Selasar Madinah

"Boleh duduk disini?" pinta seseorang lelaki, nampak masih muda dan enerjik, tak lupa kacamata hitam menutupi matanya, sebagai penghalau sinar teriknya matahari Makkah siang itu.

Jam menunjukkan pukul 4 sore, namun panasnya masih seperti matahari hanya sejengkal dari kepala, kaca bus pun tak mempan menghalau sinarnya.

"boleh silahkan.." kataku mempersilahkan laki-laki ini duduk di sebelah.

Sepanjang perjalanan city tour ini kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya, mutawwif menyampaikan bahwa di sebelah kanan dari arah datangnya bus adalah Gua Hira, Gua Hira adalah suatu tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

"Jangan minta kesana ya bapak-bapak ibu-ibu... capai nanti. Itu tinggi sekali guanya.." kata Ustad Hudy, pembimbing umrah kami kali ini.

"Dengerin tuh.. Jangan kesana kalo nggak fit banget." sebelahku tiba-tiba nyeletuk.

"Emang ustad udah pernah kesana?"tanyaku penasaran.

"Jangan panggil ustad, saya bukan ustad."

"Yaudah mas aja deh.. Udah pernah kesana tah? Emang itu tinggi banget? Tapi itu kayaknya banyak yang kesana. Banyak putih-putih itu..." tanyaku panjang lebar.

"Udah... sampai atas gempor. Lutut sampai nggak kerasa."

"Subhanallah.. Dulu pas Nabi Muhammad gimana ya...? Bisa sampai kesana..? Subhanallah..."

Entah setelah itu kami membicarakan apa, yang jelas diantara kami berdua tidak membiarkan waktu terlewat sia-sia begitu saja, sampai akhirnya...

"Mas udah nikah tah?"tanyaku penasaran.

"Menurut adek? Eh adek apa mbak ini saya manggilnya?"

"Apa aja deh..."

"Saya lulus 2014 dek, terus 2015 kesini.. mana sempatlah kepikiran nikah. Nikah itu bukan hanya ijab qobulnya aja, tapi kehidupan pasca itu, gimana urus rumah tangga belum nanti istri hamil, melahirkan, ngurus anak.. duh.... masih panjang.." katanya curcol.

"Hoooo.... kirain..."

"Kenapa memangnya.?"tanyanya penasaran.

"Nggak. Mau tau aja, kalo udah nikah itu istrinya disini atau di Indonesia. Gitu."Jelasku.

"Belum... belum nikah.."

"Bapak-Bapak Ibu-Ibu ini bisnya mau puter balik dulu, bapak ibu sabar dulu ya.."kata kak Hudy dengan nada serak serak khasnya.

"Eh gangnya kan sebelah sana, kenapa tadi ga turun seberang sana aja coba, kan bisa nyebrang terus jalan kaki."Kataku cerewet.

"Yaaah kan udah bayar sayang dong udah dibayar, keluar duit masih suruh jalan pula. Hahahaha...."katanya. Menyebalkan sekali orang ini, pikirku.

"Yaa kan hemat waktu. Waktu itu nggak bisa balik lagi, sementara duit bisa dicari."kataku masih ngeyel.

"Emang kamu nggak capek jalan kaki.."

"Aku mah dah biasa jalan kaki. Hmmmm..."

"Yaudah besok tak ajak jalan-jalan di Madinah ya.."

"Bener? Awas ya kalo sampai gempor. Tanggung jawab lho..!"

"Saya tanggung jawab kok.." jawabnya santai.

Yessss ada yang janji jalan-jalan di Madinah nanti.. Artinya nggak akan gabvt disana nanti. Orang ini... Asyik juga.. Tapi aku nggak tau siapa dia. Sekian banyak pertanyaan dan rasa penasaran akan siapakah gerangan laki-laki yang meminta sebelah tempat dudukku ketika di bus.?

Umroh kedua, sampai tawaf Wada, tidak ada komunikasi lagi dengan laki-laki misterius sebelah tempat duduk. Namun kehadirannya membuatku nyaman. Entahlah ada perasaan hangat ketika menatapnya dari kejauhan.. Semacam pengagum rahasia.

Saat tawaf kusempatkan untuk berdoa semoga perjalanan ke Madinah bisa berdekatan lagi seperti sebelumnya. Sehingga ku bisa mengenalnya lebih lanjut.

Namun, sekuat apapun kita berdoa, jika Allah menakdirkan untuk tidak, maka apapun keinginan kita tidak akan dikabulkan.

Perjalanan Madinah kala itu aku bersebelahan dengan ibu-ibu yang rajin sekali Tawaf.

Awalnya aku tidak duduk dengannya, namun dengan Safira, karena Safira masih balita dan ibunya duduk di depan, maka aku minta ibunya duduk dengan Safira dan aku ke depan. Rasanya sediiih banget ketika aku ada kawan duduk. Artinya nggak ada kesempatan untuk kenal dengan lelaki si bangku sebelah itu.

Perjalanan Makkah-Madinah menempuh waktu kurang lebih 7 jam. Semua Jemaah tertidur kala itu, termasuk aku. Sampai menjelang waktu magrib, kami semua turun untuk singgah shalat magrib qada dengan isya.

Tidurku memang istimewa, semiring apapun kepalaku aku tetap lelapnya tidur. Sampai akhirnya dia mengenaliku dan nyeletuk:

"Nyenyak banget bobonya, sampai miring-miring gitu. Hampir aja saya ambil fotonya."candanya sambil terbahak.

