Menjadi Orang Baik

Kemarin, gue habis jalan-jalan di sebuah mall di Bintaro. Sepulang gue main, waktu jalan dari mall ke parkiran gue kebarengan sama beberapa orang yang juga mau ke parkiran. Kami berjalan normal, biasa aja. Kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyepak aduh apa sih ya bahasanya, menendang kaki pejalan kaki yang ada diddepannya hingga menyenggol tas belanjaannya. Gue pikir itu temannya yang iseng nyapa. Kan biasa ya kalo temen ngeliat temennya gitu kadang iseng nabok atau ngejegal kaki temennya. Gue masih punya anggapan kek gitu sampai....

"Apa lo? Kenapa liat gue kek gitu?"


Gue pikir yang bilang itu mas-mas yang dijegal tadi, ternyata bukan, justru mas yang tadi ngejegal yang bilang gitu ke mas yang di jegal. Dengan nada tinggi. Padahal mas-mas yang di jegal itu cuma ngeliatin tas belanjaannya (mungkin memastikan kalo belanjaannya nggak kenapa-kenapa) dan ngeliatin mas yang jegal tadi. Mungkin maksud mas korban ngeliatin mas yang jegal karena memastikan siapa yang iseng ngejegal. Apa temennya sendiri atau kenapa? Gue tahu banget itu masnya yang jegal itu yang salah, orang masnya yang depan itu juga jalan normal nggak ada salah apapun karena gue jalan tepat disamping agak belakang dikit (halah.rempong). Mereka hampir adu jotos, atau kayaknya mas yang dijegal ini udah kena pukul deh, soalnya rangorang udah pada ngumpul. Gue memutuskan untuk jalan cepat ke parkiran karena takut kena imbas atau kejadian yang nggak gue mau. 


Aneh memang kenapa justru mas yang jegal ini yang marah? Kenapa nggak mengakui aja kalo salah orang, atau mas yang dijegal ini dikira temennya yang ternyata bukan? Atau nggak sengaja karena jalannya keburu-buru. Kenapa sih orang-orang metropolitan ini? Sebegitu susahya mengakui kesalahan? Sebegitu beratnya mengucap maaf? Minta maaf bukan berarti kita kalah kan? Bukannya meminta maaf adalah wujud ke-gentle-an seseorang?


Ketika sampai di parkiran, kebetulan mas yang dijegal ini parkir motor di belakang motor gue, nah waktu ini sempet denger pacarnya masnya ini ngomong "Bukannya dia yang salah ya? Kok malah dia yang marah-marah?" dengan nada kesal.


---

Menjadi orang baik. Apakah sesulit itu? Mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas apa yang pernah diperbuat, kemudian meminta maaf. Sesulit itu meminta maaf? Semudah itu membalikkan fakta?

Banyak sekali saya menemukan kisah selain cerita diatas. Orang-orang yang ingin dikenal baik oleh orang lain, orang-orang yang berpura-pura baik untuk sebuah eksistensi.

Menjadi orang baik bukan kita harus gembar-gembor tentang kejujuran, tapi tentang menerapkan kejujuran dalam kehidupan sendiri. Menjadi orang baik, bukan hanya yang rajin ibadah tepat waktu, tapi yang mengamalkan ibadahnya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi orang baik bukan yang pertama menyuarakan kepedulian terhadap orang kecil, tapi orang yang terjun secara langsung untuk memberi contoh bahwa peduli tidak hanya di mulut saja.

Menjadi orang baik, saya sendiri belum merasa menjadi orang baik, namun saya belajar untuk menjadi orang baik. Bukan baik dalam artian hanya ingin dikenal baik oleh orang lain atau dalam kurung pencitraan, tapi setulus-tulusnya baik. Sulit memang tapi nggak ada salahnya kan terus belajar dan mencoba?

Karena akan menjadi percuma jika ibadah wajib dan sunah kita on time tapi masih ngoplos air zam-zam pemberian teman dengan aqua dan air zam-zam asli kita bungkus dan dibawa pulang. Percuma koar-koar di sosial media "jika kita berbohong, maka akan timbul kebohongan yang lain, maka lebih baik jujur meskipun menyakitkan" tapi tugas kuliah aja masih copas punya teman. Percuma teriak-teriak "mana kepedulianmu!!" tapi menyisihkan barang 200.000 dari penghasilan untuk diberikan kepada yang membutuhkan aja masih ang-eng-ang-eng. Percuma menyarankan ke teman yang sakit untuk ini itu tapi tetap menyalakan AC hingga yang sakit jadi menggigil.  Percuma nilai akademik selangit tapi masih buang sampah sembarangan. 





Lalu, menurutmu menjadi orang baik itu, yang seperti apa sih?

0 comments:

Post a Comment