Yang Sudah Dekat pun [Masih] Tak Bisa Menyatu

Haaaiiiiii *melambai-lambai dari ketinggian 900mdpl*

Sedah berapa lama sejak gue terakhir nulis? Banyak banget event blog yang udah gua lewatin sangking kesibukan dunia nyata nggak bisa diistirahatin.

Oh iya, Selamat Hari Blogger, untuk para penulis-penulis blog yang jatuh pada tanggal 27 Oktober yang lalu. Semoga semangatnya menulis tetap membara, nggak kayak gue yang kadang males, kadang males banget *digebuk*

Baik. Semoga dengan event hari blogger yang sebenernya udah lewat lama banget ini, gue, sebagai blogger abal-abal tetep bisa konsisten menulis *bersulang*.

Balik ke judul ah, kadang yang sudah dekat pun masih tak bisa menyatu. Eng.... jangan salah fokus deh, fokesnya agak dipindah dulu ke sisi timur Jawa, the sunrise of Java.

Yap! Banyuwangi.

Selama hampir 9 tahun aku punya akun twitter, sejak tahun lalu akun portal berita selalu dengan headline "Banyuwangi, Banyuwangi, Banyuwangi". Ada apose sama banyuwangi kok bisa se hits itu?

Kali ini gua dapet kesempatan berkunjung ke Banyuwangi dalam rangka, kerja.

Yaaaa apalagi kan kalo ndak kerja. Buruh kek gua ini gakan bisa jalan2 kecuali nabung dan nggak makan.

Tugas dinas kali ini membawa gue ke Gunung Raung. Pos Pengamatan Gunung Raung. Setelah 2 tahun ke belakang gua tugas ke Gunung Kelud dan Gunung Dempo.

Sebelum gue berangkat, gue berdebat sama kawan di kantor bahwa pos pengamatan Gunung Raung ini menjadi satu dengan pos pengamatan Gunung Ijen. Sementara pos pengamatan Gunung Ijen ini pernah dikunjungi oleh tim kearsipan Biro Umum di tahun 2013.

Pada kenyataannya, mereka dipisah. 




Pos pengamatan Gunung Ijen berada di Kampung Pangsungsari, Licin, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Sementara pos pengamatan Gunung Raung berada di Desa Sumber Arum Kec. Songgon, Banyuwangi. Padahal secara fisik kedua gunung ini berdekatan.

G. Raung dan Ijen via Google Maps
Gunung Raung dan Ijen via legrexadventure.blogspot.com
Berdasarkan penjelasan dari Pak Mukijo, beliau ini guanteng tapi anaknya dah TK, dulu sekali kedua gunung ini memiliki pos yang sama dengan kata lain, 2 gunung satu pos pengamatan seperti Sindoro Sumbing. Namun seiring berjalannya waktu kedua gunung ini memiliki ciri fisik yang berbeda sehingga visual Gunung Raung tidak dapat teramati dengan jelas jika pos tetap berada di kawasan Ijen. Oleh karena itu dibangunlah pos pengamatan Gunung Raung di Desa Sumber Arum ini. Berada di kaki G.Raung dengan ketinggian 900mdpl.

Suhu dan cuaca di pos pengamatan Gunung Raung (PPGA Raung) cenderung sama seperti waktu di Kelud, siang sekitar 27-28 derajat celcius sementara pada malam hari sekitar 20-21 derajat dan pagi hari 19 derajat.

Kondisi air jangan tanya lah yaa... Jernih dan layaknya es yang mencair. Ntap!

Jalur pendakian G.Raung berada di Kab. Bondowoso. Sekitar 6jam dari Banyuwangi. Para PGA pun harus ke Bondowoso jika akan ke puncak. Karena jalur selain dari Bondowoso memiliki medan yang berat, terdapat banyak jurang dan tak jarang pendaki harus merangkak. Pernah ada kejadian para pendaki tersesat sampai 3 minggu dalam event membuka jalur, namun karena jalur terlalu ekstrem, mereka gagal. 

Untuk sampai ke puncak dan turun lagi membutuhkan waktu 2 hari 1 malam, udah termasuk campingnya. Wow.. tertarik?

Ciri khas G.Raung adalah puncak sejati. Ingat ya Puncak Sejati itu punya Raung bukan Semeru. Orang kadang kebalik-balik. 

