Dua Puluh Tiga

Alhamdulillahhirobbil'alamiiin...

Cuman bisa mengucap syukur untuk hari ini. Tepat 23 tahun, mama melahirkan anak cantik yang kini udah bisa cari duit sendiri *benerin kerah*. Nggak nggak. Nggak sombong. Heuuu~

Ulang tahun, dan tahun baru menjadi tanggal-tanggal penentu buat gue, sekaligus pengingat tentang apa saja yang sudah dan belum tercapai. Menjadi hari wajib untuk menulis blog. Menuliskan harapan dan keinginan yang belum tercapai dan yang sudah untuk selalu disyukuri. Sebagai reminder buat gue sendiri.

Dua puluh tiga, aduh tua nggak sih? Tua ya? Iya? Aaaaaaakkkk.... Iya tua. Mulai masuk ke quarter life crisis dimana semua teman-teman sebagian sudah menikah dan gue punya pacar aja kagak. Masih mencari jati diri meskipun sudah kerja mapan, tapi masih banyak passion dari diri gue yang belum tereksplore (((tereksplore))). 

Menginjak dua puluh tiga, aku nggak minta banyak semoga aku selalu sehat dan terus bisa berkarya, itu aja. Tuhan udah terlalu baik untuk aku di dua puluh dua. Pekerjaan, hati yang udah bisa berdamai dengan kenyataan, yeah meskipun belum ada yang menetap tinggal, setidaknya hati sudah menerima ketika dia yang ku mau sudah bahagia dengan pilihannya. 

Dua puluh tiga, nggak banyak ucapan tapi cukup ucapan dan doa dari satu orang sahabat yang cukup membuat air mata ini perih begitu mata terbuka di pagi dua puluh dua april. Seandainya kita masih satu kota, kita rayakan hari ini sama-sama, Raisa. Aku aamiin-kan semua doamu. Terima kasih banyak sudah menjadi sahabat aku, menjadi teman dikala sedih dan bahagia.

Doa dari keluarga semoga segera dipertemukan denga jodoh yang sholeh, doa dari sahabat semoga kuat menghadapi undangan yang datang bertubi-tubi, doa dari gebetan semoga diberikan kemudahan jalan di dunia dan di akhirat kelak, doa dari kenalan semoga panjang umur dan sehat selalu, Aamiin...

Doa untuk aku sendiri, aku hanya ingin diberi kesehatan, kedewasaan dalam berfikir dan bertindak. Diberikan kreativitas untuk tetap berbagi ilmu dan inspirasi, diberikan semangat untuk menjalani kehidupan yang sudah pasti tidak mudah.

Dua puluh dua, terlalu buat aku nyaman. Usia yang belum bisa dibilang dewasa, usia transisi antara dunia remaja dan dunia orang dewasa. Dua puluh tiga, usia yang sudah mendekati dewasa, aku merasa takut untuk menghadapi usia orang dewasa dengan segala tuntutannya. I am not ready yet, but it must.

Thank you Twenty Two, Welcome Twenty Three. Surprise me!








Love,
Meta

0 comments:

Post a Comment