Istana Pasir

Yogyakarta, pukul 5 pagi.

Matahari belum sepenuhnya bangun. Tapi sedikit cahayanya sudah menyeruak diantara atap rumah warga.

Gue menstarter motor gue menuju pantai selatan jawa. Sepagi ini? Iya gue udah terbiasa menjelajah kota nyaman ini. Bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya.

Jalanan masih sepi, hanya satu dua pengendara yang melintas dan gue tebak mereka-mereka ini akan kulakan di pasar.

Hawa dingin terasa menusuk ketika memasuki pegunungan gunung kidul. Namun tak menggoyahkan niat gue untuk mengunjungi sebuah pantai di pesisir jawa ini.

Portal masuk pantai sudah terlihat dari kejauhan, beberapa pasang muda-mudi mengendarai motor berjalan ke arah yang berlawanan dengan gue. Entah apa yang mereka lakukan di pantai?

Setelah memberikan beberapa lembar rupiah, perjalanan hingga sampai ke pesisir pantai masih lumayan jauh. Portal masuk ke pantai ini letaknya nggak tepat di sebelah pantai. Sekitar 10 menit perjalanan, debur ombak mulai sayup-sayup terdengar, seperti tak pernah lelah selalu mengalun bagaikan biola yang di gesek. Oke gue lebay.

Gue memarkirkan motor di parkiran pantai. Gue lalu berjalan menyusuri pantai. Mencari spot terbaik untuk membangun istana pasir.

Tampak di sisi pantai sampah banyak berserakan. Mungkin semalam ada yang berpesta? Mengingat ini adalah satu Januari. Indonesia ini kapan mau maju kalau warganya aja masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Masih ada beberapa tenda terpasang di sisinya, dan beberapa remaja yang berjalan-jalan di pantai untuk mengambil foto selfie. Mereka merayakan tahun baru dengan beach camp. Nampaknya seru. Akan gue contek lain waktu.

Setelah mendapat tempat yang lumayan, Istana pasir yang sederhana mulai ku bangun. Susah. Payah. Berkali-kali tergulung ombak karena gue memang sengaja memilih tempat yang dapat dijangkau ketika ombak besar datang.

Satu jam. Satu setengah jam. Istana pasir yang gue bangun dengan payah jadi. Gue memandangi hasil karya gue pagi itu, lalu gue keluarkan sebuah foto dari saku celana yang udah gue persiapkan dari rumah kos. 2 muda mudi dengan senyum lebar. Tanda keduanya sangat merasa bahagia. Foto di depan bola bintang ketika kedua orang itu menikmati malam di kota Surabaya. Memori hari itu kembali berputar diingatan gue. Gue nggak bisa move on.

Lama gue  menatap foto itu, untung angin tak berhembus kencang sehingga ombak tak begitu bersar dan istana pasir gue masih berdiri kokoh dalam waktu yang lama sehingga gue bisa menatap foto itu dan istana gue dalam-dalam.


Seandainya kita tak pernah dipertemukan.


Itu pikiran gue terakhir. Sebelum meletakkan foto itu di puncak istana pasir buatan gue. Gue letakkan foto itu di puncaknya, dan memastikan foto itu menancap kuat di istana pasir gue. Tanda kita pernah berjuang bersama untuk meraih bahagia. Sebelum kau melangkah pergi.

Kembali kutatap istana pasir yang kecil dan sederhana, dengan foto kita di puncaknya. Gue sudah cukup berjuang.

Matahari semakin terik, kacamata hitam yang udah gue persiapkan cukup menghalangi teriknya matahari ke mata gue. Lalu, gue berjalan meninggalkan istana pasir itu.

"Sudah cukup. Lupakan dia Ta. Kamu udah cukup berjuang untuk dia. Move on."

Angin berhembus kencang, gue berbalik badan, dan melihat ombak menelan istana pasir gue dalam2, pun foto kita berdua. Entah kemana lautan itu akan membawa foto kita. Gue tak tau. Gue tak peduli lagi.



Di pesisir jawa, aku (akan) melupakanmu.





Untuk hati yang kini (sudah) memilih pergi.

0 comments:

Post a Comment