The Untitle Story - Too Late

Tita dan Reza, sedang menikmati waktu berdua mereka di sebuah mall di kota Yogyakarta sebelum resmi menjadi pasangan suami-istri bulan depan. Mereka tampak sangat bahagia, akhirnya cerita perjalanan cinta mereka berakhir bahagia, setelah masing-masing jatuh bangun dengan kisah mereka sendiri-sendiri.

Tita mendadak menghentikan langkah, menengok ke belakang, sepertinya ada seseorang yang dia kenal berjalan berlawanan arah dengannya. Orang itu pun seperti menyadari keberadaan Tita. Namun kemudian Tita abaikan, Tita melanjutkan berjalan seolah tak ada apa-apa. Tapi Reza sadar atas gelagat Tita.

"Kenapa Ti? Kamu lihat apa?"Tanya Reza sambil menoleh ke arah pandangan Tita.
"Nggak kok Za. Kayak lihat temen tapi kayaknya bukan sih."
"Za, laper. Makan dulu kali yuk?" Ajak Tita.
"Yaudah yuk. Foodcourt? Apa mau apa kamu?"
"Foodcourt aja deh."

Dalam perjalanan ke foodcourt ini lah, awal ujian pernikahan untuk Tita. Orang yang tadi Tita lihat, adalah orang yang dulu pernah sedekat nadi dengan Tita, orang yang selalu ada setiap menjelang waktu tidur Tita. Mereka berpapasan. Tapi orang ini tidak sendiri. Dia bersama dengan seorang perempuan yang Tita tahu adalah pacarnya bahkan ketika dia datang mendekati Tita beberapa tahun silam.

"Tita!!!!" Panggil dia dengan sedikit berteriak.
"Hai Tam. Apa kabar?"
"Baik. Kamu? Sama siapa nih?"
"Baik juga alhamdulillah. Oh iya kenalin, Reza. Calonku. Dateng ya ke nikahanku bulan depan."
"Woow gercep nih Ta udah mau nikah aja?"
"Alhamdulillah dikasihnya cepet. Kamu awet banget sama mbaknya?"
"Hehehhehe...."
"Yaudah aku duluan ya Tam, laper. Mau makan dulu kami. Atau kalian mau gabung kami?"
"Nggak Ta, kami dah mau pulang kok."
"oh okay. Hati2. Jangan lupa bulan depan sempetin dateng ya. Nanti ku wasap deh undangannya."
"Okay Ta."

Tita merasa ada yang aneh dengan pandangan si Tama ini. Entah itu memang raut bahagia yang memang bahagia atau kesedihan kekecewaan yang dia balut dengan kebahagiaan. Yang jelas Tita merasa ada yang aneh dengan Tama, walaupun memang sudah lama mereka lost contact tapi Tita mengenal Tama lebih dari dirinya sendiri.

---

10.20 p.m

image undangan
jangan lupa dateng ya Tam, ajakin ayangmu juga. :) 
sent.

centang biru dua.

ting!
bisa ketemu besok Ta? ada yang mau aku bilang.

jam berapa dimana?
sent

ting!
djendelo coffee jam 7 malam?

ok!
sent

Ada apa ya tiba-tiba dia minta ketemu? tanya Tita dalam hati. Lihat aja besok deh.

---
(Tama)

Djendelo coffee at 7.p.m

7.10 p.m.

Mana toh ini anak nggak nongol-nongol. Tama mulai nggak sabar. Janji jam 7 juga.

Tujuh lebih lima belas akhirnya Tita sampai di kedai kopi dengan keringat yang sedikit bercucuran.

"Sorry telat. ada urusan yang harus aku selesein dulu."
"Gapapa Ta. Udah pesen minum belum? kamu mau apa? kali ini aku yang traktir ya?"
"Oke, caramel machiatto."
Tama segeram menghampiri barista dan memesankan pesananku.
"gimana-gimana?"Tanya Tita.
"Langsung aja ya? Jadi kamu mau nikah?"
"iiya, kenapa memangnya?"
"Ku pikir kau bakal menungguku?"
"What? Nggak salah denger nih gue?"
"Nggak lah, setelah lo gue bikin baper, gue kira lo bener-bener jatuh cinta sama gue, dan tetep bertahan gimanapun keadaannya."
"Tam, lo emang bikin gue baper waktu itu. Gue bener-bener jatuh cinta sama lo. Tapi bukan berarti gue mesti bertahan dengan ketidak pastian. Lo egois namanya. Apa lo waktu itu dalam keadaan kosong juga waktu bikin gue baper? nggak kan? Lo masih punya buntut kan lo waktu itu? Apakah itu termasuk laki-laki baik? Nggak Tam."
"Ta...."
"Tar dulu gue belom selesai."
"Habis itu lo pergi. Sibuk dengan apalah yang lagi lau kerjain disini, sementara gue disana, di jakarta sibuk juga, sibuk bertanya-tanya lo kemana, ngapain, sama siapa? Lo udah putus apa belom. Gila kan gue sampe diri gue aja nggak keurus."
"Berbulan-bulan gue hidup dalam bayangan elo. Pesan nggak dibales, telefon nggak lagi diangkat, gue ke jogja berkali-kali tanpa pertemuan."
"Lo bisa bayangin jadi gue?"
"Dan sekarang gue udah bahagia, gue udah nemuin orang yang bisa nerima keanehan gue dan ini lo dateng ke gue mau ngehancurin semua? Thanks Tam."
"Tapi gue sayang Ta sama lo."
"Sayang? Sayang macam apa yang ninggalin tanpa alasan? Gue baru tahu sayang ternyata semenyakitkan itu."
"Sekarang mau lo apa sih?"
"Batalin Ta, lo balik ama gua."
"Hah? Sesepele itu? Its too late Tam. Persiapan nikah gue udah 80%. Dan lo suruh batalin. Gile lo. Gua nggak mau, kembali ke orang yang udah nyia-nyiain gue Tam, lo juga udah kehilangan kepercayaan gue. Itu yang terpenting. Buat apa gue kembali ke orang yang udah nggak bisa gue percaya?"
"Lo cuma nggak tahu apa yang sedang gue alami disini, Ta."
"Apa? coba ceritain. sok."








0 comments:

Post a Comment