Awkrn dan Generasi Remaja Masa Kini

Awkrn, atau Karin Novilda, udah pada kenal kan yah sama nama ini, walaupun belum, minimal tahu lah siapa awkrn?

Yep! Anak remaja kelahiran 1997. Di usianya yang sekarang 19 tahun, doi udah jadi selebgram yang punya banyak followers dan vlogger yang subcribe-nya udah ratusan ribu dan view-nya udah mendekati satu juta view.

Lalu ada apa dengan anak ini? Sampai di berbagai linimasa membahas tentang dia, sampai beberapa blogger mengulas tentang anak ini? Termasuk gue juga jadi tergelitik untuk sedikit mengulas soal karin.

Jadi, Karin ini adalah selebgram yang juga vlogger muda yang memiliki banyak fans. Dia memiliki pacar bernama Gaga. Dan di Instagram hubungan keduanya menjadi #RelationshipGoal di kalangan anak remaja jaman sekarang.

#RelationshipGoal macam apa sih? Kemudian saya kepo instagramnya. Wow.. ada beberapa foto yang memperlihatkan kemesraan mereka berdua. Saya berfikir bahwa mereka pacaran udah bertahun-tahun kali ya, jadi udah engga risih lagi meng-upload kemesraan?

Selidik punya selidik, ternyata mereka baru pacaran 5 bulan. Eng.. Oke. 5 bulan adalah masa sayang-sayangnya ke pacar, memang. Tapi tunggu. Foto mesra ciuman bibir, peluk-pelukan dengan pakaian yang minim, apakah wajar itu dilakukan oleh seorang remaja dan itu dipertontonkan dan dilihat oleh banyak orang? Untuk budaya barat mungkin iya, tapi untuk Indonesia saya rasa tidak.

Selain di instagram, mereka juga mengupload kemesraan mereka di vlog. Cium-cium, peluk-peluk, udah nggak canggung mereka lakukan di vlog. Saya nggak nonton semua vlognya sih karena lihat satu aja udah pusing rasanya. Saya memang orang yang nggak bisa nonton yang begituan, lihat daily life seseorang lewat vlog. Gils urus diri sendiri aja masih serampangan mau buang-buang waktu lihatin vlog. No thanks deh.

Di vlog, mereka juga banyak sekali umpatan. Belum 5 menit jalan itu vlog udah ada puluhan anjing keluar dari mulut mereka. Sebagai orang Indonesia dan jawa khususnya, kalo sampe orang tua saya tahu, masih dianggap anak aja saya udah bersyukur. 

Saya nggak tau pasti, apakah hal itu wajar di kalangan remaja kota besar? Apakah memang pergaulan karin dan teman-temannya ini udah kelewat batas.? Hingga di salah satu vlog, ada percakapan "Kamu ngaceng ya? Haahaha... Guys dia ngaceng..." Kemudian kamera diarahkan ke celana gaga. Eng...

Ini kayaknya udah berlebihan. Untuk ukuran anak sekolah, sex menjadi bahan bercandaan ini udah berlebihan.

...

Beberapa hari belakangan karin dikabarkan putus dengan gaga. Vlognya karin yang nangis-nangis jadi perbincangan banyak orang. Sebagian ada yang simpati, sebagian ada yang mencibir. 

"Yaelah baru lima bulan jadian, putus nangisnya kayak nggak ada hari esok."

Tenang dek Karin, nggak cuma kamu yang pernah ngrasain patah hati, saya bahkan sampai sekarang masih ngerasain patah hati padahal putusnya udah lama. Ketika saya seusia kamu juga pernah patah hati, pernah nangis-nangis habisin tissue, kayak zombie nangis sampe mata kayak habis disengat tawon, sampe berat badan di angka 38. Semua orang pernah, pernah banget ngerasain sakitnya patah hati. Mungkin yang membedakan adalah medianya. Dulu nggak ada youtube jadi nangis-nangisnya sambil mainan facebook. Atau kalo buat gue, patah hati sambil nulis tulisan galau. Ya, beda tempatnya aja. Mungkin kalau youtube udah beken dari jaman dulu, bisa jadi ada karin-karin lain yang mengungkapkan patah hatinya lewat youtube.