Pada tahun 2015, G.Raung batuk-batuk, yang mengakibatkan 5 bandara ditutup selama 2 hari kalo ndak salah. Bandara Bali, Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Lombok. Gilee bandara Bali aja di tutup gimana dah para pebisnis itu? Sail Bali kali ya. wkwkwkw

Pokoknya kunjungan ke gunung itu ndak pernah mengecewakan, ada aja yang bisa diceritain dan didengerin dari para pengamat-pengamat ini. Apalagi kalo gunungnya lagi batuk-batuk, pasti ada aja yang dateng ke Pos, sementara kalo gunungnya anteng yaaa siapa yang mau dateng? terakhir absen buku tamu aja april 2017. :)))))

Yah walaupun dibutuhinnya kalo pas darurat aja, yang pasti kaliyan terbaik, sudah menyelamatkan nyawa warga dan segala bentuk pengabdian ke masyarakat. Dan yang pasti udah icip-icip ke Hawaii. Duhhh envyyyyyy........





bersama para punggawa G.Raung

Formasi Satu Aja Nih!

Haiii... semalem bukaan cpns lagi guys.. 61 instansi pemerintah katanya..?

Gua jadi ke flashback 3 tahun lalu. Gimana riweuhnya milih intansi dan ngurus berkas-berkas pendaftaran dan belajar dan main.


Rasanya kek baru kemarin aja gitu kan, taunya udah 3 tahun yang lalu.



---

Gua mau cerita ya guys, boleh yaa... ehe.

Pendaftaran CPNS kali ini sepertinya sedikit berbeda dari 3 tahun yang lalu. Kalo dulu, pilihan semua jurusan ada banyak. Banget. 1 jabatan bisa dengan kualifikasi pendidikan apa saja. All major.


Tapi sekarang, setelah gua ikut uforia pembukaan cpns, kayaknya all major ditiadakan. Semua jabatan menyebutkan kualifikasi pendidikan yang jelas. Misal, arsiparis hanya bisa diisi oleh mereka yang memiliki ijazah DIII Kearsipan atau S1 Kearsipan. Kalo dulu, ada instansi yang memilih kualifikasi pendidikan semua jurusan.


Tahun ini, jumlah formasi yang dibutuhkan juga lebih sedikit, masing-masing jabatan paling 1 atau 2 orang.


Ini, yang menjadi momok mengerikan buat sebagian orang. Kawan-kawan yang bertanya ke gue, mereka lebih ke pesimis karena formasi kebutuhan yang cuma.... satu.


Please, jangan menyerah.


Jangan merasa kalah sebelum berperang.




Sini ikut gue yuk, kita ngopi, gue mau cerita sesuatu.



Waktu gue masuk cpns dulu, pun sama kek kalian, bingung. Tapi alhamdulillah bingungnya gue karena memilih Kemenkeu atau Kementerian ESDM.


Saingan? Nah.. sempet sih takut mendaftar Kemenkeu karena.... saingan. ehe. nggak munafik kalo, gue mencoret Kemenkeu karena saingan. Jadi dulu ada temen gue yang cumlaude dan dia rajin bener belajarnya terus berhasil bikin gua mundur dari Kemenkeu.



Tapi you know what? Dia nggak keterima.



Lalu, begitu gua fiks milih Kementerian ESDM, gue sempet bingung milih unit. Karena waktu itu yang membuka arsiparis nggak cuma 1 unit. Lagi-lagi.. gua mikirin saingan. Semakin banyak formasi yang dibutuhkan, semakin banyak saingannya.



Waktu itu paling banyak formasi di Biro Umum, 6 orang. Selain itu masing-masing 1 orang. Kebayang ngga saingannya kayak apa?


Tapi, unit yang formasi 1 orang itu, pendaftarnya juga cuma 1, malah waktu pendaftaran sempet diperpanjang karena ngga ada yang daftar. 


Padahal biro itu super keren di ESDM (ini gue tau setelah gue keterima dan kerja disini).


Yang formasi 6 orang ini, yang daftar berapa? 20 orang, bray! Iya sih cuma 20, tapi kaka tingkat semuwa. Minder ngga? Sempet. 1:3 orang. Satu orang harus ngalahin 3 orang lainnya.



Begitu hari H TKD. Jeng jeng jeng....