"Jahaaattt... ko ambil itu foto ha?" teriakku. 

"Hampiirrr... HAHAHAHAHA"

Aku cuma bisa bersungut-sungut.

Setelah selesai shalat magrib, semua kembali ke bus dan makan malam. Selama makan ibuk-ibuk sebelahku menghilang. Sampai aku kira dia hilang. Ternyata beliau ada bersama saudara-saudaranya.

Sempat terbersit harapan akan ada kesempatan bersama dengan Si bangku sebelah, namun lagi-lagi Tuhan berkata tidak. Ibuk-ibuk itu kembali ketika bus mulai berjalan.

"Loh buk tadi kemana?"Kataku basa-basi.

"Di depan. Tapi itu tempat duduknya ustad."

"Nggak papa. Biar nanti ustadnya disini sama saya."masih berusaha.

"Nggak lah disini aja." 

"Yaudah". Yaudah dengan nada kecewa.

Dari sini aku banyak belajar, seberapa kuat kita punya keinginan, seberapa besar kita berusaha untuk mendapatkan sesuatu tanpa didasari oleh tawakall, pasrah kepada Allah, tidak akan terjadi.

Setelah itu aku pasrah saja. Jika memang belum waktunya pasti tidak, jika memang sudah waktunya bagaimana rencana Allah pasti dipertemukan.


Benar saja.


Kuotaku menjelang sekarat waktu itu. Gara-gara si India. Aku penasaran dengan kebiasaan orang-orang India. Jadilah aku menghabiskan kuota 2GB untuk cari tahu seperti apa orang India ini. 

Aku sempat bertanya dengan tour leaderku saat itu gimana caranya nambah kuota.

Ternyata syarat untuk memperoleh kartu sim di Saudi cukup rumit, harus ada visa dan pasport, dan harganya juga relatif mahal.

Kemudian entah dari kerang sebelah mana, Si bangku sebelah ini muncul. Serasa dewa, dengan innocence celingak-celinguk mencari bangku di restoran hotel, ku sapa si dewa yang muncul tiba-tiba ini.

"Baru turun?"sapa ku.

"Iya. Adek udah makan?"tanyanya sambil duduk di meja sebelah.

"Mas, kuotaku mau habis, cara biar bisa nambah kuota gimana ya? Mahal gakpapa deh.."kataku memelas.

"Susah disini kalo mau beli kuota, mesti pakek visa. Udah tetring aja pake punya saya."

"Emang situ kuota banyak kah?"

"Tenang.. banyak bonusnya kok..."

"Alhamdulillaaahh...." kataku dengan mata berbinar.

"Oh iya, kemarin ada yang janji loh sama ku mau ajak jalan-jalan di Madinah.." kataku menagih janji.

"Hooo iya kah?"tanyanya. Nampaknya lupa.

"Hhmmmm lupa iya?"

"Yaudah deh yuk.. Mas tunggu di bawah ya."


Sejak setelah itu, selama 2 malam, kami menyusuri jalanan Madinah.. Mengelilingi sekitar Masjid Nabawi.. Yang masih tampak ramai meskipun malam mulai menjelang.

Malam kedua kami saling mengenal, bangku sebelah ini mengajakku makan malam. Selain karena jatah dari hotel pasti udah ludes, kebiasaan aku kalau habis ashar pasti baru pulang ke hotel habis isya, dan pastilah makan malam hotel habis.

"Kita ke Albaik ya.."ajaknya.

"Apa itu albaik?"

"Nanti juga tahu."

Jalanan kali ini lumayan agak panjang dan jauh.. Entah orang ini mau menculikku kemana. Aku iya iya aja.

Kemudian kami memasuki sebuah macam square gitu, mall tapi nggak terlalu ramai.

Albaik. Ayam macam K*C, namun dengan bumbu khas timur tengah yang disuntikkan ke jantung daging ayam. (sejak kapan daging ada jantungnya?)

Albaik ramai malam itu. Jadi kami memilih untuk take away.

"Tempatnya penuh banget. Kita cari bangku di luar aja ya...?"katanya.

"Mau dimana?"tanyaku bingung.

"Tadi di depan square lihat ada bangku nggak?"

"Lupa." kataku polos.

"Yaudah cari dulu deh yuk."

Setelah berjalan kesana kemari ketemulah rerumputan yang lumayan nggak bersih di sebelah gerombolan orang India makan dengan sembarangan.

"Disini aja gimana?"

"Yaudah gapapa."

"Maaf ya.. mungkin aku orang paling sembarangan yang ngajakin kamu makan di tepian jalan kek gini.,"kata si bangku sebelah merasa bersalah.

"Hahahaha santai aja."

Malam itu ditemani lalu lalang mobil dan obrolan orang India yang nggak tau juga ngomongin apa.. Kami menghabiskan setengah ekor ayam albaik.

Enak. Enak ayamnya dan yang nemaninya.


Yang paling penting. Gratisnya. 

Hahahaha...


Hari terakhir di Madinah, perjalanan ke Jeddah memerlukan waktu 7 jam. Tak ada harapan akan sebangku dengan si bangku sebelah. Semua sudah ku pasrahkan kepada Tuhan. Kalo memang Tuhan mengijinkan, inilah saat-saat terkahir aku mengenal dia. Mengenal sosok lelaki baik yang luar biasa untukku.

Sosok luar biasa yang kini ada pada tempat tersendiri dalam hatiku.

Bukan sebagai pasangan, namun sebagai teman baik, yang aku kenal di buminya Allah.

