Tentang Bersyukur

Hari ini, (masih) dengan hati bergetar penuh syukur Alhamdulillah atas apa yang sudah saya dapatkan sekarang. Di usia saya yang sekarang, sudah bisa hidup mandiri tanpa sokongan materi dari orangtua, dan syukur Alhamdulillah apa yang saya dapat sekarang bukan karena adanya materi dari orang tua. Alhamdulillah tak henti-hentinya saya bersyukur kepada-Mu ya Allah Tuhan yang Maha Kuasa atas dunia ini.

Kantor sedang membutuhkan tenaga untuk mengelola arsip kementerian, dan kami diminta untuk mencari tenaga. Bukan proyek besar sih hanya mengelola beberapa arsip. Setelah job vacancy disebar ke berbagai grup dan media sosial, banyak rekan yang mendaftar. Melihat beberapa berkas lamaran yang masuk ke tempat saya bekerja, saya sedikit terhenyak, bahkan ada kakak tingkat yang ikut mendaftar. Teman satu angkatan kuliah pun ada yang sempat bertanya soal lowongan proyek tersebut. 


Saya baca CV masing-masing pelamar, tak sedikit yang memiliki IPK gemilang. Dari segi pendidikan pun ada beberapa yang strata 1, padahal untuk kami d3 saja sudah cukup. Ini hanya sebagian kecil dengan kualifikasi pendidikan yang sudah ditentukan. Apa kabar manusia-manusia diluar sana yang dengan major pendidikan yang bervariasi? Pasti banyak diluar sana yang membutuhkan kegiatan untuk mengisi hari-harinya yang kosong, pun membutuhkan pundi-pundi untuk mengisi dompetnya yang kering.


Saya terdiam, menatap beberapa CV di hadapan saya. Hidup terasa tak adil. Orang-orang ini menurut saya secara kualitas personal pasti lebih baik dari saya. Dari segi IPK bahkan saya lebih rendah dari mereka-mereka ini. Secara pengalaman organisasi jelas saya kalah telak dari mereka. Tapi, kenapa justru saya yang duduk di kursi ini dan memeriksa CV mereka satu per satu.


Hati terasa ngilu merasakan kegigihan mereka memanfaatkan segala peluang untuk bisa bekerja. Dan saya? Saya hanya duduk manis menunggu sarapan dan makan siang yang akan datang dengan sendirinya ke meja saya. Tiba-tiba saya teringat hampir 2 tahun lalu, kakak tingkat jauh di atas saya datang ke tempat saya magang waktu itu, dan beliau bercerita tentang bagaimana beliau ini bekerja hanya jika ada proyek-proyek. Padahal beliau sudah berkeluarga, ada perut yang harus beliau isi. Ada orang lain yang menuntut beliau lindungi dari panas dan hujan.


Sungguh saya malu saya sering mengeluh tentang pekerjaan saya, tentang Jakarta yang notabene dulu saya sendiri yang memilih. Saya mungkin lupa bahwa dulu saya rela menunggu kementerian membuka lowongan, dan tanpa ragu mencoret kementerian paling bonafid sejagad Indonesia Raya dari list padahal keluarga dan teman-teman mendukung saya untuk kesana, dan saya hampir lupa betapa saya nyaris berteriak ketika melihat hasil skor nilai ujian masuk pekerjaan ini diluar jangkauan saya sendiri.


Akhirnya saya menikmati pekerjaan saya dengan penuh syukur. Saya tidak berusaha terlalu keras untuk bisa mendapatkan pekerjaan ini, yang bahkan tanpa perjuangan yang berarti. Saya tidak perlu berjalan keliling perkantoran untuk menjajakan CV untuk mendapatkan pekerjaan, saya tidak perlu akses internet yang lebih untuk mencari berbagai lowongan di internet.


Bersyukur memang hal mudah yang sering orang-orang lupakan, mungkin pelamar-pelamar proyek di kantor ini adalah malaikat pengingat untuk saya lebih bersyukur, meskipun kadang terbersit iri ketika teman terlahir dalam keluarga yang kaya raya sehingga dia tidak perlu bekerja, atau teman yang dengan mudah berhasil masuk dalam perusahaan bonafid dengan gaji selangit. 




Hidup bahagia adalah tentang seberapa pandai kita mensyukuri nikmat.








Rgds,

Meta.

0 comments:

Post a Comment