I got 2nd place in archival team!! Artinya, gua, anak lulus 2 bulan yang lalu bisa ngalahin kaka tingkat yg lulusnya 2 tahun yang lalu.



Jadi, gua mau bilang ke kaliyan semua yang mau daftar CPNS. Jangan nyerah, jangan perduliin saingan. Please, do your best. Kalo lo udah berusaha, lo udah siap, dan yeaaa lo yakin lo mampu, saingan ratusan juta orang pun lo pasti bisa hadapin.








Inget, lo itu kan sel sperma yg paling kuat, bukan begitu?
Posted on September 06, 2017 | Categories:

Bekerja Bersama untuk #UbahJakarta

Jakarta. Siapa yang tidak mengenal Ibukota Negara Indonesia? Semua pasti tau. Jakarta dengan segala ke-ruwetannya, terutama macet.

Setiap tahun warga Jakarta bertambah. Setiap usai perayaan hari besar agama atau liburan panjang, biasanya para perantauan ini membawa serta keluarga, sanak saudara, atau kawannya untuk bersama-sama mengadu nasib di Kota Jakarta. Tak ayal, ratusan hingga ribuan warga Jakarta berebut tempat, berebut jalanan di Jakarta yang tak mungkin bertambah lebar.


jakarta di jam pulang kantor

Setiap hari, warga Jakarta harus menghabiskan barang 1-2 jam di jalanan hanya untuk menempuh jarak tak lebih dari 10 kilometer. Hingga tagline "tua di jalan" tersemat bagi warga Jakarta.

Transportasi umum yang diharapkan dapat mengurai kemacetan pun sepertinya tak dapat membantu banyak. Macet tetap macet. Sepertinya warga Jakarta kurang tertarik dengan transportasi massal di Jakarta. Selain kurang aman, tak sedikit fasilitas transportasi massal tersebut tak memadai sehingga masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Padahal kenyataannya kendaraan pribadi lebih banyak menyita jalanan daripada transportasi umum. Apalagi jika hanya dikendarai satu atau dua orang. 

Transjakarta yang digadang-gadang mampu mengurai kemacetan pun sepertinya tidak berbuah manis. Jakarta tetap macet. 

Hingga, perencanaan demi perencanaan dilontarkan. Inovasi demi Inovasi dikembangkan demi Jakarta bebas macet. Transportasi umum yang diremajakan, KRL yang ditambah jumlah gerbong dan penambahan jalur dan perpanjangan jalur hingga ke Cikarang, hingga transportasi cepat MRT Jakarta.

MRT atau Mass Rapid Transit, adalah transportasi cepat yang sedang dibangun di Jakarta. MRT ini sudah mulai dibangun pada Oktober 2013 dan rencana selesai pembangunan pada tahun 2018. 


pembangunan MRT di dekat bundaran HI

MRT Jakarta ini rencananya akan dibangun sepanjang kurang lebih 110,8 kilometer yang terdiri dari koridor selatan-utara yang membentang dari Lebak Bulus hingga Kampung Bandan sepanjang 23,8 kilometer, dan koridor timur-barat sepanjang kurang lebih 87 kilometer.


jalur bawah tanah MRT Jakarta


Dalam satu kali perjalanan MRT Jakarta mampu menampung 1.950 penumpang, dan dalam satu hari target penumpang hingga 173.000 penumpang.

Hingga hari ini progress pembangunan MRT sudah mencapai 78%. Biaya yang membengkak dikarenakan terjadi perubahan standar gempa menjadi kendala pembangunan transportasi baru yang dinantikan warga Jakarta ini.


Jalur MRT ini dibangun dalam 2 jalur, jalur layang dan jalur bawah tanah. Sehingga besar harapan MRT Jakarta ini akan mengurai kemacetan Jakarta yang semakin hari semakin tidak dapat ditolerir.


