Aku, Kamu, dan Tuhan Kita

Matahari bersinar cukup terik siang ini, di sebuah kota yang orang-orang bilang berhati nyaman, dan memang kenyataannya kota ini membuat nyaman penghuni-penghuninya, dan selalu membuat orang yang berkunjung ingin kembali ke kota ini.

Ting....! 
Sebuah whatsapp dari kamu yang selalu aku tunggu.


Aku udah di bawah.



Kalimat sederhana yang mampu membuat aku berbunga-bunga.


Aku segera turun menghampirimu.

"Ayok jalan. Udah makan belum? Makan dulu yuk?" kataku sambil menghampiri laki-laki yang selalu membuatku tersenyum sendiri.

"Mau makan apa?"

"Sup kayaknya seger untuk siang-siang panas kayak gini."

"Boleh."

Pergilah kami berdua ke kedai sup langganan yang tempatnya lumayan jauh dari rumah kos yang selama ini aku tempati.

Sebelum berangkat, tidak lupa ia menangkupkan kedua tangan, menundukkan kepala beberapa detik menggumamkan doa Bapa Kami, dan membentuk tanda salib. Kebiasaan ini yang selalu aku kagumi dari sosoknya. Dia selalu ingat kepada siapa dia menggumamkan doa. Tidak sepertiku yang terkadang lupa mengucap "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".

Di perjalanan entah kenapa aku ingin memeluknya. Sebuah pelukan yang mengisyaratkan bahwa aku tak ingin kehilangan dirinya.

Sambil memejamkan mata, aku tercenung. Larut dalam pikiranku sendiri. Tuhan, apa maksudMu mengirim dia kepadaku? Apa maksudMu mengijinkanku memeluknya hari ini?

Kami dilahirkan berbeda, tentu saja. Dia laki-laki dan aku perempuan. Namun tak hanya itu, kami berasal dari tempat yang berbeda. Aku dari tanah jawa dia dari tanah Borneo, walaupun berasal dari Kalimantan, dia memiliki garis keturunan Ningrat, sedangkan aku tidak meskipun aku dari jawa. Dia menyukai komik, aku memilih novel. Aku penyuka warna biru, dia hijau.

Namun perbedaan itu tak cukup untuk menggoyahkan rasa toleransi kami. Kami menganut kepercayaan bahwa perbedaan adalah warna bagi setiap hubungan. Tapi ada satu perbedaan dari kami yang selalu menelisik hati, yang selalu mengusik pikiran meskipun masing-masing dari kami berusaha untuk tidak memikirkannya. Perbedaan yang tak hanya membuat perjalanan kami menjadi berliku tapi mungkin bahkan buntu.

Kami memiliki Tuhan yang berbeda.

Dia tumbuh dalam ajaran sekolah minggu. Sedangkan aku selalu beramai-ramai dengan kawan untuk mengaji kepada ustadh yang diutus langgar desa untuk mengajari anak-anak mengaji dan membaca Al Qur'an semasa kecilku.

Entah, sampai saat ini pun aku tak tahu mau dibawa kemana hubungan yang terlanjur rumit ini. Dalam pelajaran kewarganegaraan yang kami pelajari sewaktu di bangku sekolah tak menjelaskan bagaimana cara bertoleransi antar umat beragama dalam konteks asmara. Dalam undang-undang dan dalam kitab masing-masing juga tidak dijelaskan bagaimana ketika kami umat Tuhan yang tidak sempurna ini jatuh cinta dengan umat yang memiliki Tuhan yang berbeda?


Ada semacam iri ketika menghadiri pernikahan teman dengan ijab qobul, dengan si mempelai pria menjabat erat tangan ayah mempelai wanita dan mengucapkan kalimat "saya terima nikahnya.........". Aku berani bertaruh, bahwa dia juga mempunyai mimpi yang sama. Berjalan di altar untuk melakukan pemberkatan pernikahan, berjanji di hadapan Kristus akan mencintai istri dan mendidik keluarganya dalam jalan keselamatan yang diajarkan oleh-Nya.

Mungkin pilihan jawaban untuk tetap bersama bukanlah jawaban yang tepat untuk kami. Ada tanggung jawab yang ia pikul pada Tuhannya dan orang tuanya, pun aku.

Lalu untuk apa Tuhan menciptakan cinta diantara kami, padahal jelas kami tak mungkin bisa bersatu?

Mungkinkah untuk mengujiku seberapa besar aku mencintai Allah dan Muhammadku? Ataukah untuk membuatku percaya bahwa Yesus benar-benar Tuhan?

Perasaan ini begitu nyata untukku. Kepadanya aku menjatuhkan hatiku. Aku tak mau memilih antara dia dan imanku. Imanku jelas tak pantas untuk dijadikan pilihan. Seandainya Tuhannya bisa sedikit berbaik hati? Tapi nampaknya ini hanya dalam pikiranku saja.

Tak terasa perjalanan sudah sampai di kedai langganan kami berdua. Aku turun dari motor, dan sebelum masuk kedai tak lupa dia bersyukur membentuk tanda salib tanda terima kasih Tuhan telah memberkati perjalanan kami.

Aku kembali larut dalam pikiranku sendiri.

"Ayo masuk. Kok melamun, kamu mikirin apa sih?"tanyanya mengagetkanku.

"Gapapa." jawabku singkat.

"Ayok. Aku udah laper nih." katanya sambil menggenggam tanganku.

Ku tatap tangan yang perlahan menarikku ke dalam kedai.

Aku mengambil napas panjang.

Seandainya perbedaan kami tak serumit ini. Seandainya berbedaan kami hanya perbedaan pendapat siapa yang lebih dulu ada, ayam atau telur? Seandainya perbedaan kami masih dalam batas toleransi.

Dan aku hanya bisa berandai-andai. Angan yang terlalu tinggi bahwa andai saja bukan Gereja yang ia kunjungi setiap minggu dan sajadah tempatku bersujud tiap 5 waktu, bukan doa Bapa Kami yang ia lafalkan dan ucapan basmallah yang aku ucapkan setiap kami berdoa, dan bukan tanda salib yang ia bentuk dan menyapukan tanganku ke wajah setiap kali kami selesai berdoa.

Seandainya Tuhan tidak menciptakan cinta diantara kami.

Seandainya Tuhan tidak mempertemukan aku dan kamu.


Karena aku, kamu, dan Tuhan kita berbeda.










Love,
Meta

0 comments:

Post a Comment