Balik lagi ke vlog, dalam vlognya, Karin bilang kalau Karin depresi karena komen-komen negatif di Ig pun Youtube. Duh, mungkin Karin lupa kalau dirinya kini sudah beken, yang artinya harus siap dengan pujian, pun sebaliknya harus lebih siap ketika banyak haters yang menyerang, terlebih pada apa yang udah dia tampilkan di Ig dan Youtube hingga mendapat image "bad girl". 

Selain itu -katanya- di vlognya juga Karin keceplosan kalau dia menggunakan kunci jawaban saat UN karena dia tidak belajar dan malah main terus dengan pacarnya, Gaga. Dan dia juga menolak FKUI demi Gaga tidak kurang perhatian karena Karin sibuk kuliah. 

Yha.

Karin hanya belum merasakan susahnya mencari pekerjaan (beberapa perusahaan menilai pelamar pekerjaan dari sosial media), belum merasakan patah hati di usia middle 20an, dimana setiap sujud, doa meminta jodoh nggak pernah lupa disebutkan.  Karin mungkin belum sampai ke fase dimana kawan-kawannya menikah dan dia menjadi seorang jomblo (nggak ada hubungannya sih ini gue cuman mau curhat aja.*halah*)

---

Di usianya yang masih belia dengan memiliki banyak fans merupakan capaian yang luar biasa, menurut saya. Tapi mungkin Karin lupa, bahwa menjadi terkenal adalah dengan menampilkan sisi baik dari diri sendiri, menjadi terkenal adalah menjadi contoh yang baik kepada orang lain, bukan sumpah serapah anjing bangsat atau menampilkan pacarnya yang sedang ngaceng. Mungkin Karin nggak tau, ada jutaan anak SMA, SMP, bahkan SD yang menjadikannya idola, yang udah menyaksikan vlognya atau sedang menunggu vlognya berikutnya.

Tapi dibalik itu semua, Karin adalah seseorang yang berprestasi. Ingat nggak dia pernah masuk berita karena dia meraih peringkat 3 UN tertinggi se-Kepulauan Riau dengan rata-rata nilai 9,5. Karena itulah yang membawanya ke jakarta. Shock culture, sehingga terjebak ke dalam pergaulan yang salah. 

Karin tidak berhak menyandang sebagai perusak moral bangsa. Karena moral dibentuk berdasarkan apa yang ada di sekitarnya, keluarga terutama. Bukan karena apa yang mereka tonton. Dulu youtube dibuat karena acara tv yang tidak mendidik. Tapi jaman sekarang apa bedanya youtube dengan TV? 

Maka untuk ibu-ibu yang memiliki anak yang menjelang remaja. Tanamkan moral yang baik kepada anak. Agar anak bisa memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah. Saya bukan mau menasehati, apalah saya single stress begini kok menasehati buibuk. Tapi memang generasi 90's dan 2000's ini berbeda jauh. Saya memiliki adik yang usianya satu tahun lebih muda dari Karin ini, dan memang entah karena media sosial booming di tahun 2000's sehingga mereka yang lahir di awal tahun 2000 ini cenderung lebih "berani".

Saya hingga saat ini masih berpandangan bahawa kata "goblog" adalah kata yang sangat kasar, dan secara otomatis saya tidak pernah pergunakan kata-kata itu. Pernah juga saya mengucap kata bodoh tolol, sampai di rumah saya disidang orang tua, dan sampai saya usia 23 tahun sebisa mungkin saya tidak mengucapkan kata itu lagi. Tapi untuk adek saya, kata-kata seperti itu udah menjadi hal lumrah. Saya pernah mendengarnya berkata kasar, meskipun dengan suara pelan. Saya bukan mau berbangga dengan generasi saya yang lebih baik. Rauwis-uwis nanti, generasi yang atas selalu merasa lebih baik dari generasi dibawahnya, padahal semua sama saja, hanya media dan teknologi sekarang semakin canggih.

Pandai-pandainya kita mengajarkan moral kepada anak, sosok seperti apa yang patut dan layak di jadikan role model sehingga anak-anak jaman sekarang tidak terperosok kepada pergaulan yang mulai kehilangan batas.








CMIIW :)

0 comments:

Post a Comment