Kebutuhan Diatas Keinginan

Setelah punya pekerjaan sendiri, saya jadi merasa punya kuasa untuk membeli barang apapun yang saya mau. Apapun. Dari yang murah sampai yang mahal-mahal. Dari yang sangat penting, sampai cuma dipajang aja di meja, atau barang tersebut masih ada diplastiknya belum dibuka sampai sekarang, hanya karena untuk memenuhi "nafsu" belanja, atau hanya sebuah pelampiasan perasaan.

Sebagai perempuan yang konon katanya bendahara keluarga, mungkin seharusnya saya bisa lebih hemat dan lebih bisa mengontrol keuangan daripada seorang laki-laki. Harus lebih bisa mengutamakan kebutuhan diatas keinginan. Kebutuhan diatas sebuah gengsi.


Mengikuti gengsi tidak akan ada habisnya, yang akan habis adalah uangnya. Tapi untuk saya dari sekian banyak barang yang saya beli yang hanya berakhir di kreseknya, adalah barang yang mempunyai nilai rupiah kecil. Untuk barang dengan nilai rupiah besar saya pastikan adalah barang yang memang saya butuhkan.


Setiap orang memiliki ketentuan masing-masing terhadap barang kebutuhan mereka, dan segudang barang keinginan yang ada dalam pikiran mereka. Saya sangat menginginkan kamera mirrorless, dengan tabungan saya sekarang bisa saja saya membeli kamera Fujifilm X-T2 beserta kelengkapannya. Tapi kan untuk apa? Gengsi semata jika saya tetap membeli mirrorles dengan status saya yang adalah seorang pegawai dengan hobby menulis dan menggambar. Saya lebih membutuhkan sebuah laptop daripada sebuah kamera mirrorles. Kecuali saya hobby fotografi. 


Saya sebagai pegawai dan penulis pemula, saya rela menjebol tabungan untuk sebuah komputer/laptop yang ringan dengan kualitas cukup. Untuk itu macbook baru lebih penting untuk saya daripada saya harus bolak-balik ke servis center hanya karena laptop yang lemot, dan daripada kamera mirrorless, macbook dengan harga yang (mungkin) setara dengan kamera mirrorless lebih berguna untuk saya dan lebih mendukung kerja saya.


Berbeda jika mungkin hobby saya fotografi dan fotografi adalah kerja sampingan saya mungkin mirorless jauh lebih berguna daripada macbook baru. 


Saya dibiasakan orang tua saya menabung untuk memenuhi keinginan saya, kadangpun untuk barang yang tergolong kebutuhan jika itu berharga mahal saya diharuskan untuk menabung dulu. Iya, semua itu karena saya terlahir dari keluarga yang ekonomi cukup, cukup untuk makan dan minum juice tiap hari. hehehe. Nggak ding. Mungkin maksud orang tua saya adalah untuk saya lebih menghargai apa yang telah menjadi milik saya.


Sebelum memutuskan untuk membeli barang yang jauh dari kata murah, pastikan bahwa tabungan aman. Ada uang sisa untuk melanjutkan hidup dan untuk kebutuhan lainnya. Jangan merasa menabung untuk membeli barang yang mahal tapi untuk makan masih kembang kempis. Saya bukan orang keuangan sih yang bisa me-manage uang dengan baik, saya pun masih banyak belajar tentang bagaimana mengelola uang dengan baik, setidaknya memastikan tabungan aman sebelum membeli barang mahal it works for me, saya masih bisa melanjutkan hidup dengan macbook yang cukup menguras tabungan. hehehehehe






0 comments:

Post a Comment