Review: Sabtu Bersama Bapak

Disclaimer: Akan banyak spoiler tentang film Sabtu Bersama Bapak. Bagi yang belum nonton gosah baca. Trims.


Awal kemunculan Novel Sabtu Bersama Bapak (berikutnya saya sebut SBB), itu tahun 2014 kalo nggak salah. Saya waktu itu masih menjadi mahasiswa dengan isi dompet seada-adanya. wkwkw jadi nggak pernah ngikutin perkembangan dunia pernovelan.

Resmi memiliki novel karya Adhitya Mulya ini tahun 2015, tertarik karena seliwar seliwer di lini masa katanya recomended banget, dan kalo nggak salah pernah jadi best seller? Eh bener nggak sih?

Membaca novel SBB ini mewek-mewek bombay. Semalam suntuk saya baca buku ini dengan mata sembab paginya dan tissu yang ngga tahu habis berapa bungkus. wkwkwk. Ketika memulai halaman pertama buku SBB, saya rasanya nggak mau berenti sebelum habis. 

Novel ini bagus banget. Pesan-pesan yang bapak tinggalkan untuk Satya dan Cakra sungguh ngena, dan menjadi pembelajaran untuk saya. Dan nanti pasti akan saya rekomendasiin untuk dibaca oleh pasangan saya kelak. 

SBB adalah buku yang menceritakan tentang seorang bapak Gunawan Garnida yang mengidap kanker, dan divonis dokter jika umurnya tidak lama lagi. Padahal saat itu anak-anak bapak masih kecil, Satya dan Cakra. Dengan sisa waktu yang ada, bapak merekam pesan-pesan untuk anak-anak dalam bentuk video yang harus Satya dan Cakra saksikan setiap hari sabtu. Sehingga mereka tetap tumbuh bersama bapak namun dengan media yang berbeda.

"Jadi setiap hari sabtu kalian akan ketemu bapak. Hari lain kalian belajar yang rajin ya."

Bapak rekam semua nasehat untuk dua bersaudara ini mulai dari bagaimana merencanakan masa depan. Semua harus terencana, seluruh masa depan harus direncanakan, tapi jangan lupakan masa sekarang. Bagaimana sebuah IPK sangat mempengaruhi masa depan dan karir, walaupun diluar sana banyak yang mengatakan bahwa IPK hanyalah formalitas.

Lalu bagaimana seorang anak menjaga ibunya yang hanya satu, bagaimana seorang suami memperlakukan istri dan anaknya, bagaimana menjadi istri yang berbakti kepada suami dan mengurus anaknya dengan baik, dan bagaimana seorang lajang memperoleh pasangan dan akan menikah. 


"Dulu anak-anak kecil nggak ngerepotin kita, sekarang kita udah tua nggak ngerepotin anak."


Dengan membaca buku SBB, ada terbersit keinginan 'gimana ya kalo novel ini dijadiin film?' eh tahun berikutnya liat instagram siapa gitu ternyata film SBB sedang dalam proses syuting. Yay bakalan jadi film yang ditunggu-tunggu setelah AADC 2. 

Dengan cerita dalam novel yang sarat akan pesan tentang bagaimana menjadi ayah, ibu, anak, suami. istri yang baik, pasti setiap pembaca buku SBB memiliki ekspektasi yang sama dengan imaginasinya ketika cerita dalam novel tersebut di visualisasikan dalam bentuk gambar bergerak. Setiap pembaca pasti memiliki adegan favorit dalam buku yang ingin dilihatnya dalam film. Eng.. atau mungkin saya aja ya?

Adegan favorit saya dalam novel adalah ketika Satya menerima email dari Risa saat di rig, isi email tersebut adalah permintaan Risa yang meminta Satya untuk jangan pulang dulu jika kepulangan Satya hanya untuk  marah-marah kepadanya atau kepada anak-anaknya. Itu satu. Dua, Adegan ketika Satya pulang ke rumah dan mendapati rumah berantakan. Tiga, ketika Risa, Satya, Rian, Miku, Dani menjemput Rian di sekolah dan Rian murung karena diejek temannya, dan Satya menasehati Rian bagaimana menjadi anak yang jagoan.

Dan adegan itu semua tidak ada di film.

Saya mengerti, membaca novel yang habis dibaca dalam waktu semalam suntuk, dan itu divisualisasikan dalam film dengan durasi 2 jam sangat timpang jauh. Mungkin jika dibuat persis dengan novel, durasi film bisa semalam suntuk juga. Tapi menurut saya film SBB terlalu banyak penyesuaian dengan durasi sehingga ada lumayan banyak part penting dalam novel yang terlewat.

Di novel Satya-Risa punya 3 anak, di film hanya 2. Di novel, anak-anak tidak hilang. Dan pertemuan Saka dan Retna di Museum Fatahillah bukan di Ancol.

Ah ya itu hanya aku saja mungkin yang merasa sedikit kecewa dengan alur cerita di film. Tapi secara keseluruhan not bad. Film ini tetep bikin saya mewek dan ngakak dan mewek dan ngakak lagi di dalam bioskop. Tingkah lucu Cakra, Wati, dan Firman sudah cukup membuat perut kram. Selain itu akting para aktor dan aktrisnya patut saya acungi jempol. Apalagi Deva Mahenra dengan akting cupu canggungnya, gemesz. wkwkw

Film ini tetap saya rekomendasikan untuk para rakyat di usia 20an (halah). Yang sedang meniti jalan menuju kehidupan baru, film ini mengajarkan tentang bagaimana sikap kita dengan pasangan, dengan orang tua, anak, suami, istri. Pesan-pesan bapak nggak ada yang terlewat kok di film ini. Let's watching pumpung masih tayang di bioskop :)))




"Kata bapak saya dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain."





0 comments:

Post a Comment