Jalur MRT


Selama pembangunan MRT Jakarta, ruas jalan sudirman hingga thamrin mengalami penyempitan sehingga kemacetan tak dapat dihindarkan dan tak dapat diprediksi. Sejak memulai pembangunannya, saya merasakan bagaimana macetnya ruas Sudirman hingga Thamrin, macet yang tidak dapat diprediksi membuat diri rasanya mau menyerah menghadapi kerasnya Jakarta. Namun inilah bentuk #KerjaBersama masyarakat Jakarta, untuk Jakarta yang lebih baik kami rela bersusah payah menembus kemacetan demi Jakarta yang lebih baik. Kami khususnya saya menancapkan prinsip bahwa tidak apa-apa Jakarta saat ini macet namun kedepannya Jakarta tak lagi macet. Memang harus ada pengorbanan untuk sesuatu yang lebih baik. Walaupun kami warga biasa, tidak dapat terjun langsung dalam pembangunan setidaknya rela bermacet ria ditengah pembangunan fasilitas umum adalah bentuk #KerjaBersama untuk #UbahJakarta menjadi lebih baik.


Kami (saya) warga Jakarta yang lebih mengandalkan transportasi umum, menggantungkan harapan besar kepada MRT ini, tinggal di pinggiran kota Jakarta tak ayal membuat jiwa kadang tak mampu menahan emosi, dengan adanya MRT Jakarta harapannya masyarakat dapat menggunakan layanan transportasi ini dan meninggalkan kendaraan pribadi. Apalagi stasiun-stasiun transit MRT ini terhubung dengan transportasi lainnya seperti, transjakarta dan KRL. Semakin mudah kan dalam bepergian? Kalau ada layanan trasnportasi yang bebas macet kenapa harus menggunakan kendaraan pribadi yang membuat stress di jalanan?



MRT Jakarta







(Source pict by google.com dengan keyword MRT Jakarta)

Bikin Paspor, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, gue bikin paspor nih guys. Nah, gue mau share dikit langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membuat paspor. Ini sih waktu bulan Juli lalu ya, nampaknya sekarang bikin pasport udah bisa online dan sepertinya untuk ambil antrian pun via online. Kalo dulu gue antri per urutan datang.

Nah, gue dapet antrian lumayan belakang nih padahal gue dateng jam..... 8.

BTW, gue bikinnya di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta.

Sebenernya gue bikin passpor buat umroh. Nah sedikit perbedaan paspor umroh ini diharuskan nama pemohon terdiri dari 3 suku kata (atau emang paspor pada umumnya itu mengandung nama dengan 3 suku kata, gue kurang paham juga).

Awal mendaftar umroh itu disarankan dari pengelola travel untuk memohon paspor biasa, karena nama aku udah 3 suku kata, jadi nggak perlu pake surat rekomendasi. 

Okay, dengan santainya gue dateng ke Imigrasi.. Ditanyalah saya, 

"mbak buat paspor apa?"
"Umroh pak."
"udah bawa surat rekomendasi dari travelnya?"
"......belum pak."
"nggak bisa, kalo umroh harus ada surat rekomendasi, kalo nggak nanti ditahan di imigrasi"
"......."

Dengan keadaan bingung linglung, gue ngeriwehin sana sini gimana solusi, soalnya travel di jakarta jadi nggak mungkin nyusulin surat rekomendasi saat itu juga.

Akhirnya dari travel ngasih tau kalo bisa dengan paspor umum, artinya di surat permohonan pembuatan paspor baru, ditulis traveling. Hmmm.... semoga aman, dan semoga bisa traveling juga keliling duniyaa.. aamiin.

Oke problem solved. 

Pembuatan paspor ini membutuhkan waktu 5 hari kerja, artinya hanya dilayani pada hari kerja. Selain itu, libur.

Dokumen yang dibawa apa aja sih untuk bikin paspor?

Nah ini yang penting.

Jadi dokumen yang dibawa adalah:
1. KTP (asli dan FC)
2. KK (asli dan FC)
3. Akta kelahiran (asli dan FC)
4. Ijasah (asli dan FC)

Dokumen diatas untuk yang masih single ya... kayak gue.

Kalau ada anak yang akan ikut bepergian sertakan buku nikah orangtua, dan paspor orangtua.

Dan jikalau tidak memiliki akta kelahiran bisa menggunakan ijazah SD hingga SMA.

Jika yang sudah menikah, sertakan buku nikah.

Jangan lupa bawa materai, karena di Imigrasi nanti kita mengisi surat pernyataan.

Kalau lupa nggak bawa materai ada pojok fotokopi di basement Kantor Imigrasi Yogyakarta. Heeeee....

Lanjut cerita, setelah antri dan memastikan dokumen lengkap pastikan pula bawa yang asli. Nggak kok ngga ditahan, cuma di cek aja, abis itu yang asli dibawa pulang, yg FC ditinggal.

