Jadi, "Kapan?"

"Kapan nikah?"

"Emang nggak pengen punya anak?"

"Mana calonnya?"

Moment lebaran emang nggak jauh-jauh dari pertanyaan itu ya kan? Kapan? Mana calonnya? 

Buat sebagian orang mungkin kesel. Buat gue? Bodo amat. Gue cukup berterima kasih sama Tuhan udah kasih gue sifat cuek yang luar biasa. Sehingga gue nggak begitu gubris pertanyaan-pertanyaan sampah macam itu.

Kenapa gue bilang sampah? Ya, karena kita juga nggak bisa ngejawabnya ya kan? Memang nikah itu segampang tarik napas? Ya kalo pas nggak kena asma sih gampang-gampang aja. Memangnya nikah itu cuma butuh cinta? Makan juga kan perlu nasi, nasi beli berasnya pake duit bukan pake cinta.

Menikah. Semua orang juga pingin nikah. Tak terkecuali gue. Kalo mau jujur-jujuran ya gue mau banget nikah di umur gue yang sekarang. Siapa coba yang nggak kece umur belum middle 20an udah gandeng pasangan yang halal, apalagi kalo udah dikasih momongan, kan cute ke mall dorong-dorong stroller.

*bletak* 

Ok mimpi gue ketinggian. Kenyataannya sekarang, gue jomblo. Iyah gaes disaat diluar sana dedek-dedek SD gemes yayang-yayangan mesra-mesraan punya pacar, gue yang udah kerja dan mapan ini masih gigit jari tiap ke kondangan selalu dateng sendirian atau parahnya menculik secara paksa sahabat gue buat nemenin gue kondangan. Eh wait, namanya culik pasti dengan paksa kok ya? Eng... ok abaikan.

Bulan syawal musimnya orang nikah. Undangan sana sini bikin sumbang makin banyak. Selain itu pertanyaan-pertanyaan diatas tadi udah pasti dilontarkan oleh teman, maupun pengantinnya, "jadi, kamu kapan nyusul?"

Gggrrrr....

Eng.. mbak, buk, pak, mas, kalo kita bisa minta kita juga maunya habis ini nikah, tapi apa daya hilal jodoh belum kelihatan. Seandainya bisa ngomong gitu yah? Akhirnya kalimat yang keluar "Insya Allah ya doain aja." dengan senyum getir.

Menikah itu tentang menerima. Menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan. Mendampingi pasangan kala roda diatas, pun tak pergi ketika roda dibawah. Menikah itu bukan hanya tentang 2 orang, tapi tentang 2 keluarga yang saling menyatu, yang dulunya bukan siapa-siapa akhirnya bergabung menjadi satu trah.

Menikah bukan hanya tentang 2 orang yang saling mencintai, tapi juga tentang mencintai 2 keluarga. Bisakah si perempuan menerima keluarga si laki-laki? Atau bisakah si laki-laki mencintai keluarga si perempuan?

Menikah juga tentang menerima masa lalu. Nggak usah naif, bahwa masing-masing dari kita pernah sebegitu keras mempertahankan orang lain. Pernah sebegitu kacau ketika kehilangan orang lain. Dan pernah dibuat jatuh cinta oleh orang lain. Bisakah menerima itu? Seberapa berartinya quote "masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita." bagi masing-masing individu.

Menikah juga bukan hanya mencintai profesi salah satu, tetapi juga menerima kecerdasan dan pemikiran-pemikiran konyol pasangan. Tidak tertawa ketika pasangan melontarkan pertanyaan "kenapa senja begitu dicintai banyak orang?"

Menikah bisa semudah menarik nafas ketika asma tidak sedang kambuh. Tapi menikah bisa serumit menjawab soal logaritma.

Jangan tanya kapan menikah, sesungguhnya kami-kami ini ingin segera menikah, tapi apa daya Tuhan belum menemukan jodoh kami sekarang. Mungkin saat ini kami disuruh untuk belajar memasak supaya bisa membekali pasangan kami makan siang. Mungkin kami disuruh untuk rajin olahraga supaya sehat dan pasangan tidak minder kalo ngajak kita kondangan. Mungkin kami sedang di suruh banyak berkarya supaya ada yang bisa dibanggakan dari kami. Mungkin juga kami disuruh banyak berdoa dan mengaji supaya nantinya kami bisa mendidik anak-anak kami menjadi pribadi islam yang baik. Dan mungkin-mungkin yang lain yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan.

0 comments:

Post a Comment