Diujung mata

Seperti biasa aku duduk di pojokan kafe langgananku untuk menyelesaikan tugas - tugas kuliahku.. cafe ini saksi bisu perjuanganku di dunia kedokteran.
"Ada tugas ya mbak?" Tanya pegawai kafe yang memang sudah akrab denganku.
"Hahaha iya mas. Mau bantu?" Jawabku dengan candaan.
"Kalo saya bantuin nanti malah jadi berantakan mbak tugasnya.hahaha" kata dia sambil tertawa. "Pesanan sperti biasa? Atau sedikit ada yang beda?" Tanyanya kemudian.
"Kek biasa aja mas. Tapi gak pake lama ya."
"Siap." Jawab mas pelayan kafe sambil berlalu.

Cekrek... pintu kafe terbuka, seorang laki - laki masuk kemudian menuju bar mengambil daftar menu. Dia tampak mencari bangku kosong. Nihil. Semua terisi remaja - remaja kuliahan. Beberapa dengan pasangan, beberapa ngumpul dengan teman - temannya. Aku memperhatikan dia, seperti tak asing, aku mengenalnya. Iya aku tau siapa dia. Dia yang selalu ada buat aku. Memperhatikan aku via chatting, dan memang aku belum pernah bertemu dengannya. Aku tau parasnya dari foto yang ia pajang di kontak linenya. Lelaki itu, bernama Rian. Kemudian seorang perempuan masuk dan menggandeng lengannya. Perempuan itu pacarnya.
Mereka berjalan kearahku, dan memang hanya aku yang sendirian duduk di kafe ini menyisakan 3 bangku kosong di sisi meja.
"Boleh gabung?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan bermaksud bersalaman.
"Boleh. Silahkan."kataku membalas uluran tangan keduanya.
"Aku rian, dan ini pacarku meisya." Katanya memperkenalkan diri.
"Ariana." Jawabku singkat dan mengarahkan kembali pandanganku ke tumpukan kertas yang ada di pangkuanku. Aku sedikit tertohok. Aku yang mulai berharap dengannya, aku yang menganggap dia sendiri sama sepertiku. Ternyata salah. Rian memang tak pernah bilang jika dia mempunyai seorang yang istimewa dan aku juga tak mau tahu dengan kisah cintanya. Sakit ketika mengetahui dia bersama seorang perempuan yang dicintanya dan itu tepat didepan mukaku.

Dia seperti tak mau menggangguku. Tak ada obrolan setelah perkenalan. Aku pun juga. Seperti berada di tempat yang salah. Aku membereskan barangku dan pamit.

Diluar aku perhatikan dia asyik bercanda dengan perempuan itu. Satu hal yang aku tahu. Kau tampak sangat bahagia. :)

0 comments:

Post a Comment