Mendekati Sempurna

Sebelumnya, gue pernah cerita disini kalo gue ketemu sama seseorang.

Pertemuan gue tanpa sengaja dan rencana sebelumnya karena keputusan untuk belajar nyetir adalah keputusan mendadak, misi itu adalah satu dari program move on gue. Halah. 

Nah entah siapa yang bakalan mengira, gue justru suka sama orang yang ngajarin gue nyetir. Gue suka dia sejak gue ketemu dia untuk pertama kali. Entah dia tau atau engga tentang ini?

Dia gue nilai 93 dari 100, hampir sempurna untuk seorang laki-laki yang seumuran ma gue. Kurangnya dia, dia belum lulus. Udah. Tapi itu masih bisa dimaafkan karena pendidikan tidak melulu tentang masuk kuliah kemudian wisuda. Selebihnya, dia masuk ke dalam daftar cowok mustahil yang pernah gue impikan dibawah Afgan Syahreza.

Dia, orang yang gua puja saat itu. I adore him so much, and I want him.

Cuma yang jadi pertanyaan gue, How?

Gimana cara gue mendapatkan orang ini? Gimana dia bisa 'melihat' bahwa gue ada, bahwa gue menyukainya.

Sempet terlintas untuk memukau dia lewat prestasi, tapi prestasi gue paling tinggi cuma menang lomba makan kerupuk tingkat RT. Masa iya mau dipake?

                "Masnya ganteng deh aku suka, apakah ada tambahan kerupuk?"

Gue jadi keliatan kek kasir S*.

Merasa nggak punya prestasi yang bisa dibanggakan, gue berfikir untuk memukau dia lewat harta yang gua punya.

Lagi-lagi gua nggak punya apa-apa, buat makan sehari-hari aja musti mikir makanan apa yang paling murah biar besok gue juga bisa ngisi perut. Bahkan secara materi dia lebih berada daripada gue.

Gue merasa bukan tandingan dia.

Dia orang yang cerdas, sedangkan gue biasa aja dan malah cenderung bego. Bayangkan, dia sering ikut program dosen dan gue cuma menang lomba makan kerupuk? Oke, skor sementara Perikanan 1:0 Kearsipan.

Dia pinter masak, gue masak ayam gosong dan mbikin kamar mess bau gosong hampir seminggu. Perikanan 2:0 Kearsipan.

Dia cakep, gue jauh dari mirip ma Dian Sastro.

Dia pengusaha, gue budak pemerintah.

Dan sekian poin lagi yang membuat skor kami timpang jauuuh, dan karena itu gue berani ngasih dia nilai yang tinggi.

Tapi 1 hal yang membuat dia terlihat sangat kurang.




    Dia milik orang lain.






Kalo kata romeogadungan, Tuhan menjatuhkan gue kepada hati yang ada pemiliknya.









Love,
Meta.

0 comments:

Post a Comment