Kemudian dipanggil masuk untuk pengecekan kelengkapan dokumen oleh petugas imigrasi, disini kita dikasih formulir permohonan paspor, surat pernyataan belum pernah membuat paspor sebelumnya, dan nomor antrian.

Setelah mengisi formulir, kita menunggu antrian. Waktu itu gue dapet nomor antrian 77. Heeee....

Sekitar 3 jam menunggu, dipanggillah nomor 77, di dalam ruang pembuatan paspor ada 5 loket. Disana kita di cek datanya lagi, naaah sedikit perbedaan mungkin buat gue karena gue PNS, ditanyain SK-nya dong. Yaaaa mana ku tau kalo harus bawa SK kan? dan waktu ambil paspornya gue disuruh sekalian ngelengkapin FC SK PNS. Huaaa.... kawan-kawan PNS suruh ngumpulin SK ngga waktu bikin paspor?

Waktu ngadep petugas imigrasi, kita ditanya juga mau bikin paspor yang apa? Gue bilang yang 48 halaman.

Setelah kelengkapan data udah di cek, dokumen yang asli udah dikembalikan ke kita, kita suruh duduk lagi nih, nunggu lagi untuk foto.

Nunggunya ngga terlalu lama, paling habis 2 lagu. Hweee....

Nah dipanggil lah foto, dan sidik jari semua jari. 

Sambil ngobrol-ngobrol sama petugasnya yang statusnya sama kek gue. PNS.

Gue: Pak kalo di Imigrasi, gaji pusat dong?
PI : Iya dong mbak. mbaknya pns juga?
Gue: Iya pak. di ESDM.
PI: ESDM ngga ada yangg di Jogja?
Gue: ada pak. di BPPTKG. yang ngamatin gunung merapi.
PI: nah minta pindah situ aja... sudah nikah belum?
Gue: ...........


Dimana-mana ya, yang ditanyain nikah apa belum? Zzzzz

Oke setelah sesi foto selesai kita dikasih surat pengambilan paspor dan struk pembayaran yang bisa dibayarin di all bank kayaknya dan kantor pos. Setelah bayar nunggu deh 5 hari kerja dihitung setelah hari kita bayar.


Berapa sih biaya bikin paspornya?

Jenis PasporKeteranganTarif
Paspor BiasaBuku 48 halaman untuk WNI/orangRp.300,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.600,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.300,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman untuk WNI/orangRp.100,000
Paspor BiasaBuku 24 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.200,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.100,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI PeroranganRp.50,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI dua orangRp.100,000
Paspor BiasaJasa penggunaan teknologi sistem penerbitan paspor berbasis biometrikRp.55,000


Bedanya yang 24 halaman dan 48 apa sih?

Kalau dari hasil 'katanya' dan modal googling yang 24 halaman itu untuk TKI/TKW dan negara yang bisa dikunjungi terbatas. But CMIIW yaa kalo gue salah..

Dan kalau untuk yang 48 halaman itu paspor umum dan bisa digunakan untuk ke semua negara.

CMIIW.


Untuk pengambilan paspor, di jam 13-16 ya...


Setelah menunggu 5 hari....



Jeng jeeeeeengg....


Lets go travel around the world hunn...



Lupa Bersyukur

"Ting ting ting....."


Terdengar suara mangkok dipukul dengan sendok. Aku yang sedang sibuk memainkan handphone pun menengadah. Sejenak melihat bapak-bapak paruh baya menarik gerobak bakso yang dagangannya nyaris utuh. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 14.30.

Aku hanya menatapnya. Memperhatikan beliau yang tampak enjoy menarik gerobak alih-alih mendorongnya. Beliau menyapaku, "Bakso neng...?" Aku menggeleng, sambil lirih ku bilang tidak. Dada terasa panas dan sesak. 

Bukan apa-apa, aku sedang puasa. Tapi kalau sedang tidak puasa pun saya sering mengabaikan mereka.

Beberapa meter, seorang bapak sol sepatu melintas. Dengan pakaian lusuh beliau menggendong kotak tempat sol sepatu dipundaknya. Nampak tak berat namun terlihat beliau kecapaian. Ditengah teriknya matahari yang beberapa hari ini bersinar agak tak seperti biasanya, beliau yang tak lagi muda ini masih semangat untuk menjajakan jasanya. Beliau-beliau inilah para pejuang kerasnya Jakarta yang sebenarnya, mengadu nasib berharap sukses seperti orang lain.

