Kamu

Benar kan? Kamu hanya diciptakan Tuhan untuk sementara. Lagi-lagi aku harus berdamai dengan kenyataan. Melihat realita kehidupan yang selalu hanya sementara yang sesuai dengan keinginan. Selebihnya? Menahan perih untuk waktu yang tidak sebentar.

Kamu kini pergi, meninggalkan luka yang dulu sempat kau sembuhkan. Luka lama yang menganga (lagi) diganti dengan luka baru dengan cerita kita yang belum selesai. Eh? Tunggu, bukan belum selesai, hanya sedang dimulai namun sudah harus diakhiri. Seandainya kau tahu betapa aku menahan perih luka ini? Tapi siapakah aku memaksamu untuk mengerti? Aku, Hanya butiran debu yang kini sudah kau sibakkan.

Perih ini memang karena aku sendiri. Harapanku yang terlalu berlebihan kepadamu. Keinginanku yang tak masuk akal kepadamu, membuat aku runtuh begitu kenyataan tak sesuai yang ku mau.

Tapi apakah ini hanya salahku? Kau tak sadar kau sudah menghancurkan pertahanan yang ku bangun? dan sekarang kau pergi dengan tembok yang kini sudah kau hancurkan. Kau berhasil menyakitiku lebih dari apapun. Aku berterima kasih untuk itu.

Untuk kau yang kini pergi, entah apa yang bisa aku katakan kepadamu. Mencaci pun tak akan menyembuhkan luka, yang justru akan menambah luka. Aku hanya ingin berterima kasih, kau telah menyembuhkanku dari luka lama dan memberiku luka yang baru. Terima kasih.




Rgds,
Meta.

0 comments:

Post a Comment