Sebagai sosok yang mengajariku banyak hal.

Mengenai keterlibatan Tuhan dalam setiap keputusan dan keinginan kita.

Mengenai rezeki yang perlu kita jemput.

Mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan.

Kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Namun kami ditakdirkan untuk saling mengenal satu sama lain.

Dia dikirim Tuhan untuk mengingatkanku akan adanya Tuhan.. Akan kebaikan Allah.. Tentang perlunya aku tahu tidak hanya Al-qur'an dan Hadist, tapi juga Ijtihad.



Terima kasih bangku sebelah. Jikalau kamu tak meminta tempat duduk di sebelahku. Mungkin aku tak mengenalmu.

Namun bagimu, jikalau aku tak kehabisan kuota, kita tidak mungkin saling mengenal.

You deserve better than me. But you, always in here 💙


Terima kasih atas waktunya selama aku di Madinah. Jalan-jalan menyenangkan di selasar Madinah,, Semua tersimpan rapih disini 💙


Madinah menjelang subuh








With Love,
Meta.

Bimbang

Why this happen to me God?
Why You choose me?

Its hurt, God..
I want a life like others.

Who have simple selection..
And find their soulmate in simplicity.


From far away..
"Bimbang" song played slowly..

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu  
Namun sulitku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega 
Dalam anganku aku berada 
Disatu persimpangan jalan yang sulit kupilih
Posted on January 22, 2018 | Categories:

Bad Start

Hhhh....
Belum-belum udah ngeluh, ngeluh, ngeluh untuk 2018. Sampai gue ditampar sama sahabat gue sendiri.

"Lo, 2018 januari belum juga kelar udah menjudge nggak baik. Siapa tahu bulan depan lo ketiban rejeki tiada terkira. Masih ada 11 bulan kedepan yang masih lo perlu jalanin sebelum menjudge 2018 menjadi tahun terburuk lo."


Hhhhh...

Januari baru berjalan (hampir) 3 minggu. Tapi semacam udah ngga ada harapan buat gue.

1. Kasub tersayang gue dipindah.
2. Teman satu sub yang tersayang juga dipindah.
3. Kedapatan kawan satu sub yang dulu pernah gue ajak birantem. (dan sekarang satu sub menurut ngana?)
4. Kehilangan orang yang gue sayang.
5. Kesepian.
6. IP 1,7.

Bad start for 2018. So.... apa yang perlu gua harapin dari tahun ini?

Nggak ada.


Point 4 dan 5 sungguh mempengaruhi poin-poin selanjutnya buat gue "wake up".

Gue tahu, target gue tinggi untuk masa depan gue.

Belanda. Iya, Leiden Univ butuh orang-orang yang luar biasa untuk sekedar study exchange 1 semester. Dan gua, apalah cuma dapet IPK 2,03??????


Terdengar bunyi "Kreeeekkkk" yang keras dari dekat jantung gue ketika orang yang bener-bener gue harapin ada dikala gue jatuh-jatuhnya, dikala gue cuma bisa menatap nanar kedepan, dengan tanpa kata-kata, dia justru nggak ada disana.


Berjuang sendiri dari keterpurukan it's hard y kno.


Daripada ketika nyawa dalam ancaman, banyak yang mengulurkan tangan, dan dibandingkan sakit hati, itu nggak ada yang bisa nolong.


Kecuali diri lo sendiri.


Dan ketika diri ini sedang dalam jurang yang amat dalam.... inginku bertanya...






ada tali tambang nggak? 1,5 meter aja.






💔

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis. Krisis seperempat abad adalah sebuah fenomena yang dialami hampir sebagian orang yang menjelang atau sedang menjalani usia 25 tahun.

Usia 25 merupakan usia dimana seseorang boleh dikatakan dewasa. 

Termasuk gue. Di tahun 2018 ini gue resmi menyandang usia 25 tahun. Artinya, rencana kedepan sudah harus lebih matang dan dalam pengambilan keputusan sudah seharusnya tidak dengan gegabah.

Bagi sebagian orang, quarter life crisis mereka adalah tentang mau kerja dimana, nyaman nggak sama pekerjaan sekarang, mau lanjut kuliah lagi nggak, S2 apa nikah aja ya, teman-teman sudah banyak yang menikah kok aku belum, pacar serius ngga yah, kok kenyataan hidup ini pahit banget yah, aku juga mau bahagia juga dong.. dan semua hal yang perlu dipertanyakan namun hanya dirimu lah yang bisa menjawab.

Let me tell you about my quarter life crisis.

Hidup gue awalnya biasa-biasa aja, gini-gini aja, nggak ada yang istimewa. Di kontrak oleh negara sampai umur 60 tahun membuat hidup gue yaaaa gini-gini aja. Mengikuti kemana arah kebijakan pemerintah.

Datang-absen-terlambat-mulai kerja jam 9-makan siang sampai jam 3-absen pulang-

hhhhhhh


Ya selama ini begitu. Gua nggak akan ceritain sulitnya lah. Nanti kaliyan-kaliyan jadi nggak mau jadi Pe-En-Ice.

Namun semua berubah dari hari ini. Gue mulai mempertanyakan kemana hidup ini akan gue bawa.

Mulai dari perdebatan kemarin malam mengenai permasalahan hidup yang rauwis-uwis.

Working mom or housewife.

Gue marah-marah karena pernyataan seseorang di status Fb nya kalau "percuma perempuan sukses kalo ga bisa urus keluarga dan anaknya diurus pembantu."

