Cerita Bikin SIM A Di Purworejo

Seperti yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, menjelang akhir tahun saya sudah harus punya SIM A. Akhirnya setelah atur jadwal kantor dan main, diputuskan untuk pulang kampung sekaligus bikin SIM A di bulan Agustus. Biar sekali jalan 3 pulau terlampaui gitu, karena ongkos pulang kampung kan mahal ugha. 

Jadi, begitu sampai rumah jumat pagi, saya dan ayah saya langsung menuju polres untuk memohon penerbitan SIM A saya. Emang udah bisa nyetir kok mau bikin SIM A? Hahaha tutor saya sudah berani melepas saya bawa mobil sendiri, berarti udah bisa kan? Yes!


Pagi itu sekitar pukul 8 saya menuju satlantas tapi di gedung yang terpisah, disitu untuk meminta surat kesehatan. Sampai disana ngumpul KTP, terus dipanggil untuk ditimbang dan diukur tinggi badan saya. Habis itu dikasih nomor antrian untuk foto di surat keterangan sehat, berangkat pagi aja udah dapet antrian nomor 69! Hmm... sambil nunggu sambil nongton bapak-bapak pulisi pada tenis. Oh ya, waktu ukur tinggi badan ini sekalian bayar sejumlah 40k. 

Setelah nunggu agak lama, kemudian saya disuruh foto nyengir dengan gigi kelihatan semua. Ok. Selesai. Habis itu ke polres untuk proses selanjutnya.

Sampai di polres kita ambil nomor antrian untuk permohonan sim baru, setelah itu masukin surat kesehatan di loket 3 untuk proses ujian praktek. Ujian prakteknya ini kalo SIM A cuma maju mundur, naik ke jalan yang nanjak terus turun lagi pake setengah kopling. Done, kayaknya sih saya lulus soal praktek ini. Hahaha.

Kelar itu, antri lagi untuk ujian tulis. Ujian tulis ini pake sistem digital. Sebut saja begitu karena sistemnya kita klik jawaban yang menurut kita benar. Soal terpampang di depan dengan in focus, terdapat 2 soal kanan dan kiri. Jumlah soal 30, dengan ketentuan skor lulus 75. Tiap meja sudah ada nomor yang menentukan nomor ganjil mengerjakan soal sebelah kiri dan nomor genap mengerjakan soal di sebelah kanan.

Tiap soal diberi waktu mengerjakan selama 15 detik. Setelah waktu habis jawaban benar langsung terpampang dibawah soal selama 3 detik, kemudian berganti ke soal selanjutnya.

Menurut saya ujian tulis ini jebak banget. Dengan soal yang panjang, dan waktu mengerjakan 15 detik itu hwaah... Dari 20 orang yang ujian, baik yang mau mengajukan baru maupun mengulang, nggak ada yang lulus. 


Terus gimana kalo nggak lulus?

Beli sertifikat. Yha.

Setelah ku tanya-tanya orang yang ngajuin SIM, emang begitu prosesnya. Kalo nggak lulus langsung aja beli sertifikat jadi kita nggak usah ujian lagi. O...o..o..kay.

Sertikat seperti apa sih kok segala pake sertifikat? Sertifikat itu diterbitkan oleh semacam lembaga kursus belajar nyetir gitu. Kan banyak toh di setiap daerah yang membuka tempat belajar nyetir begitu. Nah, buat yang kursus mungkin bisa langsung dapat sertifikatnya, kalo yang nggak kursus yaa beli aja gitu deh, satu sertifikat seharga 310.000.



Karena waktu itu hari jumat, jam kerja yang cuma setengah hari maka proses dilanjutkan besok pagi. 

Sabtu pagi, saya berniat berangkat ke polres lebih pagi berharap kalo datang pagi lebih cepat selesai. Gitu. Ternyata sampe sana. SAMA AJA DONG LAMA BANGET. JAM 9 BARU DIPANGGIL BUAT UJIAN LAGI. Kan KZL udah berangkat jam 7 ternyata harus nunggu 2 jam. Mana waktu itu handphone ketinggalan. Yha.

Jadi, #HariKeduaBikinSIM ini tetep harus praktek, cuma nggak ujian tulis aja. Prakteknya bawa mobil muter alun-alun Purworejo. Udah itu aja. Terus kelar ujian praktek, ditanya-tanya aja udah pernah bawa mobil ampe mana paling jauh. Gitu doang terus bawa berkas ke pendaftaran untuk selanjutnya bayar administrasi sejumlah Rp 120.000,00 terus nunggu dipanggil untuk foto SIM. Okay. Ini juga nunggunya lama banget gila. 

Nunggu foto sambil liatin orang karena handphone nggak dibawa, udah kayak orang stress uring-uringan sendiri. wkwkwk. Akhirnya jam 11 dipanggil. Fiuh. Padahal fotonya cuma 5 menit doang nunggunya 2 jam. Yampon untung guwa sabar. Wkwkwk.

Akhirnya dengan penantian yang luar biasa menzebalkan lama banget, jadilah SIM A guwa. Hahahaha Yuklah kita orang jalan-jalan pake mboil. Hahaa~


Selembar doang 2 hari (._. )


2 hari cuma dapat 1 lembar setengah A4, hhmmm. Ini karena katanya materialnya habis mangkanya cuma dikasih surat keterangan doang, SIM asli diambil satu bulan setelah pengajuan permohonan.

Total biaya yang dikeluarkan adalah Rp 470.000,00 dengan rincian 40.000 untuk surat keterangan sehat, 120.000 untuk administrasi, sisanya biaya bikin sertifikat. Sebenarnya jika lulus tes (tanpa membeli sertifikat), biaya yang dikeluarkan cuma 160.000, tapi karena harus beli sertifikat yaaa harus mengeluarkan kocek lebih dalam. Silahkan untuk yang pengin bikin SIM A monggo sisihkan uang lebih karena tes tertulis ndak akan lulus. CMIIW. Begitulah pengalaman saya dalam membuat SIM A. 

0 comments:

Post a Comment