Tentang Kehilangan

Nggak ada orang mau ngalami yang namanya kehilangan. Nggak ada. Ya kan? Tapi mau ngga mau kehilangan itu suatu keharusan diluar batas kemampuan. Kemampuan menerima.

Kali ini "tentang kehilangan" bukan tentang kehilangan yang terkasih. Ini lebih daripada itu. Kehilangan rekan kerja yang teramat solid. Gue memang baru sebentar merasakan kebersamaan dengan Bang Hendri. Belum juga setahun. Tapi beliau sudah memberikanku banyak pelajaran dan pengalaman. Pengalaman dia, banyak dia ceritakan kepadaku. Sering kali kami bercerita hingga malam. Hingga tak sadar bahwa matahari telah lama tenggelam.

Bang Hendri, yang nggak ngomel-ngomel marahin aku begitu aku cerita aku ada keinginan pindah katholik (iya ini gue gilak). Bang Hendri yang ngenalin aku ke dr. Zakir Naik supaya aku lebih paham dan cinta dengan Islam. Bang Hendri yang ngajarin aku gimana bisa mundur dari seseorang yang nggak bisa dimiliki.


"kalo dia udah jadi "something" buat kamu tapi dia biasa aja, berarti kamu yang belum jadi "something" buat dia".


Itu kalimat yang selalu gue inget dari dia. Kalimat yang selalu gue inget kalo gue naksir orang tapi orangnya no respon. 

aku belum jadi something untuk orang itu.

Hari ini, katanya Bang Hendri dipindah. Hancur aku. Nggak ada lagi tempat aku bercerita. Tempat aku bertukar pendapat. Tempat aku mencari nasehat.

Mau nangis ketika di grup kantor membicarakan bang Hendri. Kalo mereka ngobrolnya di twitter udah jadi trending topic ini Bang Hendri. #SaveHendrik.

Yaaa walau masih sama-sama di Setjen tapi kalo pindah kantor kan tetep aja kehilangan. Biasanya bang Hendri yang pagi-pagi udah wassap "deeekk nasi kuning udah diatas." padahal gue mandi aja belom. 

"ada yang mau dibikinin coffee? atau teh?" waktu kami-kami ini lembur.

"pada mau makan apa neeh?" waktu jam makan siang.

"ai mau ke alfa, ada nitip something?" waktu dia ijin keluar kantor.

Daaaaan sekian obrolan yang cukup bikin gue menitikkan air mata waktu nulis tulisan ini.

Kalo kami bisa menahanmu untuk tetap di Pondok Ranji apapun akan kami lakukan bang Hendri. Tapi kalo di Setjen bisa bikin bang Hendri lebih baik dari saat ini, kami ikhlas melepasmu. Kami berhutang banyak banget, aku khususnya. Aku jadi lebih bisa menerima apa yang memang menjadi takdirku. Apa yang seharusnya aku hadapi. Tentang percintaan, tentang kehidupan.

Terima kasih banyak bang Hendrik, semoga Tuhan melancarkan semua tujuanmu, dan ibadahmu, Tuhan memberkati engkau dan keluarga.

Terima kasih atas touringnya tempo hari. Meta masih bisa ikut touring lagi kan kapan-kapan?


Oh iya, terima kasih udah ngajarin Meta naik motor kopling. Its work bang Hendri! Ai belum gantiin bensinnya neeeh...huhuhu.


We will miss you bang Hendri :'(


Foto waktu touring di Palabuhan Ratu











Rgds,
Meta.

0 comments:

Post a Comment