Jakarta

Jakarta, 1 Desember 2015

Hampir genap 7 bulan gue hidup di Jakarta, banyak banget yang udah gue dapet disini. Ngerasain penuhnya Jakarta, sesaknya Jakarta, panasnya Jakarta, dan segala hiruk pikuknya Jakarta. Gue ngga habis pikir kenapa sih orang-orang ini betah banget tinggal di Jakarta? Sini tuh pengen looh pindah dari Jakarta. Rasanya penuh, Jakarta tuh. Padahal gue ya dulu pengen banget tinggal di Jakarta.

Hari ini ada satu hal yang mengusik pikiranku. Apasih yang bikin jalanan Jakarta macet? Lampu merah kah? Bukannya ini mengurangi kemacetan ya harusnya? Palang kereta kah? Bukannya ini justru menyelamatkan kita dari maut?

Jawabannya menurutku simple sih, karena kita ndak tertib. Karena kita ndak sabar. Diperjalanan pulang dari SS macet dari jembatan tol pondok ranji. Arah ciputat 5 motor berjajar memenuhi hingga batas tengah jalan sehingga yang arah sebaliknya kesulitan untuk megambil jalan, yang menyebabkan macet parah menjelang perlintasan kereta pondok ranji, ditambah banyak angkot yang menaik turunkan penumpang di dekat rel, tambah kacau lah keadaan lalu lintas disana. Tadi ada satu pengendara motor yang marah hingga dia memukul kaca angkot yang berhenti di tengah kemacetan. Sungguhlah aku ndak mengerti apa yang orang-orang ini pikirkan. Ndak bisakah sabar sebentar, angkotnya juga ndak bisakah melihat keadaan sekitar?

Coba kita sabar, antri dengan tertib sesuai jalur yang sudah ada, bukannya dengan mengantri, perjalanan menjadi lancar? Sekali kita ndak sabar waktu kita semakin habis dijalan. Bener nggak?

Atau mungkin jakarta sudah terlalu banyak orang, termasuk gue yang menambah penuhnya kota jakarta. Gue yang tadinya hidup ena di kampung malah nambah-nambahin bruwetnya Jakarta.

Namun, dibalik bruwetnya kota Jakarta terselip nikmat yang luar biasa ketika kita pulang kampung. Menghirup kampung halaman dan sejuknya kota Jogja membuat hormon bahagia menguap ke seluruh tubuh.

Hidup di kota seperti Jakarta bisa menjadi pelajaran khusus untuk orang-orang di dalamnya, seperti perjuangan hidup yang keras, berjejal dalam KRL, mahalnya makanan di Jakarta atau menghabiskan waktu sia-sia dengan menunggu jalanan lengang.


Jadi bagaimana, masihkah mau tinggal di Jakarta?






Kalo aku sih, semoga bisa pindah ke daerah..




Jogja misalnya.






Love,
Meta :)

0 comments:

Post a Comment