Maret Dua Ribu Enam Belas

Haii...
Eh gimana ya nyapanya? Seminggu lebih ngga nulis, karena kesibukan yang ngga terlalu sibuk juga sebenarnya dan lebih ke nggak ada ide untuk nulis. wkwkwk.

Bulan ketiga tahun ini progress resolusi masih berjalan pelan-pelan dan hasil belum kelihatan tapi lumayan lah udah sering fitness, dengan target seminggu 3x tapi kenyataan yang berjalan masih seminggu sekali dua kali. Jangan ditiru.

Urusan asmara, masih stak jalan ditempat nggak ada progress yang berarti. Aku udah pernah cerita kan disini dan disini kalo aku ketemu dengan seorang laki-laki yang baik banget sama ku, dan bisa dibilang dia itu "aku" banget. Tapi disisi lain dia udah taken. Temanku juga bilang "udalaa laki-laki macam dia itu saat ini rata-rata udah taken, kalo nggak taken ya homo." Jadi ciut nyali gue.

Aku cerita lagi soal dia boleh kah?

Laki-laki ini.... entah lah bisa bikin aku ribet sendiri ketika dia nggak ada kabar seharian. Tapi dia nggak tau aku menunggu. Dia nggak tau aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya? Bagaimana progress skripsinya? Aku cuma bisa menunggu. Menunggu waktu yang akan membawa kabar dia.

Aku sadar diri, aku tahu diri bahwa aku hanya teman-empat-puluh-delapan-jam-nya dia. Tak lebih daripada itu. Mau ngarep apa? Dibanding dengan yang dia taken 4 tahun, aku apalah? cuma remukan rempeyek yang siap untuk dibuang.

Tapi, ada kenyamanan disana. Dimana ketika dia ada. Ketika dia hadir dalam hariku dan menyapaku. Ada semacam kalimat "jangan pergi" ketika dia hadir di pagi, siang, dan malamku.

Apakah ini cinta? Coba jelaskan bagaimana cinta itu ada? Bagaimana cinta itu hadir? Dan bagaimana cinta itu bekerja? Apakah cinta yang membuat orang tetap tinggal? Apakah cinta jika aku hanya mengenalnya selama empat puluh delapan jam? 

Sementara, aku sendiri ada luka yang harus aku sembuhkan dulu. Luka yang pelan-pelan mengering tapi masih terasa gatal. Iya, kadang masih gatal untuk diulik lagi dan justru itu yang menciptakan luka baru.

Kepada laki-laki empat puluh delapan jam-ku, bantulah aku mengartikan perasaan ini, bantulah aku keluar dari pikiran sempitku. Jelaskan padaku jika ini bukan cinta, bahwa kau tak memiliki rasa apapun kepadaku. Karena aku takut, aku takut aku jatuh cinta kepadamu. 

Malam ini, hari ke enam puluh dua di tahun dua ribu enam belas, aku menuliskan tentangmu, menyebutmu dalam perbincanganku dengan Tuhanku, laki-laki empat-puluh-delapan-jam-ku yang berjarak lima ratus tiga puluh enam kilometer dari tempatku berdiri.












Love,
Meta :)

0 comments:

Post a Comment