I Am Just Not Ready About Haters Yet

Awkarin. Dimana-mana bahas Awkarin. Beberapa ada yang sampai viral dan menimbulkan banyak judgemental terhadap si empunya tulisan. Sebagian mengira haters sisanya mengira fans. Sampai tulisan itu hilang dari sosial media. Ada yang me-report as spam jadi tulisan itu dihapus secara sepihak.

---

Saya sebagai penyuka tulisan dan memiliki hobby menulis, saya belum siap jika salah satu tulisan saya menjadi viral. Saya seperti Karin, yang tak siap memiliki haters. Untuk itu saya sangat berhati-hati dalam menulis. Sering saya melempar pertanyaan kepada teman-teman dunia maya saya, apakah sekiranya pantas jika tulisan ini saya publish? Apakah tidak menimbulkan problematika ketika tulisan ini saya sebar? Apakah tidak ada yang sakit hati jika tulisan ini saya publikasikan? Beberapa menjawab ya, banyak juga yang berpendapat jangan. Salah satu tulisan saya tentang "nggak enaknya jadi PNS" akhirnya saya urungkan untuk publish karena ada saran teman untuk jangan publish, selain itu saya juga takut tulisan itu jadi viral. Saya hanya belum siap mendapat judgement yang negatif dari setiap yang membaca tulisan saya. Walaupun niat saya sebenarnya menulis itu hanyalah untuk mengingatkan teman-teman tentang sebuah profesi. Ada banyak profesi di dunia ini, jangan jadikan pns adalah idaman.  

Awalnya, saya menulis adalah sebagai pengingat. Tentang apapun yang berkesan dalam hidup atau setiap kejadian orang lain yang bisa saya jadikan pelajaran. Menulis untuk saya adalah penyalur nafsu ketika ada uneg-uneg, dan tidak ada orang lain yang bisa memahami pola pikir saya. 

Blog adalah satu dari sekian tempat saya menulis. Sebagai media saya belajar, sudah seberapa bisa saya menulis, sesudah sebagus apa saya menulis, bagaimana perkembangan tulisan saya dari awal saya mulai menulis sampai tulisan saya yang terakhir. Udah itu saja tujuan saya memiliki blog ini. Entah siapa yang akan membaca, saya tak peduli yang jelas tugas saya hanyalah tetap menulis.

---

Dunia maya memang berkali-kali lipat lebih kejam dari dunia gemerlap malam Jakarta. Salah ketik sedikit, tulisan menyebar kemana-mana dan jadi viral. Saya pernah dalam posisi ini, ketika saya menyalurkan kekesalan saya terhadap pelayanan suatu perusahaan di indonesia, saya mengakui saya juga salah disana, kata-kata saya kasar dan cenderung menghina. Efeknya? Saya dibully habis oleh geng kampung itu, dan saya di judge sebagai orang yang tak bahagia. ....Ok.

Saat itu saya mungkin belum paham bahwa orang berhak untuk menjudge kita sesuai pikiran mereka terhadap apapun yang kita tampilkan di sosial media. Saya stress luar biasa saat itu sehingga saya memutuskan untuk pergi keluar kota untuk rehat dan meluruskan pikiran saya.

Saya yang notabene hanya di judge oleh satu geng kampung, bisa sesetres ini. Gimana Awkarin? Gimana orang yang tulisannya viral tadi yang ternyata tulisan itu sudah dishare sebanyak 16ribu orang, sehingga dia perlu klarifikasi bahwa tulisan tersebut adalah untuk pembelajaran kita semua dari kehidupan Awkarin.

---

Sosial media memang memiliki dampak yang luar biasa, bahwa pandangan tentang seseorang hanya ditentukan oleh apa yang dia bagikan. Saya sempat dicap sombong sejak saya tinggal di Jakarta berdasarkan check-in saya di path. Saya dicap orang yang tidak bersyukur karena saya sering mengeluh di twitter, saya di cap orang pamer karena saya mengupload foto macbook baru saya di facebook. Yang mereka nggak tahu, setiap check-in adalah untuk bekerja. Yang mereka tak paham, saya hanya melempar kode untuk seseorang, yang mereka tak tangkap adalah seberapa besar pengorbanan saya untuk mendapatkan 1 unit macbook. 

Awalnya saya mendengar sound-sound negatif ini geram, ya karena saya belum siap memiliki haters. Tapi akhirnya saya berfikir bahwa mereka hanya tak lebih tahu tentang saya lebih dari apa yang saya bagikan di sosial media.



0 comments:

Post a Comment