakhir kami ke Pantai Panjang Bengkulu. Diantara deburan ombak, dan landmark Pantai Panjang dengan warna yang mencolok, ada 3 badut yang menari nari. Badut dengan kostum boboyboy dan elsa frozen melambai-lambaikan tangan menghibur para pengunjung. Kadang badut ini melambai-lambai ke anak-anak yang lewat, berlari mengejar anak-anak.

Tidak sedikit anak-anak yang lari ketakutan, ada pula yang menangis, ada yang memukul, tapi sebagian dari pengunjung tak memperdulikannya.

Badut.
Sewaktu aktu kecil dulu, aku termasuk satu diantara anak-anak yang lari ketakutan ketika melihat badut. Padahal badut itu lucu, tapi aku takut, kemudian mama memberitahu aku jika badut itu tidak mengganggu, dia ada hanya untuk menghibur kita.

Semakin aku besar, aku berfikir, badut kan lucu, kenapa aku harus takut? Mereka kan bermaksud menghibur, dan mencari nafkah untuk keluarganya, atau untuk biaya sekolah anaknya. Kita tak pernah tahu, ada raut-raut perjuangan dibalik kostum badut yang selalu tersenyum.

Lalu, aku meminta seorang kawan untuk memfotokan aku dengan badut-badut lucu itu. Walaupun rasa takut akan badut masih tersisa, aku yakin mereka butuh peluk, mereka butuh dirangkul, mereka butuh pengakuan bahwa ada yang terhibur akan kehadirannya.




Tak lama setelah aku meminta untuk berfoto, salah satu dari badut itu melepaskan kostum kepala badut itu. 

Hatiku mencelos, dan mata memanas melihat pemandangan ini, ada raut muka lelah dibalik topeng badut yang selalu tersenyum itu. Lelah dan kegerahan. Bagaimana tidak, di dalam kostum itu hanya ada ruang untuk mata dan mulut. Entah apa dia juga tersenyum ketika diajak foto oleh pengunjung dengan keadaan pengab di dalam kostum badut.

Memerhatikan sekilas raut wajahnya, jauuh di dalam hati mereka, pasti mereka tak mau jadi badut.

Aku jadi malu, aku dengan segala kelebihan ini, kadang masih sering mengeluh, padahal aku tak harus merasakan kegerahan hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Jika kalian melihat badut, jangan takut, mereka hanya berniat untuk menghibur. Jika ketemu badut, jangan lari, peluklah ia karena ia pasti butuh peluk. Jika tak mampu memeluk cukup senyum dan lambaikan tangan.



Karena di dalam kostum badut yang lucu, ada manusia seperti kita yang sedang mencari nafkah dengan cara yang tak seberuntung kita. ((c) Falla Adinda)

0 comments:

Post a Comment