Sebuah Kenyamanan

Hujan mengguyur kota berhati nyaman sejak pagi hari ini pun hingga malam ini. Seperti hatiku, yang sedang diguyur kenyamanan oleh seseorang yang ada di samping aku sekarang. Seseorang yang sedang mengantarku menuju tempat kelahiranku.


I can be your lover
You can be my lover
I won't need nobody but you


Lagu isyana terdengar dari radio yang diputar, kayak nyindir, atau mungkin kode,

i wont't need nobody but you.

Aku memalingkan pandangan ke arah jendela mobil, melihat rumah-rumah dan pepohonan yang ada dipinggir jalan, mereka seperti berlari kearah yang berlawanan.

"Mikirin apa?"tanyanya.

"kamu"

"jangan baper."

Entahlah kata-kata baper menjadi kata yang sering sekali kami ucapkan. Aku jadi agak benci kata-kata baper. Padahal yang sedang aku lakukan adalah serius.

Aku diam. Nggak menanggapi kalimatnya. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sibuk dengan imajinasiku.

Tiba-tiba dia meraih tanganku, dia genggam erat seolah tak ingin kehilangan. 

God.

Aku bergantian memandang antara dirinya dan tanganku yang ada digenggaman dia.

Apa ini maksudnya? Mau nolak kok ya nyaman, mau iya-in kok gue kek "murah"? Akhirnya yang gue lakukan? Diam. Sibuk dengan pikiranku sendiri. 

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkinkah dia orang yang Tuhan kirim untukku? Atau dia hanya orang yang hanya menyembuhkan lukaku?

Kadang aku benci menjadi orang dewasa, harus merasakan kehidupan yang serius. Merasakan cinta yang tidak main-main. Merasakan sakit hati ketika cinta yang diinginkan justru bertolak belakang dengan kenyataan. Meskipun itu adalah pilihan yang terbaik.

Seperti kisahku yang sebelumnya, beda agama. Putus adalah sebaik-baiknya keputusan, sebelum semuanya terlambat, terlambat menyadari dari yang sekedar cinta menjadi saling membutuhkan.

Tapi kisah itu kini sudah berakhir, meskipun ada luka, luka karena harapanku sendiri.

Kisah itu kini sudah berganti, digantikan dengan orang yang kini ada disampingku.


Aku tersenyum sendiri, bahkan nyaris tertawa, tawa kecil yang kutahan.

"kenapa ketawa?" ternyata dia sadar aku tertawa.

"aku sedang bahagia."

"kamu gila. Bukan bahagia."

Aku masih tertawa. Dia membelai kepalaku pelan. "kamu tidur. kan masih jauh dari rumah."  

Aku hanya memandangnya, hahaha aku benci harus merasakan ini, aku benci harus mengakui ini.



Bahwa aku, nyaman dengan kamu dan aku menginginkanmu.




Teruntuk kamu yang (mungkin) datang dan (mungkin) pergi lagi, tolong jangan membuatku nyaman karena kenyamanan tak sebercanda itu.












Rgds,
Meta.

0 comments:

Post a Comment