Hadiah

Saya adalah manusia yang menganut sebuah penghargaan untuk diri sendiri. Bukan apa-apa. Ini adalah suatu bentuk apresiasi kepada diri sendiri atas apa yang sudah diraih, atau atas sebuah pencapaian atas hal sulit yang sebelumnya saya pikir ini adalah hal sulit. 

Kali ini reward diri sendiri adalah bukan hal simpel yang biasa saya lakukan. Biasanya ketika saya berhasil melakukan hal yang sedikit rumit untuk saya, saya cukup membeli 1 grande caramel machiatto with extra whipped cream and extra caramel sauce, dan saya diri saya kembali merasa bahagia. Atau cukup dengan jalan-jalan keluar kota yang agak jauh dari ibukota.

Sekarang setelah semua berhasil saya lalui, semua apakah? Ya pokoknya semua, berhasil menjadi seperti sekarang ini, berhasil "lepas" dari seseorang yang mungkin mengekang saya. Yang membuat saya nggak tahu apa-apa tentang Jogja, dan membuat saya menyesali itu. Hampir 4 tahun di Jogja belum ngerasain sate klathak, hampir setengah windu saya belum tahu kebun buah mangunan itu kayak apa, pantai-pantai di gunung kidul itu seperti apa, dan parahnya saya belum pernah ke bukit bintang. Nyesel nggak sekarang? Banget.



---
Tahun 2016, bukan tahun yang mudah buat gue, di awal tahun harus ngerasain yang namanya sakit hati. Mulai jatuh cinta lagi dan pertengahan tahun harus sakit hati lagi. Iya, itu kisah yang buruk banget memang. 2x sakit hati di awal tahun. Tapi sekarang semua sudah selesai. Semua sudah baik-baik saja. Bukan berarti ada orang lain yang menggantikan, tapi sekarang ini adalah pikiran dan hati sudah berdamai dengan keadaan, sekarang ini adalah waktunya memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Ketika kita nyaman dengan diri sendiri semua terasa baik-baik saja. Paling tidak, tidak ada lagi getar di dada ketika "dia" online facebook atau terpantau nge-like foto di instagram.


Saya memang tergolong orang yang susah sendiri. Mangkanya ketika saya berhasil melampaui ini, berhasil move on dari manusia-manusia terkampret di jagad raya ini, saya memberikan reward yang agak mainstreem. Reward yang cukup menguras 70% dari tabungan. 

Iya. Sebuah macbook.

Ini bukan semata-mata untuk reward yang nggak berguna dan hanya untuk gengsi, nggak sama sekali. Gengsi adalah nomor wahid dalam hidup gue. Yang penting adalah kebutuhan. Saya butuh macbook untuk akses yang cepat, untuk mobilitas yang gampang maksudnya saya suka pergi kemanapun saya mau hanya untuk mencari ide menulis. Karenanya saya butuh komputer yang ringan dan tanpa lemot. Laptop lama saya sudah lemot bikin uring-uringan tiap mau nulis. Dan booting yang lama bikin ide nulis jadi perlahan pindah haluan. Yha.


Nggak ada salahnya kan menghargai diri sendiri setelah pencapaian yang luar biasa?




*pict from apple.com

0 comments:

Post a Comment