Mungkin takdir berkata lain. Mereka masih harus berjuang untuk mengisi perut anak istri mereka.

---

Sementara saya, duduk manis dibawah pohon menunggu seporsi tahu gejrot sambil scroll-scroll instagram. Saya yang kadang mengeluh jika harus tidur larut malam. Saya yang masih bisa menikmati tidur di kamar hotel bintang lima gratis. Saya yang kalau bepergian jarang kehujanan.

Saya yang masih sering mengeluh dengan rezeki yang sudah di depan mata. Tanpa saya minta, tanpa saya sebutkan. Tuhan memberikan dengan cuma-cuma, yang kadang saya lupa untuk bersyukur.


Selepas sampai rumah. Saya menitikkan airmata. Dada terasa sesak, mengingat pemandangan siang tadi. Orang kadang lupa untuk sekedar berterima kasih. Berterima kasih kepada yang Maha Memberi. Orang kadang terlalu melihat keatas, lupa untuk melihat kebawah.

Menurut kita, yang notabene manusia biasa, hidup memang tak adil, ada orang yang berjuang mati-matian untuk sesuap nasi hari ini, ada yang tajir melintir hasil kerja orang tua atau menikah dengan pengusaha super kaya. 


Akhirnya hari ini saya habiskan dengan bersyukur sebanyak-banyaknya karena saya bekerja tak perlu berpanas-panas ria, pulang kerja ada rumah yang cukup nyaman. Terlebih, ada seseorang yang dengan setia mendengarkan keluh kesah saya.

Mungkin orang-orang di jalanan tadi adalah pengingat kita untuk tetap bersyukur atas apa yang sudah kita capai, meskipun godaan cemburu begitu besar kepada mereka yang memiliki lebih tak dapat dipungkiri.


Namun banyak cara untuk bersyukur, Tuhan memberikan banyak hal yang bisa kita syukuri dengan berlebih. 



Posted on August 29, 2017 | Categories:

Jogja, Dulu dan Kini


Tinggal di Kota Yogyakarta adalah suatu ketidaksengajaan bagi saya. Kehendak Tuhanlah yang membawa saya menetap di Yogyakarta selama 3,5 tahun.

Selama 3,5 tahun, Yogya benar-benar membuat saya jatuh cinta. Kepada keramahan warganya, kepada suasananya, kepada adat istiadat, dan kepada setiap sudut kotanya.

Yogya mengajarkan saya arti syukur dan ikhlas. 6 tahun yang lalu, ego seorang anak lulusan SMA ngehe menginginkan Ibukota menjadi tujuannya menuntut ilmu. Namun, takdir Tuhan memaksanya bertahan di Kota Pelajar, Yogyakarta.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." [Q.S. Al-Baqarah 2: 216]

Petikan ayat diatas sungguhlah sahih. Saya mengalami dan Yogya adalah bagian dari proses saya mengerti arti ikhlas.

Sepanjang 3,5 tahun saya menimba ilmu di Yogya, ternyata tak cukup untuk mengeksplorasi seluruh tempat yang menarik di Yogya. Dan seiring berkembangnya jaman, kini Yogya mulai berbenah.

Dari kawasan malioboro yang dulu kanan-kirinya penuh kendaraan bermotor, kini fokus sebagai area pedestrian.

Malioboro kini
(source: bintang.com)
Dilengkapi dengan bangku-bangku cantik, semoga malioboro kini dapat menarik minat pengunjung, dan mereka tetap menjaga malioboro tetap cantik.

0 kilometer yang kini cantk juga, padahal dulu, samping kiri kanan jalan penuh dengan parkiran motor..
Isunya, sepanjang jalan malioboro akan steril dari kendaraan bermotor, artinya kawasan ini akan menjadi pusat pedestrian. Semoga saja tidak hanya menjadi wacana.

0 kilometer Yogyakarta
(source: brilio.net)
Yogya kini banyak tempat wisata, padahal ketika saya menetap di Jogja tempat wisata hanyalah Parangtritis, pantai di kawasan Gunung Kidul, dan Kaliurang.  Bahkan, Hutan Pinus Imogiri tak se-hits saat ini.

