Dia itu....

"Jangan lupa bawa pemukulnya....!"
"Habis ini pada pulang kena atau enggak bolanya!!!"
"Masuuuukkkkk.....!!!"
"Aku Maria Christin yak."
 "Aku Maria Febe."
 Segelintir percakapan yang menguasai relung pikiranku malam ini. Sambil memandang langit-langit kamar, aku seperti terhenyak. Saat itu adalah saat-saat paling bahagia dalam hidup. Tanpa mengenal kalimat patah hati, belum menyadari bahwa beberapa saat kedepan aku akan menghadapi kehidupan yang berat. Yang aku tahu patah hati adalah tentang kebiasaanku yang nggak pernah bisa memukul bola kasti, atau bola kasti yang masuk ke comberan tetangga ketika permainan sedang seru-serunya.

 Permusuhan saat itu permusuhan yang tercipta karena nilai matematikaku lebih unggul dari rival, bukan karena laki-laki yang ia sukai lebih menyukaiku. Atau permusuhan karena salah satu tak lagi bisa berjalan bersama.

Air mata kembali berada di pelupuk namun lagi-lagi seperti ada tanggul yang menahannya untuk turun.

Dia itu...
Sesuatu yang menyapaku tanpa permisi. Begitu dekat namun tak bisa ku raih.

Selalu hadir saat hujan atau saat mata menatap nanar ke langit-langit kamar.

Sesuatu yang berenag-renang dalam ingatan namun menimbulkan berjuta perasaan.

Aku tak bisa kembali kepada dia walaupun sebenarnya ingin.

Sesuatu yang membuatku bahagia walaupun hanya peristiwa kecil. Sesuatu yang membuatku melompat tinggi walaupun yang aku dapatkan bukan hal besar. Sesuatu yang ingin ku ulangi lagi.

Dia itu.....


masa lalu.


Seperti kau, yang kini telah menjadi bagian darinya.




Love,
Meta :)

0 comments:

Post a Comment