Ternyata Saya Serapuh Itu

Berkali-kali jatuh, berkali-kali sedih, ternyata tak membuat diri saya kuat. Iya, saya tidak sekuat mulut saya berbicara "saya kuat". Menjalani Ramadhan dengan sendiri. Siapa bilang saya bisa? Mulut saya. Iya, hanya mulut saya yang bilang saya bisa. Hati saya? Selalu sakit, seperti tersayat sebilah belati.

Saya hampir tidak percaya semua laki-laki itu baik, sebelum mengenalmu. Dan kenyataannya memang semua laki-laki sama saja, tak terkecuali dirimu yang sempat saya agungkan, dan sempat membuat saya melupakan lubang menganga yang ada di hati saya. 

Dirimu itu, pernah beberapa kali menjadi tema tulisan saya di blog. Sempat dengan agung saya menyanjungmu, meskipun kenyataannya kisah cintamu disana belum selesai. Saya tak tahu, ternyata kesalahan terbesar saya waktu itu adalah dengan percaya setiap perkataanmu. Yang saya tak tahu adalah kenyataan kini sungguh berbalik arah dengan apa yang sudah pernah kamu katakan kepada saya.

Sakit, sungguh ngilu di dada begitu mengingat segala yang saya suka adalah berkaitan denganmu. Lagu faded, yang setiap diputar di radio, memory otak saya langsung tertuju kepadamu. Novel critical eleven, yang pernah kita debatkan bersama setiap huruf-hurufnya seperti menjadi dirimu. Apalagi kota Yogyakarta, yang menyimpan kisah tentangmu di setiap sudutnya.

Entah kapan saya bisa melupakanmu, entah sampai kapan saya hidup dalam kenanganmu. Meskipun sebentar, tidakkah kau sadar kau membuat lubang menganga itu menganga jauh lebih besar dari sebelumnya? Yang tadinya saya dengan gampang meluapkan segalanya dengan air mata, kini mata terasa kering. Hanya terasa panas, namun tak ada air mata. Ingin rasanya saya bisa menangis lagi sekedar untuk meluapkan perasaan betapa saya sungguh kehilangan kamu.

Ingin marah rasanya saya sama Tuhan, tapi Tuhan sudah terlalu baik terhadap saya. Hingar bingar kota Jakarta, dan kesempatan saya sesekali kembali ke Yogyakarta membuat marah saya terasa menjadi debu. Tuhan sudah terlalu baik untuk saya.

Kadang merenung, menatap nanar langit Jakarta sambil berbicara sendiri. Apa kurangku? Apapun bisa saya lakukan sendiri? Menggambar, menulis, dan kini saya bisa hidup sendiri? Cari makan sendiri? Apa yang salah dariku?

---

Menunggu menunggu menanti, saya hanya bisa menunggu dalam diam. Tak ada yang bisa saya lakukan memang, mencecarmu dengan berbagai pertanyaan pun sudah pernah saya lakukan, dan jawabannya? Bisakah kau jawab sesuai dengan yang saya pertanyakan? Kurang gamblang gimana saya membuat pertanyaan?

Mau marah-marah? Saya tidak suka marah-marah kecuali memang ada yang menyulut kemarahan saya. Dan saya menyesal pernah marah-marah sama kamu, karena saya terlampau emosi dengan segala sikapmu. Maafkan saya ya. 

Oh iya, yang kau tak paham adalah, betapa satu kata "hay" yang kau kirim melalui media pengirim pesan line sungguh mengubah hari saya. Kerja saya menjadi lebih semangat. Banyak berkas arsip yang selesai saya olah, dan cukup untuk menyunggingkan senyum di bibir saya.

Dan lagi yang tak kau tahu, saya masih bertahan dengan janji saya untuk bertahan dengan kondisi apapun. Saya masih pegang janji saya hingga tulisan ini di post, yang mungkin janji yang sudah kau lupakan. Saya akan bertahan hingga Tuhan meminta saya untuk berhenti. Saya tidak menyerah.



---

Saya mencoba memelukmu dengan doa, hingga hari ini, hingga jari-jari saya lagi-lagi menuliskan tentang dirimu, tentang kehilangan sosokmu. Tak pernah lupa saya menyebutkan namamu di setiap sujudku, dalam setiap saya menengadahkan tangan. Malam pun pagi.

Karena saya tahu, hanya itu yang bisa saya lakukan. Berdoa, meminta, supaya kau selalu sehat, lancar dalam setiap urusan, selalu dibantu Tuhan dalam setiap mengambil keputusan hidup, dan dilindungi dalam limpahan kasih dan rahmat Tuhan.


0 comments:

Post a Comment