Celoteh Tengah Malam

Hujan perlahan mulai membasahi tanah yang sebelumnya tandus. Padahal hari ini ada jadwal aku bertemu denganmu. Mungkin langit ingin aku sedikit mengenang pertemuan hari ini dengan hujan yang amat lebat. Hujan kadang memang tak hanya sekedar air yang turun dari langit. Dari sana tercipta berbagai memory bagi sebagian orang. Sampai scene beberapa film harus diambil dengan keadaan hujan.

Kau membuatku mencintai hujan, yang sebelumnya aku sangat benci karena hujan membuatku sangat kedinginan waktu itu. Aku tak peduli lagi hujan akan selebat apa hari itu yang penting aku bersamamu. Bersama seorang manusia yang mungkin tak lagi muda.

Aku berada di belakangmu ketika hujan semakin lebat, seakan tak peduli ada dua anak manusia sedang berusaha menembusnya, seolah ingin menyaksikan seberapa kuat mereka mengalahkan hujan. Mereka tetap melaju di jalanan. 

"Kau kehujanan."

"Tidak."

"Kau basah."

"Tidak."

Ku jawab tidak, karena ku tahu kau akan melindungiku dari derasnya hujan, dari kerasnya air yang menerjang tubuhku. Kita berhenti di emperan toko.

"Pakai." kau mengulurkan jaketmu.

"Nggak usah. Kan nggak basah."

"Ini apa?" tanyamu sambil meraba punggungku. "Nanti kamu sakit. Sudah nggak usah ngeyel."

Kita sampai pada tujuan, dengan langit yang mulai mereda. Menyusuri jalan 0 kilometer Yogyakarta. Jalanan masih basah karena hujan barusan, langitpun masih menyimpan sebagian airnya, tapi tak menyurutkan kita untuk sekedar bersenda gurau, membicarakan entah apapun yang ingin mulut sampaikan.

Tak ada hal serius yang kita bicarakan, selain pertemuan yang sebelumnya, dan saling menceritakan kisah masing-masing. Tentang seseorang yang pernah aku perjuangkan mati-matian, dan tentang kau yang bertahan hidup dalam hiruk pikuk pekerjaan.

Kau membuat simpul manis dibibirku, menciptakan garis tipis di ujung mataku. Kau berhasil membuatku terbahak hari itu, hari selepas hujan. 

Kadang aku merasa Tuhan maha bercanda untuk setiap pertemuan. Kita jelas dilahirkan di tempat yang berbeda, tumbuh dalam keluarga yang berbeda, kamu dengan segala kepintaran dan keberuntungan sejak lahir, dan aku yang tumbuh dengan apa adanya.

Nyatanya? Kita bertemu. 

Di titik Nol Kilometer. Menyaksikan anak-anak berorasi di pinggir jalan, dan pengamen yang meminta sedekah, beberapa dari mereka mengomel karena kita keasyikan ngobrol hingga lupa tak memberi sedikit receh.

Hari beranjak gelap, kita putuskan untuk mengakhiri hari ini. Entah akan ada pertemuan yang sama atau tidak di kemudian hari, kamu sudah cukup membuatku sedikit melupakan sakit hati, membuatku jatuh cinta kepada rintik hujan, dan sedikit menciptakan kenangan tentang kota berhati nyaman.







0 comments:

Post a Comment