Dani (bagian 1)

"Kamu udah gede mas, masa iya harus bapak carikan perempuan yang akan mendampingi kamu? Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya kan?"Kata Bapak kepadaku di suatu senja.

"Tapi, Dani memang belum ada yang cocok pak. Jangan paksa Dani untuk menikah. Dani sedang ingin sendiri."

"Tapi bapak udah tua nak, ibumu juga, kami butuh anak-anak yang bisa menghibur kami. Anakmu."

Dani terdiam.

"Kamu mau nunggu apa lagi? Kerja udah mapan, udah S2 di Belanda. Kamu mau menunggu? Dimana-mana itu laki-laki yang mencari, Dan. Bukan perempuan yang datang. Pikirkanlah lagi."lanjut bapak kemudian berdiri dan masuk ke rumah. Sayup-sayup ku dengar ibu berkata kepada bapak

"Ada apa tho pak? kok mbesengut gitu?"

"itu lo Dani, nggak nikah-nikah, kan rumah kita sepi bu. Dani kerja sampai malam. Dona di Jogja juga pulangnya jarang."

"kok malah bapak tho yang senewen? Lumrahnya kan ibu-ibu yang udah kepengen punya cucu."

"ya keluarga kita ini kan beda bu."

"Yowes, sing sabar pak. Nanti kalo Dani udah nemu yang cocok lak yo dibawa pulang."

Dani yang mendengar percakapan ini menghela nafas panjang. Berpikir. Mungkin bapak benar. Sudah saatnya Dani cari istri. Di usia Dani yang menginjak 32 tahun belum ada tanda-tanda dia akan meminang seorang perempuan. Kesibukannya di kantor membuatnya lupa akan kodratnya sebagai laki-laki adalah mencari, dan perempuan adalah menunggu untuk dipilih.

Dani sebenarnya dekat dengan seorang perempuan, sekantor dengan Dani. Dani menyukai wanita ini. Tapi Dani ragu, apakah dia adalah wanita yang tepat untuk Dani?

Dani merogoh kantong celananya dan mengeluarkan gantungan kunci berbentuk Big Ben dan menatapnya. Gantungan ini pemberian wanita itu tadi siang, sepulangnya dari eurotrip bersama rekan-rekannya semasa dia kuliah.

Dia suka sekali traveling. Berbeda dengan Dani yang sangat menyukai ketenangan. Di dalam perpustakaan atau di dalam ruangan kerjanya yang memang banyak sekali buku-buku koleksi Dani.

Lama sekali Dani menimbang-nimbang gantungan Big Ben itu. Apakah sebaiknya benda ini kumakan saja? Nggak nggak. Dani nggak serakus itu. Dia masih doyan daging ayam dan sayuran.

Dani seperti ditarik lagi ke dunia nyata begitu ibunya memanggilnya.

"Daaan..... Ibu bisa minta tolong sebentar?"Teriak ibunya dari dalam rumah.

"Iya buu."Jawab Dani dan segera anak sulung dari keluarga Daryono ini menghampiri ibunya.

"What can i do for you Mom?"

"Kamu itu ngomong bahasa planet mana? Jangan mentang-mentang pernah tinggal di Eropa terus kamu sombong sama ibu nggak mau ngomong pake bahasa indonesia.."

"Yo ndak gitu bu. Ini Dani ngomong secara sopan sama ibu. Apa yang bisa Dani bantu untuk ibu." Kata Dani sambil mengelus dagu ibunya. Bu Daryono hanya mendelik ke arah Dani seolah mengisyaratkan kalimat "kamu ini bisanya cuma ngrayu."

"Ini lo, ibu mintak tolong pasangin gas. Ibu mau masak belut kesukaan kamu."

"Oke Mom."


Malam itu keluarga Daryono menikmati hidangan istimewa buatan Bu Daryono. Belut santan campur kol. Makanan favorit Dani. Bu Daryono memang orang yang paling mengerti Dani.

Dani kembali hanyut dalam pikirannya sendiri.

Mungkinkah istrinya nanti seperti ibunya? Apakah istrinya nanti bisa memahami keluarganya? Apakah istrinya bisa memasak seenak masakan ibunya? Apakah istrinya bisa sangat menyayanginya seperti ibu Daryono yang sangat menyayangi Dani?

Pikirannya terarah ke wanita itu, wanita yang memberinya gantungan kunci berbentuk Big Ben. Wanita cantik yang dia panggil, Dinda.




"Dan, telepon adikmu gih. Tanya, Dona udah makan belum." Kata bu Daryono tiba-tiba menghancurkan lamunan Dani.

0 comments:

Post a Comment