Rintik Hujan Menjelang Senja

"Hallo....."
Terdengar sapaan dari seberang menyadarkan lamunanku setelah menunggu dua kali panggilan yang tak dijawabnya.
"Barusan mandi, barusan sampai kost. Ada apa?"tanyanya dengan  suara yang lucu seperti biasa.
"Nggak apa-apa. Cuman mau ngobrol. Ganggu kah?"tanyaku.
"Nggak...."Jawabnya singkat.
Obrolan berlanjut dari sekedar ngomongin kerjaan sampai hal yang ngga penting.

Tapi ada sesuatu yang berbeda saat itu. Perasaan nyaman bercampur sedih bercampur patah hati.

 I don't want you to leave me. I want you to stay.

Ingin sekali kalimat itu ku sampaikan untukmu, tapi bibir ini lebih ringan untuk mengucapkan, Ya, aku sudah siap melepasmu.

Air mata ku sudah di pelupuk mata, tapi seperti ada tanggul disana. Aku mencoba tegar.

Gerimis sore itu mulai turun, ditemani senja yang mulai menguning dan suaramu yang terbatas jarak 636 km, namun seperti hanya sejengkal dariku.

"sudah makan?"
"belum."
"makan dulu nanti sakit." katanya mengingatkan.

Ku ingin ada percakapan seperti ini setiap hari tapi kini rasanya seperti mustahil. Kau memilih untuk pergi, meninggalkan kenangan yang ada di setiap kota yang pernah kita kunjungi bersama.

Untukmu sejauh 636 km dari tempatku berdiri, terima kasih sudah memberiku kenangan yang manis meskipun kebersamaan kita tak lama kau memberiku banyak sekali pelajaran.

Tentang pekerjaanmu, tentang teman-temanmu, tentang keluargamu, dan tentang agamamu. Karena perbedaan yang terakhir memaksamu, memaksa kita untuk menjalani kehidupan kita masing-masing.


Sore itu, ditemani senja dan rintik hujan, ku melepasmu pergi..... 







Love,
Meta :)

0 comments:

Post a Comment