Entah kenapa gue merasa sakit hati bacanya. Gue calon working mom nantinya. Bukan berarti gue nggak boleh sukses kaaaannn...?? Dan kalo gue sukses, bukan berarti keluarga gue berantakan kaaaaannnnn....?


***

Lalu perdebatan mengenai untuk apa sih kerja?

Yakin cuma cari uang?

Nggak cari muka kah?

Seandainya jawabannya adalah sesimple mencari uang yang halal...., namun kenyataan nggak segampang itu.

Selama ini gue melihat sebagian orang bahagia dengan pencapaiannya (secara finansial) namun sekeliling dia tidak bahagia akan kehadirannya.

"eh... si X ini gimana sih kalau di kantor?"

"halaaahhh dia ini kasar... males gue deket-deket sama dia.."

Gue: ............


Gue: selama ini gue pikir mereka kompak lho.. pertemanan mereka asyik.

"halaaahhh asal lo tau ya, mereka saling iri. Lihat spd siapa yang paling banyak tahun ini... Traktirrrr doongg... Cieeee yang ke Papua... enak ya bisa jalan-jalan..."

Gue: .............


"tau nggak sih... setelah si Y dipindah gue berangkat kantor itu ngerasa legaaaa banget."

Gue: ...... (gue sedih tingkat dewa gara-gara ditinggal kasub gue, udah pernah gue tulis disini)


"Si W dipindah, si U dipindah juga, dan akhirnya si F ngga ada yang diajak buat shift. Artinya F harus lembur seorang diri tanpa benefit yang sesuai. Gue tau ini ulah si J. Karena ada anak bayi dan istrinya kerja."

Gue: Welcome to real life. Bahwa urusan pribadi lebih penting daripada nasib orang lain.

***

Selama ini egoisme gue adalah: 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.


Entahlah prinsip ini akan bertahan sampai kapan... Kenyataan ini begitu pahit bagi orang yang sedang bergejolak di umur menjelang seperempat abad.







Literally, I need someone who understand about life and discuss about life to make real life as good as we think..



All iz well..

Rotasi Pegawai, Yay Or Nay?

Disclaimer: Tulisan ini murni opini dari saya pribadi, tidak ada sangkut paut atau bermaksud untuk menjelekkan instansi saya, atau maksud negative lainnya.


Tahun baru yang sedikit suram untuk pekerjaan saya. Dunia per-PNS-an ini sedikit banyak mengubah hidup saya. Waktu saya tergantung dengan pekerjaan saya. Semua serba tak pasti. Bahkan rencana sematang apapun, bisa gagal hanya karena tugas negara. 

Iya. Sudah booking pesawat PP, semua batal karena tugas dinas. Sudah booking kereta, namun terpaksa hangus karena jadwal rapat mendadak.

hhhhhh.....

But, i have to face it.

Dari sekian takdir yang kadang bikin hari meringis-meringis itu, ada satu hal yang paling membuat sedih luar biasa.

Rotasi pegawai.

Mungkin tujuannya adalah penyegaran, baik pimpinan maupun pegawainya sendiri. Bagi pimpinan mungkin sebagai event untuk meningkatkan skill diluar pendidikan formalnya atau menambah pengalaman atau pengetahuan selain bidang yang dikuasainya.

Ada positifnya, bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui bangku sekolah saja, namun did you know that archive is different?

Arsip itu berbeda. Dunia kearsipan membutuhkan SDM dengan skill yang tidak biasa. Dunia kearsipan membutuhkan orang-orang yang kompeten di bidang arsip.

2x kami kehilangan pemimpin yang kompeten meskipun pendidikan formal mereka dari ekonomi.

Namun komitmen mereka untuk memajukan arsip di Kementerian, sungguh luar biasa. Bahkan seorang Widya Pratiwi bisa memahami arsip bahkan mungkin lebih banyak daripada kami-kami yang notabene lahir dari pendidikan kearsipan.

Sisi ingin tahu dan mau belajar dari sosok Widya Pratiwi ini yang patut untuk seharusnya beliau dipertahankan. Kearsipan perlu orang-orang yang mau belajar, komit, dan tegas. Bukan orang-orang yang gila harta menghalalkan segala cara untuk dianggap berada dan bukan orang-orang labil yang gampang tergiring opini.

Pendidikan kearsipan adalah pendidikan yang sulit menurut saya. Sehingga orang-orang di dalamnya perlu niat, komitmen, dan integritas yang tinggi untuk memajuan kearsipan KESDM lebih baik lagi.

Dengan adanya rotasi, kami harus beradaptasi dengan pemimpin baru, menyesuaikan dengan ritme kerja beliau, dan harus bisa mengikuti atau bahkan mengarahkan kemana subbagian ini akan terbang dengan kapten yang baru.

Rotasi seharusnya tidak secepat ini. Terpaut 1 tahun dari kasub sebelum dan sebelumnya, dan kini kami harus beradaptasi lagi. Kalau beradaptasi terus kapan kerja seriusnya? Kalau harus menyesuaikan terus kapan selesai pending matters-pending matters itu?

Di Kasub sebelumnya, perencanaan sudah matang tinggal eksekusi, kemudian kena rotasi, beberapa perencanaan tidak berjalan sesuai rencana. Kemudian Kasub yang ini perencanaan sudah tinggal pelaksanaan saja harus beradaptasi lagi, dan kemungkinan beberapa rencana tidak berjalan sesuai yang sudah direncanakan.