Hutan Pinus Imogiri Tahun 2013
(sumber: dokumen pribadi)

Jogja dengan segala adat budayanya, upacara pernikahan GKR Bendara menyambut tahun pertama saya menetap di Jogja dengan kirab dan meriahnya adat Keraton Jogja. Angkringan gratisan sepanjang Malioboro juga kami (para mahasiswa) menambah semangat kami menyaksikan upacara adat ini.

Kirab Pernikahan GKR Bendara
(source: Viva)
Selain pernikahan GKR Bendara, kesempatan untuk hadir di tengah-tengah peringatan HUT Kabupaten Sleman turut membuat saya kagum dengan semangat para warga Sleman untuk tetap bertahan dalam formasi meskipun hujan mengguyur.

Tetap semangat !
Jogja adalah kota sejarah. Banyak kejadian bersejarah yang terekam dalam bingkai-bingkai foto dan replika dalam museum Jogja Kembali. Selain adat istiadat yang kental, pengetahuan sejarah juga akan menambah wawasan dan menambah rasa kecintaanmu terhadap kota Yogyakarta.

koleksi Museum Jogja Kembali
(source: tempat.co.id)


Keindahan candi-candi yang masih berdiri kokoh pun menambah suasana bersejarah kota Jogja, dan berburu sunset adalah kegiatan yang sangat dinantikan di Candi Ratu Boko.

Tempat favorit berburu sunset
(source: dokumen pribadi)

Tak hanya tempat tertentu yang dapat digunakan untuk mencari spot foto, di tepian jembatan sayidan, hingga bantaran kali code yang kini jadi kampung warna-warni pun dapat dijadikan sasaran bidikan para pecinta fotografi.


Jembatan Sayidan
(source: mapio.net)
Kampung Warna-Warni di Bantaran Kali Code
(smetami.ba)

Terakhir, icon kota Jogja, Tugu Pal Putih. Belum ke Jogja kalau belum foto di Tugu Pal Putih, katanya. Tugu Pal Putih, dulu tak secantik sekarang. Sisi-sisinya hanya dilapisi paving tanpa pembatas antara jalanan di sekelilingnya. 

Sekarang, di sekitar Tugu Pal Putih terdapat taman mini yang menambah keanggunan Tugu serta memberikan batas antara Tugu dengan jalan dan pembatas antara pengunjung Tugu supaya tidak langsung menyentuh Tugu. 

Saat ini pun, perawatan Tugu menjadi dipersering supaya kecantikan Tugu Pal Putih tetap terjaga.

Tugu Pal Putih
(source: GNFI.id)


Jogja dulu, jogja sekarang tidak jauh berbeda, tetap mempesona, tetap dirindukan bagi mereka yang merasakan kedamaian akan kota dan suasananya.

Urusan perut pun semua orang akan dimanjakannnya, mulai dari makanan khas -gudeg-, makanan pinggir jalan -angkringan-, hingga makanan western akan memanjakan lidah para pemburu kuliner.

cafe tiga ceret
(source: qraved.net)

Harga makanan yang cukup memanjakan dompet pun semakin membahagiakan mereka, kaum-kaum backpacker dan kaum-kaum perantauan.


Masih banyak sudut kota Jogja yang perlu dikunjungi, dinikmati, serta dilestarikan. Bertahun-tahun lamanya, mengorek setiap sudut jogja tak akan ada kata puas. Hingga hari ini, Jogja masih menjadi kota yang saya rindukan, karena separuh hati saya masih tertinggal di Jantung Kotanya, Yogyakarta.



Meskipun tak lama menempati kotanya, Jogja mengajari saya berbagai hal, hingga saya merasa Menjadi Jogja Menjadi Indonesia.







with love,
meta.

Masih Kuat Sama Jarak?

"nih pesananmu." kataku sambil menaruh green tea latte pesanan Ranu. Aku duduk disampingnya sambil menikmati segelas caramel machiatto ukuran grande. "thanks, ta. lo pesan apa?"tanyanya kemudian seraya menyeruput minumannya.

"machiatto lah. lo kayak baru kenal gue kemarin aja."lanjutku.

Ranu diam saja. Dia terlihat bingung. Berkali-kali dia mengecek jam di tangannya.

