Tentang Keikhlasan (Serba Serbi Pengamen)

Berawal dari membaca sebuah berita ini http://jogjastudent.com/gara-gara-tak-diberi-uang-pengamen-keroyok-mahasiswa/ gue jadi tertarik untuk sedikit berkomentar atau share sedikit pengalaman tentang pengamen.

Pengamen kini sepertinya sudah bukan lagi musisi jalanan. Kebanyakan mereka kini memaksa "pendengar" untuk memberikan minimal selembar ribuan untuk "kerja" mereka. Iya  kalo memang nyanyinya bagus. Lha kalo suaranya kayak kaleng krupuk diseret begimana?

Kembali ke berita tadi, kejadian di titik nol kilometer Yogyakarta, mahasiswa dikroyok pengamen karena nggak ngasih uang, gue cukup bersyukur nggak kejadian di gue waktu itu. 

Gue juga pernah ada pengalaman soal pengamen di titik nol kilometer. Belum lama ini, gue nongkrong di nol kilometer dengan seorang kawan, kami asyik ngobrol ngalor-ngidul. Selama kami ngobrol, beberapa pengamen menghampiri kami. Eh koreksi, banyak pengamen menghampiri kami. Sebelum mereka menggenjreng gitar mereka, kami mengangkat tangan tanda jika kami tidak ingin mereka menyanyi di hadapan kami, atau kasarnya kami tidak akan memberi mereka uang. Begitu. Beberapa dari pengamen mengerti kode kami, dan mereka berlalu begitu saja untuk menghampiri "penongkrong" yang lain.

Hingga pengamen kesekian, gue mungkin lupa atau gue sepertinya udah ngasih kode dengan mengangkat tangan seperti yang gue lakukan ke pengamen-pengamen sebelumnya tapi pengamen ini nggak lihat. Pengamen ini 2 orang, 1 orang perempuan. Mereka berdua menyanyi, aku pikir juga mereka ikhlas aja gitu nyanyi di depan kami padahal udah kami tolak, dan gue sama temen gue tetep asyik aja ngobrol. Terus begitu mereka selesai nyanyi, si pengamen perempuan ini menyodorkan bungkus ciki yang diubah menjadi tempat koin. Kami kompak mengangkat tangan menolak memberi uang. Lantas, perempuan ini mendekat ke gue sambil bilang 

"lain kali ngomong ya mbak, biar kami nggak capek."

Helaw, yang tadi tetep nyanyi depan gua siapa? Otomatis gue langsung bilang ke temen gue, 

"Bukannya tadi udah kita tolak?"

Sebegitu pamrihnya ya orang-orang sekarang? Sebegitu nggak ikhlasnya dalam melakukan berbagai hal. 

Pengalaman lain, di kopaja, gue juga dikatain sama pengamen karena gue nggak ngasih uang. 

"Pelit ya orang-orang sekarang? Ngasih seribu aja nggak mau."

Ini bikin ngelus dada beneran deh. Ampun. Dan kejadian ini bikin gue lumayan takut banget karena selain pengamennya mukanya serem, dia juga turun di tempat yang sama ma gua. Takut diikutin dan kebayang kejadian yang aneh2 bikin gua lari dengan sepatu berhak yang lumayan tinggi. Trauma nggak? Sedikit.

Tapi nggak semua pengamen seperti itu sih, beberapa tahun yang lalu, gue nemuin pengamen yang "real" pengamen. Waktu itu gue lagi makan, dateng seorang pengamen paruh baya, dengan gitarnya yang mulai usang. Beliau mengamen di depan warung, gue nggak tahu di akhir lagu dia bakalan ngiderin bungkus permen kayak pengamen pada umumnya, apa enggak, tapi pengamen ini nyanyinya lama banget. 

"ini kok nggak kelar-kelar nyanyinya?"

Setelah dirasa lama banget bapak ini nyanyi, gue langsung inisiatif nganterin duitnya ke doi. Beliau terima uang dari gue, berterima kasih lalu beliau lanjut nyanyi lagi. Gile. Satu lagu full habis dia nyanyiin. Kelar nyanyi, dia pergi, padahal aku lihat yang ngasih cuman beberapa aja. Nggak banyak.

Terharu.

Tapi kejadian itu udah bertahun-tahun lalu, mungkin sekarang kita nggak akan menemukan lagi pengamen seikhlas itu untuk menghibur orang-orang. Pengamen yang nothing to lose, dapet banyak ya syukur nggak ya seenggaknya sudah menghibur.

Dari sekian pengalaman, gue jadi banyak belajar untuk lebih ikhlas, lebih ihlas memberikan sedikit harta, pun ikhlas menerima segala caci maki. Mengajarkan gue untuk lebih banyak bersyukur, karena memang kenyataannya hal yang paling susah dilakukan dan paling mudah dikatakan adalah keikhlasan dan mengucap syukur.

0 comments:

Post a Comment