Jadi menurut saya, khususon kearsipan rotasi diberikan setelah lebih dari 3 tahun jadi pekerjaan yang sudah terencana dengan baik bisa diwujudkan sesuai dengan perencanaannya. 




CMIIW

Anak yang Kehilangan Induknya

7 January..

Bangun dengan kepala pusing dan rasa ngantuk yang masih mendarat dengan santai di pelupuk mata.

Alarm meraung-raung menandakan sudah waktunya bekerja. Kali ini kerja di dapur. 

Duduk di pinggiran kasur sambil menatap sekeliling kamar, bersyukur kepada Tuhan atas semua yang sudah Dia berikan. Yang ada dalam kamar ini, atau yang ada dalam hati ini. Dan orang-orang yang ada di sekitar saya.

nuut...nuttt...

Sebuah pesan group membuat saya bertanya-tanya.

document.

Apa nih isinya?


Pagi... Cerah.. Tak berawan sedikitpun..

Tapi tidak dalam hati ini.

Undangan Pelantikan Pejabat Eselon IV.

Ada nama bos saya dalam lampiran undangan itu.

Mbak Widya...

Padahal kami barusaja beradaptasi dengan beliau. Barusaja mengerti bagaimana ritme kerja beliau. Barusaja kami bisa mengendalikan emosi beliau.

Kemudian beliau dipindah tugaskan.

Tugas kami adaptasi kembali dengan pemimpin yang baru.

Kami tahu, jabatan adalah amanah, jabatan adalah titipan. Seperti kami-kami juga merupakan titipan Tuhan kepada orang tua kami masing-masing.

Tapi rasanya tetap saja...kehilangan adalah hal yang membuat kami tak mampu berkata-kata lagi saking kami, saya khususnya sakitnya hati ini, perih dan ngilu di ulu hati.


Entah kata-kata apa lagi yang mampu mendeskripsikan perasaan saya saat ini..

Hati ini berduka.




Jujur, gue nangis baca pesan diatas. Tau gimana awal-awal dipimpin beliau. Bagaimana beliau menggertak kami semua sampai saya melontarkan kata-kata balasan yang cukup bikin semua kaget.

Bagaimana beliau panic at the disco atas setiap acara-acara penyelenggaraan, dan kami berhasil menyajikan acara-acara yang ciamik dan beliau bangga kepada kami.

Bagaimana tugas-tugas beliau yang "ditunggu jam 12 ya say", meskipun tegas tapi masih memanusiakan kami.

Bagaimana beliau tegas terhadap setiap staff beliau tanpa memandang siapa dan apa. Seorang madya ada bisa di sleding sama dia, and I proud you ibu kasubku tersayang.

I love you, and I loose you.

Terima kasih atas dedikasinya kepada Subbagian Kearsipan, Ibuku sayang. Terima kasih kerjasamanya selama ini. Terima kasih atas ketegasannya. Terima kasih atas rejeki-rejeki yang mungkin beberapa kali melalui campur tangan Ibu. Terima kasih sudah mau belajar tentang kearsipan meskipun sebenarnya Ibu tidak passion. Terima kasih atas becandaannya selama ini. Maafkan kalo bercandanya kami menyinggung Ibu. Maafkan kalau kami semua merepotkan Ibu, maafkan kalo kami kadang ngeyel, maafkan kalo kami kadang membicarakan Ibu dibelakang, maafkan kalo kami kadang nggundelin ibu.

Ibu Kasubku...

Selamat bertugas di tempat yang baru. Semoga kesuksesan selalu ada dalam genggaman engkau.. 


We Love You, Ibu Kasubku.....

Dua Ribu Delapan Belas

Happy Nieu Yeaaarrrrrrr  🎉
Belom telat kan buat ngucapin selamat tahun baru..?
Selamat menyambut segalanya yang lebih baik. Buang jauh-jauh kesedihan selama tahun-tahun kemarin kemarin kemarin kemarin...

Sebelumnya selamat ulang tahun buat blog gue yang udah nemenin gue gegalauan sejak 5 tahun yang lalu. eciyeeeeee~

Semoga tetap awet sampai nanti gue jadi nenek-nenek yes.... aamiin..

Seperti biasa, gue pasti bikin tulisan khusus di awal tahun atau di akhir tahun, sebagai reminder buat gue sendiri tentang apa aja yang udah berhasil gue coret dari bucket list tiap tahun dan bucket list apa aja yang musti gue capai di tahun yang baru.

Tapi kayaknya missed tahun 2017 deh ya.. ahaha maapkan. Karena tahun lalu sibuk move on, jadi 2017 bucket list-nya adalah MOVE ON!!

Selama 2017, gue ngalamin banyak banget kejadian yang campur aduk banget. 365 hari dong, nggak campur aduk nggak seru dong yaa.... 

Tapi tapi gue gak mau bahas lagi deh soal yang ono, kalo ada yang belom tau, klik disini aja ya buat baca kisah selengkapnya.

Namun dibalik kisah sendu yang sudah-jangan-bahas-lagi itu di akhir tahun gue berhasil menginjakkan kaki ke Luar Negeri untuk yang pertama kali, dan itu di tanahnya Allah lagi. 7 hari +2 hari perjalanan adalah cerita, pengalaman gue yang insya Allah nggak akan pernah gue lupain. Pertama sampai, pertama kali melihat kaaba pake mataku sendiri, live tanpa ada perantara apapun. Bahkan gua bisa menyentuhnya, it priceless.. Gua nangis sejadi-jadinya. 