"kuat ya lo, ama jarak yang segini jauh?" kataku membuka percakapan dengan Ranu yang daritadi gelisah. "Jarak menjadi masalah ketika lo meragukan kepercayaan ta." katanya sambil menatap mataku lekat-lekat kemudian mengelus kepalaku.

aku diam, menyalakan rokok. kami memilih tempat duduk di ujung ruangan smoking area starbucks stasiun gambir, karena selain hobby kami merokok, ruangan dibawah juga sudah penuh oleh pengunjung yang entah menunggu kereta atau sekedar menuggu kerabat.

Aku dan ranu. berteman sejak kami duduk di bangku smp. semua tingkah polahnya aku sudah kenal. kebaikan dan keburukannya sudah bukan menjadi pr lagi, melainkan sudah hafal di luar kepala. aku menyayanginya. aku menyayangi pria yang mengenakan jam daniel wellington pemberianku di hari ulang tahunnya tahun lalu. jam yang kubeli dengan tabunganku sendiri.

"bentar ya ta." ranu pamit keluar starbuck, kulihat dia menghampiri petugas stasiun, memandang layar lcd dan melihat jam lagi. dia tampak gelisah. berkali-kali juga ia mengecek layar ponselnya, namun tak lama ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

tak berapa lama, ranu kembali ke tempat duduknya. "lo kapan berenti rokok sih ta." sambil meraih rokokku. ku pikir akan dibuang, ternyata dihisapnya juga.

"lo yang ngajarin gue rokok, lo duluan kapan mau berenti."

ranu tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. ranu memang selalu begitu.

"jadi, udah mulai terbiasa sekarang?"

"dibiasain lah ta. toh masih bisa telfon, atau facetime. chat juga kan tiap hari."

"nggak pengen ketemu gitu."

ranu tak menjawab. dia menghabiskan rokoknya -yang sebelumnya rokokku- sebelum membuangnya di asbak yang sudah tersedia di meja cafe.

"gimana pendapatmu tentang jarak?"lanjut ranu.

"gue hampir nggak percaya jarak bisa mempertahankan sebuah hubungan, nu. tapi gue percaya lo bisa mematahkan kepercayaan gue. apa sih yang lo tunggu.? tinggal selesein skripsi, terus nikah. itu kan nggak lama. selesai kan?"

"seandainya semudah yang lo bilang, ta."

"kenapa jadi lo yang nggak yakin? buktiin kalo kepercayaan, bisa mematahkan jarak ratusan kilometer." kataku sambil memegang tangannya erat. meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

beginilah aku dan ranu, saling menguatkan dan saling meyakinkan. dia selalu telefon tiap malam, selalu ada ketika aku butuhkan. 

aku menyeruput kembali machiatto pesananku, di waktu yang sama terdengar pengumuman dari stasiun besar di Jakarta ini. ranu buru-buru menghabiskan green teanya dan memasukkan kembali rokok sebelum dia sempat menghisapnya.


ranu mengalihkan pandangan, tampak mencari-cari sesuatu.

dari kejauhan, ku lihat sesosok perempuan dengan perawakan nyaris sempurna, tinggi, langsing, dengan rambut tergerai indah, rapi, tak menampakkan sisi berantakan, meskipun baru saja menempuh perjalanan 12 jam.

"hai... lama menuggu? maaf ya agak nggak sesuai jadwal dikit." sambut perempuan itu sambil memeluk dan mencium Ranu.

"Hai.. kabar baik Ta?" Perempuan ini langsung menyambutku dengan pelukan dan mendaratkan pipinya di pipiku begitu melihatku.

"Baik, Sya.. Kamu? Bahagia bener keknya?" jawabku.

Perempuan bernama marsya ini hanya tersenyum.

"yuk.." Ajak Ranu sambil menyambar koper marsya. Marsya mengikuti ranu dengan menggandeng tangannya.


Aku sedikit memberikan jarak diantara keduanya. Terlihat asyik mengobrol dan tertawa bersama, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.



"Seandainya semua berjalan sesuai apa yang gue mau.. Tapi persahabatan kita lebih berharga dari sekedar apa yang gue inginkan, Nu.."


Dengan sedikit berlari kususul mereka yang mulai menjauh..


"Gue tau, lo bahagia sama marsya."
Posted on July 24, 2017 | Categories: