Menghapus Harapan

Minggu pagi, cahaya mulai menyeruak masuk ke dalam kamar membangunkanku dari mimpi semalam. Aku memimpikanmu. Kamu datang kepadaku memintaku untuk bertemu dengan ibumu. Mimpi itu hadir karena aku terlalu excited bahwa aku akan mengunjungi kotamu beberapa bulan mendatang. Aku kadang heran dengan alam bawah sadarku, bahwa apa yang aku fikirkan sebelum tidur pasti menjadi mimpi dengan skenario yang ajaib luar biasa.  

Aku membuka mata, mengecek handphone apakah ada pesan darimu. Tidak ada. Layar handphone yang kubeli mahal-mahal ini (handphone-nya yang mahal bukan layarnya doang) tak menampakkan apa-apa. Tetap dengan homescreen bulan pilihanku. 

Aku membuka roomchatmu, bahkan tidak nampak tulisan "read" diatas jam terkirimnya. Aku menghela nafas. Ada perasaan tak nyaman disana. Semacam pertanyaan "kamu kemana?" Pertanyaan yang jelas terjawab dengan kalimat "ngapain nanya-nanya emang kamu siapa?"

Mataku menatap nanar langit-langit kamar, seolah-olah disana ada jawaban kemana dan kenapa kau pergi begitu saja membiarkan kenangan-kenangan mengambang dalam pikiranku sendiri. 

Pikiranku melayang kepada beberapa waktu sebelum hari ini, percakapan yang mengalir tanpa ada paksaan, percakapan yang mungkin sekarang aku artikan sebagai bagian dari caramu untuk membuatku move on dari masa laluku. Tapi tidak untuk waktu itu.

"aku belum betah di jakarta. Nggak tau sih kalo sudah ada seseorang disini."

"Duh... Seseorang terus siih, nanti aku deh yang jadi seseorang itu.."

Membaca percakapan itu, kepalaku menjadi membesar 5x lipat dari ukuran semula.

Senyum getir mengiringi perputaran kembali percakapan yang mengalir selama beberapa waktu itu. Itu telah menjadi bagian dari cerita lama, bagian dari masalaluku. Sekarang? Aku harus mencoba menyusun kembali hati yang telah menjadi kepingan.

Aku memandang sekeliling kamar, mataku menatap sebuah novel yang pernah aku dan kamu perbincangkan. Critical Eleven. 

"Gimana? Mirip kan sama kita?"

"Nggak. Ini Anya sama Ale ketemunya 7 jam. Kita 48 jam."

"Siapa yang bilang sama? Aku bilang kan mirip!"

"Ale jemput Anya di kantor. Kamu nggak jemput aku di kantor."

"Terserah --""

Untung kamu nggak jawab "kan aku udah jemput kamu di Solo."

Yha. 

Novel yang kamu bilang mirip dengan pertemuan kita, aku sempat punya harapan bahwa endingnya kita adalah juga yang sama seperti ending yang ada di novel critical eleven, Anya dan Ale yang menikah. Lupakan dulu dengan pertengkaran mereka yang berbulan-bulan, meskipun begitu mereka baikan lagi kan dan hadirnya Adik Aidan ditengah-tengah keluarga mereka membuat hubungan mereka harmonis kembali. 

Harapanku inilah yang membuat hati ini hancur bahkan sebelum dia pulih kembali secara sempurna. Harapan yang tidak masuk akal untuk bersama mu selamanya, kamu yang ada aku dalam dirimu. 

Pikiranku kembali terbang ke percakapan kita yang lain:

"Kalo milih __ Islam atau orang yang kayak kamu, aku mending milih orang yang kayak kamu."

"Ada lho orang yang kayak aku. Kamu mau?"

"Oh ya? Mauu... Siapa?"

"Anak kita."

Kepalaku membesar ke ukuran maksimal. Entah apakah itu kau ucapkan dengan tulus atau hanya untuk menghiburku yang sedang patah hati habis-habisan.

Aku scroll percakapan yang berlangsung beberapa bulan itu ke titik awal pertemuan. Kubaca lagi hingga pesan terakhir, perasaan tak nyaman semakin merasuki dadaku, dan dengan hati sedikit bergetar ku geser kekiri nama yang tercantum dalam daftar chat itu, 

ARCHIEVE | DELETE

ARE YOU SURE YOU WANT TO DELETE THIS CHAT?

CANCEL | DELETE

Jempol ku arahkan ke tombol DELETE.

Sudah tidak ada percakapan yang bisa aku baca kembali. Karena kenyataannya, tidak semua harapan bisa terwujud, tak semua keinginan harus tercapai, dan tak semua cinta harus di balas dengan cinta yang sama.











Thanks,
Meta.

0 comments:

Post a Comment