Saya dan Kekhawatiran Masa Depan

Wajar kan jika kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi? Atau ini merupakan hal yang berlebihan?

Masa depan, beberapa waktu yang akan datang, saya memasuki dunia orang dewasa. Atau mungkin sekarang sudah (?). Dunia yang sudah bukan saatnya untuk main-main lagi. Dalam hal apapun. Termasuk pasangan.

Beberapa hari yang lalu, saya dipamiti seorang sahabat kecil saya untuk menikah. Senang tapi juga shock. Oh saya sudah besar ternyata. Selama ini saya masih berfikir bahwa saya masih 22 tahun, masih lama untuk berkeluarga. Indonesia saja belum semua saya kunjungi. 

Selain itu saya belum siap membina rumah tangga dengan orang lain, laki-laki yang tidak ada hubungan darah dengan saya, yang akan menyentuh saya, setiap malam berbagi tempat tidur dengan saya. Rumit saya bayangkan bagaimana kehidupan itu nanti. Bagaimana kami nanti menyelesaikan masalah dalam keluarga, bagaimana dengan mertua saya, yang adalah orang tua baru saya. Bagaimana ketika nanti saya mengandung buah cinta kami, bagaimana ketika orang tua memaksakan bagaimana cara mereka mendidik anak sementara saya menganut sistem modern yang tak lagi menggunakan bedong. Tak lagi menambah sufor untuk bayi saya, dan memaksakan bayi saya asi eksklusif 6 bulan dan mpasi homemade setelahnya, menerapkan BLW juga. Sebagai (calon) ibu bekerja pasti sangat rumit membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Bayangan saya sudah tak karuan.

Apalagi kehidupan anak jaman sekarang. Era digital, anak 2 tahun dengan sendirinya bisa mengoperasikan gadget. Ketika saya bertanya kepada salah seorang ibu dengan usia bayi 2 tahun,"kok ___ bisa mainan youtube?" Dan si ibu ini menjawab nggak tau, dia bisa sendiri. Sedih saya. Anak ini pasti meniru orang tuanya, melihat aktivitas orang tuanya. Kekhawatiran saya adalah bagaimana saya mengenalkan gadget kepada bayi saya nanti. Cepat atau lambat gadget pasti akan meracuni dia. Sementara ego saya adalah, saya tidak akan mengenalkan anak saya gadget sebelum dia smp. Iya ini ego saya. Tapi kenyataan adalah meskipun nanti saya bisa tanpa pegang gadget di depan anak saya, nanti setelah anak saya mengenal lingkungan, anak-anak lain pasti pegang gadget. Tidak semua orang punya pemikiran seperti saya kan?

Mengenai ASI, beberapa baca di linimasa menyusui adalah hal yang menyakitkan. Bayangkan seluruh tubuh sakit saat masa-masa IMD. Tak hanya di linimasa, saya mendengar sendiri pengalaman senior saya tentang menyusui. Sakit. Setres. Lecet puting. Belum lagi kalo asi belum lancar bayi kita nangis rewel tak karuan. Gimana nggak setres? "Tar rasain sendiri deh kalo udah punya anak."

Dan banyak baca juga, asi melimpah bukan karena kita makan daun katuk dan suplemen2 pelancar asi, tapi dari ke-happy-an si ibu. Nah buat calon bapak niiih jangan bikin mamanya setres. Dibikin happy istrinya, ajak belanja. Kitu.

Ah sepertinya bahasan saya terlalu jauh ya? Udah sampe anak aja. Urusan pernikahan gimana? Nah ini juga masuk ke dalam kekhawatiran saya. Halah. Khawatir jodoh belum ada. Wkwk. Jangankan jodoh pacar aja nggak punya.

Kemarin saya sedikit curhat dengan rekan kerja, "gimana sih bun sampe kita itu bisa bilang "ini lho yang gue cari?""
Nanti kamu akan sampe pada bagian ini. Nggak gimana2. Begitu jawabnya.

Pasangan itu selain cerminan kita adalah tentang persamaan visi dan misi. Saya begini suami juga begini. Saya begitu suami juga begitu. Tak ada perdebatan yang berarti.

So far, ada satu laki-laki yang "aku" banget. Ada aku di dirinya, begitu. Tapi i have some problem with him.

Ah banyak sekali kekhawatiran-kekhawatiran yang lain yang saya sedang rasakan. Gimana? Ada yang mau bantu meringankan kekhawatiran saya?








Rgds,
Meta.




0 comments:

Post a Comment