Alhamdulillah atas segala nikmatmu Tuhan.. Dan pengalaman itu juga jadi reminder buat gue, ketika gue mulai lengah. Sungguhlah nikmat yang luar biasa. Thank God for everything You given to me.

Penutup tahun yang sangat manis untukku.
Luar biasa memang 2017.


2018.
Akhir tahun yang manis, tapi awal tahun yang nggak terlalu manis sepertinya. Tapi semoga tetap baik-baik saja.

Harapan untuk 2018, semoga gue tetap diberikan kekuatan sama Allah dalam menghadapi segala cobaan, ujian hidup, atau hal-hal yang tidak baik. Senantiasa menjadi orang yang pandai mensyukuri nikmat sekecil apapun. 

2018, resolusi #Menuju2018Sehat bisa tercapai, target minimal 3 hari dalam seminggu olahraga nggak cuma di mulut aja. 

Semakin produktif, baik bisnis handlettering maupun tulisan di blog konsisten seminggu sekali. 

IPK 3,25 minimal!!!




SEMANGAT!!!!
Posted on January 07, 2018 | Categories:

Melawan Kerasnya Kehidupan

Jakarta, selain menyandang predikat Ibukota Negara Republik Indonesia, juga sebagai kota terkeras yang pernah gua tempati, atau bahkan mungkin kota terkeras yang bakal menjadi tempat tinggal gua sampai tua nanti.

Kerasnya ibukota tak hanya sebatas kerasnya fisik. Bertaruh waktu agar sampai kantor tempat waktu, atau berdesak-desakan di KRL Commuter Line atau metromini, yang tak jarang kekerasan fisik pun seksual menampar para pekerja perempuan.

Gua pernah salah satunya.

Betapa Jakarta tidak untuk orang yang lemah, nyata adanya.

Kenapa nggak cerita, kenapa nggak bilang? Karena orang yang mendapat pelecehan seksual, mereka cenderung takut dan malu. Orang yang mendengar cerita kita pasti akan bereaksi dengan menyalahkan. Iya atau iya? Kenapa nggak lo giniin, kenapa nggak lo anuin..? Orang yang ketakutan, mana bisa mikir sampe situ, mb?

Beberapa hari ini, berita dimana-mana menceritakan tentang seorang perempuan yang digerayangi oleh penumpang pria di CL. Yang gua rasakan? Kasian. Mbaknya udah trauma, masih dihakimi oleh sejagat penghuni dunia maya, yang bahkan kebanyakan mereka yang menghakimi adalah.... perempuan juga.

Perempuan itu lebih jahat ke sesama perempuan.

It's true. 

Di dunia per-KRL-an pun, gerbong khusus wanita adalah gerbong terhoror dari seluruh rangkaian kereta yang ada.

Dear mbak-mbak di luaran sana, bisakah kalian menaruh simpati lebih kepada yang bejenis kelamin sama dengan kalian?

They need your support instead of judgment.

Sama halnya yang gue alami. Gue pernah ada masalah yang cukup membuat gue depresi dan hampir gila. Pernah gue ceritain disini.

Masalah itu serius bagi gua, tapi sepertinya nggak buat temen-temen gue. Jadi mereka menganggap itu sebagai jokes yang layak untuk ditertawakan.

Dan teman itu, perempuan.

Perempuan lebih jahat ke perempuan ✓

Gue nggak tau apa yang ada di pikiran mereka, tidakkah mereka seharusnya mensupport gue untuk bisa bertahan lebih kuat lagi, alih-alih mencemooh.

Siapa yang mengira bahwa orang yang dikiranya baik justru berbalik arah?
Siapa yang mengira bahwa orang yang gue pikir bisa sayang sama gue tulus, bahkan berniat untuk membunuh gue?
Siapa yang bakal tahu, bahwa nyawa gue hampir aja ilang dalam hitungan sepersekian detik?

Nggak ada yang bakal tahu. Sekalipun gue.

Siapa yang mau hidup dengan seperti itu. No one. Including me.

Kalo gue bisa minta, gua bakal minta hidup seperti kalian wahai orang-orang yang sempurna.

Atau mungkin, gue yang notabene orang desa, yang nggak tau gimana menghadapi kerasnya Jakarta? Atau mungkin guenya aja yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan Jakarta? Atau guenya aja yang terlalu lemah dengan kerasnya kehidupan di Jakarta? Sehingga jokes-jokes yang melibatkan hati dan psikologis merupakan jokes yang wajar?

.
.
.
.
.
Menurut kalian?

7 Days In Baitullah

Salah satu bucket list saya yang nggak tertulis di blog ini di setiap akhir atau awal tahun adalah mengunjungi Baitullah.

Sejak tahun lalu, sebenernya udah ada keinginan untuk umroh, dana pun ada tapi mungkin yang dikatakan orang-orang mengenai "panggilan" itu benar adanya.

Akhirnya, panggilan itu sampai kepada hati saya di tahun ini.

Dua ribu tujuh belas.

Alhamdulillah Hirobbil'alamiin..

So, let me tell you about my bucket list :) 

Pernah denger tentang kasusnya Fi*st Trav*l?

Yak! Salah satu peristiwa yang cukup membuat orang-orang mampu di Indonesia berfikir 1000x lipat untuk menentukan travel mana yang cocok dan amanah.

Tak terkecuali saya, anak muda yang engga tahu apa-apa, punya keinginan untuk berangkat ke Baitullah ketika kasus *T sedang hangat-hangatnya. Takut, pasti. Khawatir, iya. Apalagi ditambah dengan cerita bahwa calon mertua kawan sekamar (dulunya) juga merupakan korban *T. Sekian puluh juta raib.

Takut dong pasti jelas. Mana kita punya uang carinya pake berdarah-darah kan... Heeee...

Kemudian bermodal google, saya searching nama-nama travel kemudian cari yang sekiranya dekat dengan tempat tinggal dan kantor.

Masuk sekitar 5 travel yang ada di daerah Bintaro dan Ciputat.

Karena masih ragu, saya mencari daftar travel yang terdaftar di Kemenag.

Saya baca itu attacment .pdf satu-satu.

Ternyata banyak sekali ya travelnya. Namun saya menfokuskan pencarian ke nama 5 travel yang udah saya kantongi itu.

*ribet yeuh*

Setelah scroll-scroll itu daftar panjang, saya mengerucut ke Arfa Tour yang ada di Bintaro sektor 7. Kawasan elit euy. Wkwk.

Setelah itu datang tanya-tanya bla bla bla, okelah cocok pake Arfa aja. Mbak dan Masnya juga ramah. Dataku belum lengkap aja ditanyain mulu suruh buruan.. Wkwk.

Tapi ongkos nggak ditagih-tagih mulu kok alhamdulillah..wkwkwk.  gak kayak ibuk kontrakan yang gajian aja belom udah ditagihin mulu. BHAY!!

Aku daftar sekitar bulan juli, setelah itu ngurus paspor, vaksin, dan apalagi yaaaa yang diperluin?? Kayaknya itu aja. Batas pengumpulan dokumen sekitar awal oktober karena saya ambil pemberangkatan tanggal 8 November yang sedianya tanggal 13 November.

Gapapalah. Gak ada agenda pun dari kantor.

Dokumen yang diperluin apa aja sih?

Sok cek aja ke web-nya Arfa iya, 

http://arfahajiumroh.com/

Yang paling penting, passportnya 3 nama. 


***

Persiapan yang serba mendadak.

Pemberangkatan tanggal 8 ini ternyata membuat saya sedikit terburu-buru. Banyaknya kegiatan kantor plus tugas-tugas kuliah membuat saya sedikit kewalahan membagi waktu. Ujian saya keteteran, dinas-dinas nggak maksimal, persiapan pemberangkatan aja cuma paling 30% aja karena saking padatnya kegiatan.

+ sakit.

Iya, sehari sebelum berangkat saya ke dokter THT karena telinga sempet berdengung sejak landing dari Banyuwangi. Sempet dilarang untuk terbang sama dokter cuma ya gimana dok saya udah terlanjur harus pergi.

Akhirnya obat ditambahin hingga nominal hampir 1juta.

OMG. PADAHAL ITU KAN BUAT SANGU.

Its okelah daripada akunya kenapa-kenapa.

Let's go to due date.

Bapak yang sedianya mau nganterin sampai bandara pun harus batal karena belio juga kesehatannya sedang menurun, akhirnya berangkat hanya ditemani adik. :) :) :)

Padahal yang lainnya yang nganterin sak ndayak dan saya cuma sama adek.

Ndakpapa. 

Saya terbang menggunakan pesawat Saudi Airlines. Perjalanan menuju King Abdul Aziz Airport menempuh perjalanan sekitar 9 jam, dengan perbedaan waktu Saudi dengan Indonesia kurang lebih 4 jam. Indonesia lebih cepat tentu saja.


Kami landing di Jeddah sekitar jam 2.30 pagi waktu Saudi, checking paspor lumayan agak lama karena orang-orang imigrasinya ini super selawww. Jadi ada beberapa counter yang petugasnya nggak ada, petugasnya lagi curhaat. Jadi kita-kita ini harus punya kesabaran yang luber-luber.

Setelah check paspor selesai, kami disuruh menunggu entah apa sampai sekitar jam 6. Selama menunggu itu kami dikasih makan. Baik. Setengah 6. Makan berat. Baik.

Setelah itu berangkat ke Makkah kita, sekitar jam 8 kami sampai hotel. Disuruh makan. Lagi. 

Pokoknya di Makkah itu isinya makan aja dah pokoknya, selain beribadah tentu saja. Wkwkwk.

Mecca o'clock. The Holy Kaaba is near.

Setelah makan kami melakukan ibadah umroh.

For the first time i see the Kaaba. I am crying. Literally crying. I can see the Kaaba with my own eyes. I can see the Holy Kaaba, i can touch it with my own hand where it is only in my previous imagination. I still cannot believe that i can see it directly. 

Alhamdulillah.

Sebenarnya umroh ini ibadah yang cape banget, serius, berkali-kali rasanya mau nyerah, berkali-kali rasanya mau nangis karena saking capenya, saking engga kuatnya. Tapi semua itu rasanya sirna begitu melihat sekeliling. Banyak orang-orang tua yang dengan semangatnya mereka lari-lari kecil ketika sya'i. 

"dan stamina mu cuma segini Ta?" dalam hati begitu. "nggak malu sama nenek-nenek disamping?"

Seketika kekuatan yang tadinya melemah langsung ter-charge full.

I can do this!

Dan perjuangan berakhir dengan counterpain di sekujur tubuh ketika mau tidur.

Berdasarkan inilah saya merekomendasikan siapapun yang telah mampu, untuk segera menyisihkan pundi-pundinya untuk berangkat ke Baitullah, jangan tunggu tua, karena ini capai sekali. 

4 hari di Makkah benar-benar 4 hari yang luar biasa. Nggak akan terlupakan seumur hidup.  4 hari rasanya masih kurang, inginku menambah hari disana. Meninggalkan Makkah adalah perpisahan paling sedih menurut saya. Rasanya masih ingin disana lama-lama. Nggak pernah saya merasakan ibadah yang setenang dan sedamai di Makkah. 

***
Another experience in Makkah

Out of topic, 

Ada pengalaman menarik selama di Makkah. Jadi, saya itu makan bareng sama orang India. And do you know, mereka itu makan menggunakan piring penjara (saya menyebutnya begitu), karena ada trauma tersendiri dengan piring penjara itu. Bukan karena saya pernah di penjara, bukan. Itu karena Brigade Energy (ceritanya menyusul yaaa..).

Saya pikir kita bakalan makan dengan piring penjara tadi, saya udah ketakutan setengah mati dan kalo makannya pake itu saya nggak akan makan di hotel.

Namun alhamdulillah makanan Indonesia masih selayaknya makanan Indonesia. Dengan piring cantik dan makanannya Indonesia banget, dan piring penjara itu hanya untuk Indians saja.

Kemudian makanlah saya gabung dengan Indians ini. Masha Allah ya, cara makan mereka. Luar biasa. Berantakan. Dan membuat mual. Tangan 5 masuk piring semua, tulang sapi (atau kambing?) berantakan di meja, kuah sayur tumpah-tumpah. Subhanallah.. 

Dengan kejadian itu membuat saya bersyukur sejuta kali telah dilahirkan di Indonesia, khususnya Jawa yang menjunjung tinggi unggah ungguh dan tata krama yang kental. Bayangkan, cuma mau ngasih nasi ke tetangga, kalo ngomongnya salah aja aku diomelin sama bapak dan suruh latihan dulu.

"hayo gimana ngomongnya..?"

"bude, niki maringi daharan..?"

"NGAWUR!! NGATURI BUKAN MARINGI. coba ulangi."

..... baik. 

***
3 days in Medina.

21⁰ suhu di Madinah pagi hari menjelang winter, cukup bikin kulit kering pecah-pecah dan bibir pecah-pecah pula. Karena persiapan yang serba mendadak jadinya lipbalm ketinggalan :(.

Di Madinah, dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi, tempat dimakamkannnya Nabi Islam Muhammad SAW, dan kota ini juga merupakan kota paling suci kedua Agama Islam setelah Makkah. Madinah adalah tujuan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan Hijrah dari Makkah, dan secara berangsur-angsur berubah menjadi ibukota Kekaisaran Muslim, dengan pemimpin pertama langsung oleh Nabi Muhammad, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali. Kota ini menjadi pusat kekuatan Islam dalam abad-abad komunitas Muslim mulai berkembang. Madinah adalah tempat bagi tiga masjid tertua yang pernah dibangun, yaitu Masjid Quba, Masjid Nabawi, dan Masjid Qiblatain. Umat Muslim percaya bahwa penyelesaian dari serangkaian penurunan surah Al-Quran diterima Nabi Muhammad di Madinah, yang dikenal sebagai surah Madaniyah yang nampak perbedaannya dengan surah Makkiyah. Seperti kota Makkah, non-Muslim tidak diperkenankan memasuki wilayah suci Madinah. (source: Wikipedia)


Me in front of Nabawi Mosque.
Khasnya Masjid Nabawi adalah payung-payung yang ada di halamannya, yang terbuka setelah subuh dan menutup setelah ashar. Melihat payung ini terbuka adalah moment yang luar biasa.

the umbrella

Di Madinah.. disinilah pertama kali makan Albaik!! Nggak tau albaik? Go ask uncle Google :).
albaik

Tiga hari di Madinah, menjadi penanda bahwa perjalanan ini harus usai. Harus kembali ke tanah air untuk menumpuk pundi-pundi dan harapan supaya suatu hari nanti bisa ke Baitullah lagi.

Di hari pulang, saya benar-benar menangis. Banyak hal, diantaranya rasa nggak percaya bahwa saya bisa sampai ke Rumah Allah, rasa ingin lebih lama disana, rasa haru, bahagia, sedih yang nggak bisa diungkapkan dan menghasilkan air mata sepanjang perjalanan ke Bandara.

Doa sepanjang jalan, semoga dimudahkan untuk kembali lagi, dengan keluarga kecil saya, dan/atau keluarga besar saya. Semoga....




Dan semoga perjalanan ini menjadi tolok ukur kami untuk menjadikan kami sesorang yang lebih baik dari sebelumnya, lebih khusyu' sholatnya, lebih rajin ngajinya, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih sabar, lebih ikhlas, dan hablumminannas kami menjadi lebih baik. Inshaa Allah :)






the last..
Saya secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada Arfa Tours, Pak Slamet, Kak Hudy dan team yang telah membimbing kami, memudahkan urusan kami, membantu kami sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci, dan setelah sampai kembali ke Indonesia. Beribu-ribu terima kasih saya ucapkan semoga Arfa tour, pak Slamet, kak Hudy dan Team, senantiasa amanah, barokah, diberikan selalu kemudahan dalam setiap urusan, diberikan kesehatan dan sukses dunia akhirat. Semoga kita dipertemukan kembali di lain kesempatan. Semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berlimpah ruah kepada kita semua. God Bless You all  :)))))).










With love,
Meta.