Sebatas Mengagumi

Aku benci perasaan ini. Perasaan kagum yang berujung menginginkanmu lebih. Bukan, bukan perasaan ingin memiliki. Hanya ingin tahu bagaimana tentangmu. Mengenalmu lebih jauh lagi. Aku tahu kamu luar biasa dari tarian jemarimu di keyboard laptop usangmu itu. Pilihan diksi yang kuat sehingga karakter tokoh yang ingin kau sampaikan berhasil merasuki setiap yang membaca tulisanmu. Entah kau anak sastra sehingga diksi yang kau pilih adalah hasil belajarmu bertahun-tahun.

Aku benci mengagumi, yang berujung perasaan sakit hati, begitu tahu kamu ada yang memiliki. Lagi-lagi aku salah orang. Lagi-lagi aku kecewa. Atau yang lebih menyakitkan lagi, kau bahkan tak tahu aku ada. Perempuan bisa apa ketika dia menyukai laki-laki? Hanya diam. Menunggu keajaiban.

Beberapa kali aku melihatmu di kantor. Aku tersipu ketika mataku menangkap sosokmu. Kau tak tahu aku. Aku pun. Hanya tahu itu kamu. Tak tahu pula siapa namamu. Hahaha. Iya aku hanya mengagumimu untuk pertama kali perjumpaan. Aku lupa itu kapan, dan aku juga sudah melupakan perjumpaan itu dan melupakan bahwa kamu ada. Hingga pertemuan tanpa sengaja yang kedua yang cukup untuk membangunkan kupu-kupu di perutku. Di depan lift waktu itu. Dan selesai. Aku melupakanmu lagi, dan aku sibuk dengan kisahku sendiri. Kisah beda agama yang kini sudah berakhir dengan air mata berbulan-bulan, dan disambung dengan pertemuan empat-puluh-delapan-jam-ku yang masih sampai sekarang, dan nggak tau mau digimanakan.

Hari berganti, rasanya hari berlalu sangat cepat ya kan? Tahu-tahu weekend tau-tau sudah senin lagi. Dan pada suatu hari, ada kamu di sebuah acara yang juga aku hadiri. Mungkin ini sebuah kebetulan? Pertemuan-pertemuan kita sekilas kembali menggerayangi pikiranku. Aku kembali pada waktu itu, ketika aku tersipu melihatmu. Dan kali ini, aku tak lagi tersipu. Mukaku merah padam! Itu kamu! Terpaut 2 kursi di sampingku. Sedang asyik di depan laptopmu. 

Aku nggak mau mengajakmu berkenalan. Gengsi ah. Hahaha iya, gengsiku sangat besar hanya untuk sekedar mengajak seseorang berkenalan. Aku hanya sesekali memperhatikan presentasi dan sibuk curi-curi pandang ke arahmu yang ku tahu kau sedang mengupdate berita untuk kantor kita. 

Hahaha ternyataaa update-an berita di facebook dan twitter itu kerjaanmu. Aku senyum-senyum sendiri.

"ngapain lo senyum-senyum sendiri."tegur teman yang duduk di sebelahku.

"nggak."kataku malu-malu. "temen lo ada yang jomblo ngga?" lanjutku bertanya ke temanku, maksudku ingin bertanya apakah laki-laki ini jomblo juga apa nggak, tapi maluwww. hahaha.

"sebelah gue jomblo nih. S2 di UI." jawab temanku.

"really?" tanyaku bersemangat.

"setahuku. Aku nggak banyak tahu tentang dia. Tertutup. Aku sendiri mau cari informasi ke dia susah." Ah... aku kecewa mendengarnya.

Aku pasrah saja kepada pencipta alam ini. Dia yang paling tahu aku untuk siapa dan siapa yang pantas untukku.

Setelah percakapan itu, temanku mengobrol dengan si dia. Ada semacam iri, ah andai saja aku yang menjadi temannya. Aku sibuk dengan pikiranku, dan handphoneku. Dan tiba-tiba temanku ini bertanya sesuatu kepadaku dan dia mendengarkan, dan dia bertanya ke aku:

"Gimana Meta?"


Whats??

He is know my name?

Kalian pasti tahu gimana rasanya ketika kalian suka seseorang diam-diam dan dia tahu namamu. Hanya tahu namamu. Aku pengen teriak rasanya siang itu. He is know my name.

Aaaaaaakkkkkk.....


Rasanya aku orang paling bahagia hari itu. Lebih bahagia daripada ciuman pertama. Aku cuma bisa senyam-senyum aja sepanjang hari itu. Seperti kembali ke masa SMA. Masa -masa ngefans sama kakak kelas. Cuma sekedar ngeliatin dia basket aja bahagianya berhari-hari. Iya, kesendirian membuat kita -gue lebih tepatnya- lebih gampang merasa bahagia. Lebih gampang merasa suka kepada seseorang tanpa ada yang cemburu. Bebas.

Hari itu, aku harus pergi touring dengan teman-teman, tanpa sepengetahuanku dia menginap di apartemenku. Aah seandainya saja dia menginap bukan hari ini, aku ada banyak kesempatan untuk mengobrol dengannya. Minimal tahu bagaimana caranya dia berbicara.

Lagi-lagi aku harus percaya rencana Tuhan. Aku percaya Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan umatnya yang berjodoh. Sekembalinya aku dari touring, dia masih di apartemen! Aku girang bukan main! Tapi saat itu juga dia harus kembali ke habitatnya. Yah, akhir dari pertemuan memang perpisahan kan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah berlanjut kepada pertemuan yang berikutnya atau hanya sekedar pertemuan singkat yang diakhiri dengan perpisahan. Cerita akan bersambung atau harus ditamatkan.

Semoga saja Tuhan sedikit berbaik hati ke gue, sehingga mendekatkan gue dengan dia (lagi). Meskipun tidak, aku cukup berterima kasih untuk telah mengalihkan aku dari apa yang seharusnya tidak aku rasakan.

Aku masih berusaha mencari tentangmu, mencari jejakmu di sosial media, karena aku tahu aku tidak mampu mencarimu melalui dunia nyata. Beberapa laman sosmed menemukan namamu. Ada beberapa tulisan yang kau buat, dan aku jatuh cinta pada tulisanmu. Bukan cerita pendek, hanya sedikit ulasan pemikiranmu tentang berbagai isu yang ada di negara ini. Tapi aku tak peduli, aku jatuh cinta atas pilihan diksimu. Caramu menjelaskan pikiran-pikiranmu. Aku seperti tersaingi. Aku juga harus sehebat kamu dalam menulis.

Aku juga suka menulis. Tapi sekedar menulis. Bercerita. Tentang apapun. Tentang yang aku alami. Ada beberapa cerita yang ingin aku bukukan. Itu cita-citaku. Cita-cita sejak lama yang nggak tahu kapan bakal terwujud.

Tentangmu, mungkin bakal menjadi cerita tersendiri untukku. Kekaguman pada pandangan pertama dan obrolan pertama. Terima kasih ya karena telah membuat kesendirian ini menjadi kesendirian yang bahagia. Meskipun aku hanya mampu mengagumimu secara diam-diam.












Rgds,
Meta.

0 comments:

Post a Comment